Senin, 05 Desember 2011

Second Chance?

Something...

Kemarin. Kita baik-baik saja. Kemarin kita kangen-kangenan. Kemarin tak ada airmata, yang ada senyum bahagia. Tapi sekarang? Apa yang terjadi? Bisakah kupercayai dirimu lagi? Bisa? Akupun tak tahu. Kala sang mentari berada diatas kepala. Sinarnya lumayan pekat. Ketika aku berada dihadapkan dengan setumpuk tugas pekerjaan. Kala sebuah benda bergetar, dan kubela-belakan mengangkatnya ditengah kesibukanku. Kuharap berita baik. Namun aku salah. Bagai besi berjuta ton menghantam kepalaku. Berat. Sekaligus jarum-jarum kecil yang sangat banyak tak henti-hetinya menusuk hatiku. Sakit. Bercampur menjadi satu mendatangkan rasa galau.
Klise. Orang ketiga. Ah! Bukan tak Cuma orang ketiga. Mungkin kelima? Atau mungkin ada yang lain tak ku ketahui. Mendengar itu. Jujur, aku langsung down. Patah semangat. Setumpuk pekerjaan itu kutinggalkan. Sebenarnya bukan sengaja kutinggalkan. Tapi sumpah! Sudah kucoba kerjakan tapi aku tak bisa. Beberapa kalimat yang baru diucapkan sahabatku membuat aku ingin mengubah konsep yang sudah kurancangkan sebelumnya. Itu selalu terngiang dikepalaku. Tega. Sangat tega. Padahal baru beberapa menit sebelumnya, aku baru mengirimkanmu sebuah pesan singkat walau hanya sebatas “Jangan lupa makan siang sayang :)”. Kuharap itu berarti, tapi sepertinya tidak lagi.
Pikiranku melayang-layang mengingat perkataanmu dulu. “Berjanjilah padaku tak akan pernah ada airmata lagi setelah kau tangisi dia.” Katanya setelah mendengarkan cerita tentang mantanku. “Karena aku tak ingin melihatmu menangis lagi.” Ingin kutagih janjimu itu! Karena aku yakin setelah ini tangisan tak hanya sekali tapi pasti berkali-kali akan terjadi dan itu karenamu! Seseorang yang tak ingin melihat aku menangis lagi! “Aku datang kemari sebelumnya sudah berjanji pada Tuhan, bahwa aku takkan mengulangi kesuramanku dimasa lalu, aku bukan berjanji pada manusia. Tapi pada Tuhan.” What about this? Kau telah berdosa pada Tuhan. Segeralah minta ampun. Kau bisa membohongiku karena aku hanya manusia. Tapi Tuhan, takkan bisa. “Aku takkan bisa sayang orang lain selain kamu lagi.” Itukah? Itukah? Itukah? Kalau sayang kenapa semua ini bisa terjadi? Atau itu hanya sebuah kata tak bermakna?. Atau kurangkah kata sayang yang kau ucapkan sebagai pengganti namaku? Yang kau ucapkan lebih dari 7 kali dalam sehari. Tak bermaknakah itu semua?. Atau terlalu bodohkah aku mempercayaimu?. Aku pusing.
Sudahkah kau tahu perjuanganku mempertahankan semuanya itu? Oke jika belum akan kuberitahu. Kau tahu ibuku? Kau biasa bertegur sapa dengannya lewat pesan singkat disebuah situs jejaring sosial. Tahukah kamu ibuku awalnya tak menyukai hubungan kita? Apalagi hubungan jarak jauh seperti ini. Itu tak kuberitahu padamu, karena aku takut membebankan pikiranmu. Cukup aku saja!. Berbulan-bulan aku meyakinkannya, berusaha. Sampai lampu merah itu berubah kuning. Ibuku mulai sportif menanggapi hubungan kita. Kau tahu sebenarnya aku tak diijinkannya pulang bulan Desember. Ketika tahu kau disana. Tapi usaha itu berbuah, dia mengizinkanku tapi dengan satu syarat segala keperluan kami ‘sekeluarga’ disana, aku yang tanggung. Artinya, itu akan sangat menguras kantongku. Aku mengiyakannya. Belakangan ini lampu kuning itu akan berubah lampu hijau ketika kau mulai berani memasuki dunia keluargaku. Tapi!!! Belum sempat berubah hijau, pengkhianatan itu dengan indahnya terjadi, aku memang belum menceritakan ini kepada siapa-siapa kecuali, sahabatku. Huh! Tak tahu lagi.
Bulan Desember itu tiba. Baru melangkahkan kakinya pada hari yang ketiga. Sebuah gelagat aneh tercium. Aku tak tahu, aku yang salah atau kamu. Yang pasti itu mengoyakan sebuah kepercayaan. Saking berat dan sakit. Aku sengaja Lost contact setelah pesan singkatku yang terakhir mengingatkanmu. Kukira kau takkan mencariku. Toh masih banyak yang lain. Iya kan? Benda itu bergetar lagi. Itu darimu. Sengaja kuhiraukan. Pada awalnya. Namun kemudian, aku benar-benar sibuk. Ketika harus mengisi suara pada sebuah acara menjelang natal. Aku tak bisa menggenggam lagi benda yang biasanya selalu bersamaku itu. Bertubi-tubi pesan singkat darimu masuk. Tak kubalas jua. Maaf.
Lelah. Belum sempat meluruskan tubuh ini. Benda itu bergetar lagi. Bisa kutebak darimu. Kuabaikan lagi dan berusaha kusibukan diri ini. Tak beberapa lama kemudian teman lamaku meneleponku. Bisa kutebak itu suruhanmu. Pasti misscall. Aku mengangkatnya. Dimatikan. Aku tersenyum lalu menghitung dalam hati... 1... 2... 3... Yap, tepat dihitungan ketiga benda itu bergetar lagi. Panggilan darimu. Sengaja ku ulur waktu, biasanya jika kau meneleponku. Tak hitung dua kali getar aku pasti mengankatnya. Kini. Sudah berkali-kali bergetar. Kulangkahkan kakiku menuju ruang tamu, lalu tiduran disofa kemudian kuangkat telepon darimu. Sebenarnya berat untuk mengangkatnya. Tapi, kupikir harus kuselesaikan malam ini juga. “Kenapa jadi begini?” Tanyamu. What? Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Jawabanku satu “Tak tahu.” Itu terus yang kuulangi ketika kau bertanya-tanya. Sampai kau berkata “Kalau ada masalah cerita.” Masalah? Kupikir sangat banyak. “Masalah?? Oh tentu saja banyak.” “Masalah apa?” Tanyamu lagi. “Masalah saking banyaknya tak bisa dijelaskan satu persatu.” Kataku lagi. “Masalah antara siapa?”. “Antara kita semua”. “Kita semua itu siapa?” tanyamu. “Kita berdua... dan banyak orang lagi...”. “Siapa? Bilang saja.” Katamu. Aku tak tau mau bilang apalagi, sampai sebuah kata terlontar dari mulutku “Berbohong, padaku berapa kali?.” Tanyaku. “Sepuluh kali...” Jawabmu yang kurasakan hanya sebuah guyonan. Aku serius. “Tak sepuluh, tapi lebih...” Kau terdiam, aku tak tahu mungkin kau mulai menyadari inti pembicaraanku. “Aku tahu semuanya, jangan berbohong lagi, orang itu langsung memberitahuku.” Kataku. “Siapa?” Tanyamu penasaran. Aku tak memberitahumu. Karena kurasa kaulah yang tahu semua jawabannya. Kau hanya mengulang siapa? siapa? dan siapa? Sampai panggilanmu berakhir. Kau menyuruhmu untuk menghubungimu lagi. Tapi, kurasa aku harus menyiapkan mental dulu. Pesan singkatmu masuk. “Aku sudah mengantuk.” Pesan singkat pertama karena aku tak kunjung menghubungimu. “Aku tidur dulu yah.” Pesan singkatmu yang kedua aku tak kunjung juga menghubungimu. Kutunggu pesan ketigamu. Kuyakin kau belum tidur. Aku mengenalmu. Aku tahu kamu. Bergetar lagi. Aku yakin darimu. Setelah kubuka dan kubaca benar darimu aku tersenyum membaca pesan singkat itu. “Aku mengaku selingkuh, aku berbohong padamu. Aku sudah bilang semua yang sayang ingin dengar kan? Mungkin kata maaf tidak berlaku dalam hal ini tapi, Cuma kata itu yang bisaku katakan. Maaf. Aku sayang kamu.” Akhirnya kau mengaku juga. Terima kasih. “Cukup tahu. Terima Kasih.” Itu balasanku. Terdengar kejam memang tapi siapa yang lebih kejam?. Sungguh setelah itu, aku tak tenang. Dan tak bisa tidur. Sudah kucoba tapi tak bisa. Akhirnya dalam keadaan tak tenang aku mengirim pesan singkat untukmu. “Aku tak bisa tidur karena pengakuanmu itu, hmm. Aku sangat-sangat kecewa. I know that, ‘womanizer’ can’t change, but I trust in you :) and you broke me biar hanya aku yang tahu. If you love me, you’ll never do that!!! But, Ya sudah, sudah terjadi.” Masih tak tenang kutambah mengirim lagi. “Masalahnya aku tahu ini semua sebelum pengakuanmu. Aku harus usaha mencari tahu dulu, kalau aku tak turun tangan langsung. Mungkin tak akan ketahuan. Dan tak tahu sampai kapan hubungan kita diatas ‘kebohongan’. Sekarang siapa yang berubah? Maaf. Kalau buatmu tersiksa pacaran jarak jauh karena Kurang Perhatian.” Setelah mengirim itu aku tertidur pulas.

“Maaf, semalam aku ketiduran. Aku terima semua keputusanmu. Tapi satu hal lagi, kalau ada satu cara yang bisa buat kita baik-baik saja aku pasti lakukan. Maaf sekali, aku mungkin hanya manusia biasa yang tak sempurna dimatamu, tapi aku sayang kamu.” Pesan singkat itu, masuk begitu mentari menampakan sinarnya yang menghangatkan. Membuat hari ini tak akan sehangat sinar mentari. De Ja Vu. ‘aku mungkin hanya manusia biasa’ alasan itu pernah kupakai ketika aku berbuat salah hanya kecil. Tapi katamu “Alasan yang sering dipake orang. Yah kalau sudah begitu mau diapakan lagi, tahu kan Valentino Rossi? Jago dibelokan.” Yang sampe saat ini sebenarnya belum kumengerti apa hubungannya?. Huh!
Kuingat satu! Masalah tentang huruf ‘J’. Dan itu kebetulan semata. Alasanku tak diterima olehmu. Katamu tak masuk akal. Aku mengalah padahal memang sesungguhnya yang terjadi. Kau katakan selingkuhanku James. Inginku tertawa sekencang-kencangnya. James? Hei, dia kakak sepupu sekalian yang sering mengantarkanku ketempat kerja. Sampai katamu kau BENCI huruf ‘J’. Sungguh aku bingung. Kini, setelah ketahuan. What about the truth? Selingkuhanmu namanya dari huruf ‘J’ kan? Jangan menyangkal. Johana. Itu namanya. Mungkin terlalu frontal menyebut namanya. I dare.
Singkat cerita, untuk menyelesaikan masalah ini. Aku meneleponmu jam tujuh. Sudah kubulatkan tekad. Tapi entah mengapa mendengar suaramu hatiku luluh lagi. Ah tak bisa sungguh. Tak bisa ketika kau bertanya. “Apakah aku masih ada dihatimu...?” Tak perlu bertanya. Kau sebenarnya tahu jawabanku. Aku tak menjawab. Tak tahu mau menjawab apa. Sesuatu dari dalam seakan mengamuk. Menyebabkan mataku mulai berkaca. Aku berada diteras. Ketika kulihat seseorang berjalan mendekatiku. Ah! Bukan mendekati tapi lewat didekatku. Kau tahu siapa? MANTANKU! Airmata cinta pertamaku jatuh untuknya. Aku ingat lagi perkataanmu. Membuat mataku tak tahan untuk mengeluarkan cairan bening. Sekuat tenaga aku berusaha tegar. Jangan keluar. Akibatnya suaraku bergetar menjawab pertanyaanmu. Mungkin, kau mendengarkannya. Kau meminta maaf berulang kali. Meminta kesempatan yang kedua. Aku sudah bilang aku tak marah. Hanya kecewa, sedih dan sakit hati. Berasa semuanya Bulshit! Bulshit! Bulshit!. Katamu “Orang salah tak mungkin melakukan pembelaan.” Memang! Siapa yang menyuruhmu bela diri?. Aku hanya tak menyangka semua bisa terjadi saja. Kemarin baik, hari ini. Oh tidak. Tears! Jadi ingat Quote yang kubaca didalam novel Let Go. “Ketika wanita menangis, itu bukan berarti dia sedang mengeluarkan senjata terampuhnya melainkan justru dia sedang mengeluarkan senjata terakhirnya, Ketika wanita menangis, itu bukan berarti dia tidak menahannya, melainkan karena semua pertahanannya sudah tak mampu lagi membendung airmatanya. Ketika wanita menagis, itu bukan karena dia ingin terlihat lemah, melainkan karena dia sudah tidak sanggup untuk berpura-pura kuat.” Gambaran perasaanku. Kata-katamu kau keluarkan memang bukan pembelaan, semacam untuk meyakinkanku. Beberapa kata De Ja Vu membuatku parno. Kepercayaanku padanya sekarang nol persen. Bahkan aku tak tahu ketika dia menangis dan berkata “Selama aku pacaran, kau gadis pertama yang membuatku menangis.” Bisakah kupercayai kata-katamu itu dengan nol persen kepercayaan? Atau kata-kata ini bisa kupercayai?. “Kau tahu. Aku pernah cerita padamu. Ibuku tak menyetujui hubungan kita. Sampai-sampai dia sempat berkata ibu akan memberimu uang liburan nanti bila kau putuskan pacarmu itu. Tapi aku tak mau karena aku menyayangimu, rencanaku kuubah. Dari yang semula liburan aku akan keluar asrama dan tinggal dikos-kosan sewa sendiri, karena tak akan diberi uang. Aku Cuma numpang dirumah teman.” Katanya sambil menangis. Ah! Jangan membuatku dilema seperti ini, please! “Ibu juga sempat bilang kalau nilaimu bagus, ibu akan menyetujui hubunganmu itu dengan pacarmu. Makanya belakangan ini aku rela belajar, padahal kau tahu kan aku paling tak bisa belajar?” Lanjutmu sedikit tersendak-sendak. Tangisku pecah, aku tak tahu kau mendengarnya atau tidak. Kalau itu usahamu, kenapa masih melakukannya? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Rasanya tak ingin aku berhenti bertanya kenapa. Sungguh malam itu aku tak bisa mengambil keputusan! Galau... Galau... Galau... Pantaskah kau diberi kesempatan kedua.
Pagi ini, ketika kubaca sebuah blog. Blognya innez sebuah petikan “Bisa-bisanya sama sekali tidak menceritakan padaku apa isi hatinya belakangan dan malah membuatku berkali-kali menahan diri untuk tidak tersenyum. Menyebalkan. Satu kesimpulan yang kudapatkan. Dihatinya tidak hanya ada satu wanita.” Ketika membaca itu aku tergerak untuk membuat coretan ini. Kuharap bisa mengatasi kegalauanku walau sedikit. Satu lagi. “Ia berkata kepadaku betapa ia mengawasi dan memperhatikanku sejak dulu. Ia juga berkata pada gadis lain ia kesepian dan ingin ditemani.” Awh. Itu menusuk sekali. Seakan sama persis dengan apa yang kualami sekarang.
Yang pasti, aku bingung sekarang. Bisakah ku memberinya kesempatan kedua? Hati ini memang terluka. Namun rasa sayangku tak berkurang.

Dear you,
Someone, I Love You.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar