Tampilkan postingan dengan label cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerbung. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Mei 2012

Baby Proposal [One Shoot]

Baby Proposal

Prolog

Bruumm... Bruumm... Cakka meramas kuat gas cagiva-nya yang menimbulkan kebisingan di sekitarnya. Asap knalpot membuat polusi udara, namun dia tak peduli. Cagiva itupun melaju menyusuri jalanan dengan kecepatan tinggi, dan semakin tinggi. Dia sangat kesal, amarah di dalam dirinya berada pada titik puncak, darahnya sudah mendidih. Cakka merasa percuma memperjuangkan gadisnya itu, setelah segala upaya dilakukannya meyakinkan kedua orang tuanya terhadap gadisnya itu, dia malah menemukan pemandangan yang tidak mengenakan mata tadi. Gadisnya sedang 'berdua' dengan musuh bebuyutannya. Okay, mungkin kalau hanya berdua, Cakka tak akan semarah ini, tapi... You know-lah.
Cakka menyelip kendaraan secara sembarangan, melewati jalan-jalan dengan kecepatan diatas rata-rata. Bahkan, dia melewati jalan-jalan yang belum pernah di lewatinya. Tiba-tiba seekor kucing hendak menyebrang di sebuah jalan, membuat Cakka refleks membanting stir cagiva-nya. Niat hati ingin menghindar agar tidak menabrak kucing... Tapi...
BRUUUUKKK!!
Cakka malah menabrak seorang wanita...

***

1. The Beginning of Disaster

Ponsel Cakka berdering saat melangkah menyusuri halaman kampusnya. Segera ditengoknya layar ponselnya tersebut. Tertera  “Ayah memanggil” Cakka segera menekan tombol hijau pada ponselnya hendak mengangkat panggilan Ayahnya tersebut.
...Hallo...
...Hallo, Cakka cepat ke rumah sakit sekarang...
...Kenapa Yah? Sivia kritis lagi yah?...
...Bukan, dia sudah siuman, kamu cepat kemari...
...Oke, Cakka segera kesana...
Cakka segera mengakhiri sambungannya dan kembali ke M3 miliknya. Dia segera memacu M3-nya itu menuju sebuah rumah sakit yang letaknya tidak begitu jauh dari kampusnya. Dia bergegas menuju ruang intensif rumah sakit tersebut. Di depan ruang intensif, Bundanya Cakka terlihat sedang menunggunya. Cakka segera menghampiri Bundanya itu.
“Cakka,” sapa Bundanya yang nampaknya khawatir.
“Ada apa Bun?,”
“Gawat Kka...ehm, Sivia, itu wanita yang kamu tabrak, sudah siuman, tapi...,” kata-kata Bunda Cakka menggantung.
“Tapi kenapa Bun?,” tanya Cakka sambil mengerutkan alisnya, dalam hati dia khawatir akan apa yang akan Bundanya sampaikan.
“Tapi...dia mau menuntut kamu,” kata Bundanya semakin terlihat panik.
“APA?!,” mata Cakka terbelalak.
“Kamu tenang dulu Kka,”
“Gimana bisa tenang Bun, masa Cakka mau dituntut sih? Padahal Cakka kan sudah bertanggung jawab membiayai rumah sakitnya, Bunda sama Ayah juga sudah menyelesaikannya dengan keluarga Sivia kan? Trus? Dia tidak bisa seenaknya dong menuntut Cakka,”
“Iya makanya kamu tenang dulu, tadi kita sudah menjelaskan pada Sivia, trus dia berterima kasih, tapi dia tetap mau menuntut kamu kalau kamu tidak menerima satu persyaratannya lagi,”
“Persyaratan apa Bun?,”
“Bunda juga tidak tahu, dia mau bicara langsung sama kamu, ayo masuk,” ajak Bunda Cakka.
Merekapun masuk ke dalam ruang intensif tersebut. Di dalam sudah ada Ayahnya Cakka, beserta seorang gadis seumuran Cakka. Itu Oik, adiknya Sivia, wanita yang di tabrak Cakka. Oik mewakili keluarga Sivia, dan Oik adalah satu-satunya keluarga Sivia. Dua bulan lalu mereka baru kehilangan kedua orang tua mereka dan suami Sivia dalam sebuah kecelakaan, waktu mereka akan menjalankan bisnis di luar kota. Sivia dan Oik waktu itu tidak ikut makanya mereka bisa lolos dari maut. Cakka mendekat ke arah mereka, tampak Sivia masih dengan alat bantu pernapasan. Dia terlihat lemah, tapi dia membuka matanya tanda dia sadar, sesekali mengerjapkan matanya.
“Oik... Lola mana?,” tanya Sivia dengan suara lemah.
“Di rumah kak...aku titip sama Mbok Sanah...aku kan tak mungkin bawa Lola kemari kak, kakak kangen yah sama Lola?,” Sivia mengangguk perlahan bulir air matanya jatuh membasahi pipinya.
Cakka agak bingung dengan yang terjadi di hadapannya. Dia berbisik dan bertanya pada Bundanya.
“Bun... Lola itu siapa sih? Bukannya keluarganya Sivia tertinggal Oik yah?,”
“Tadi Bunda sempat ngobrol sama Oik, ternyata Sivia itu punya anak yang baru berusia tiga bulan, nah Lola itu anaknya,”
“Oh,” Cakka mengangguk-angguk.
“Orang yang nabrak aku sudah datang Ik?,” tanya Sivia.
Oik menatap Cakka, Cakka agak mendekat dengan takut-takut diiringi anggukan Oik.
“Saya , aduh maaf banget, saya tidak sengaja,” sesal Cakka.
Sivia menyunggingkan senyum sinis di sudut bibirnya, “Kamu pikir cukup hanya dengan minta maaf,”
“Saya rela melakukan apa saja yang anda mau, asal jangan depak saya ke penjara, plis jangan laporin saya ke polisi,” kata Cakka hopeless sekaligus takut.
“Kamu yakin? Mau melakukan apa saja?,” tanya Sivia nadanya terdengar melemah.
“Yakin...saya yakin,”
“Baiklah...,” Sivia terdiam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya, “Oik, kamu segera panggil pengacara keluarga kita, Kakak mau mengajukan proposal untuk orang ini,” Sivia menatap Oik kemudian berpaling lagi menatap Cakka, “kamu mau kan kalau saya pakai proposal?,”
Dengan cepat Cakka mengangguk. Tidak ada pilihan lain selain setuju dengan apa yang Sivia katakan. Dia tak ingin masuk penjara. Apa kata dunia nanti? Cakka masih ingin menyelesaikan kuliahnya, Cakka masih ingin menikmati kebebasan hidupnya, Cakka masih ingin berlaku seperti pemuda pada umumnya. Dia tak mau terkekang di dalam penjara!
“Baiklah, nanti kalau sudah selesai proposalnya, kamu kembali lagi kemari,”

***

Sentakan kaki Cakka terdengar menyusuri koridor rumah sakit. Setelah beberapa hari yang lalu, sejak pertemuan Sivia dengan pengacara untuk mengatur proposal, tiba-tiba dia kritis lagi. Tadi Bunda Cakka telepon, bahwa Cakka harus segera ke rumah sakit. Walaupun sebenarnya tadi ada kelas, Cakka memutuskan untuk bolos. Dari nada Bundanya sepertinya dalam keadaan genting.
Tiba di depan ruang intensif, Cakka segera membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Ruangan sepi, yang terdengar hanyalah isak tangis seorang gadis di samping tempat tidur Sivia yang terbujur kaku. Itu tangisan Oik, di samping Oik ada seorang wanita paruh baya yang mengelus-ngelus punggungnya seraya menenangkan Oik sambil menggendong seorang bayi. Cakka terdiam sesaat di depan pintu, mencoba menyerap apa yang terjadi di hadapannya saat ini. Perlahan-lahan terpekik dalam hatinya... ‘ya ampun’. Cakka bergeming di depan pintu, dia masih shock dengan apa yang terjadi. Ayah dan Bunda Cakka yang menyadari kehadiran Cakka segera berdiri dan mendekati Cakka. Ayahnya menepuk bahu Cakka.
“Be a gentleman, kamu harus bertanggung jawab dengan semuanya ini,” kata Ayahnya.
“Tenang sayang, ingat masih ada proposal, Bunda harap apapun yang ada di proposal almarhumah Sivia kamu harus menyanggupinya, Bunda tak mau anak Bunda jadi seorang pengecut,” lanjut Bundanya.
Cakka mencoba menetralisir keterkejutan yang ada pada dirinya. Dia mencoba melangkah mendekati Oik, perlahan....dan perlahan, hingga tiba di samping Oik. Dia menatap Sivia yang sudah terbujur kaku lalu duduk di samping Oik, dan menatap gadis yang ada di sampingnya itu.
“Maaf,” kata itu saja yang bisa meluncur dari mulut Cakka.
Oik memalingkan pandangannya ke arah Cakka dan menatapnya dengan tatapan nanar. Membuat nyali Cakka semakin ciut, dia pasrah dengan apa yang akan di lakukan Oik padanya. Oik bisa menamparnya sesuka hati, bisa memukulnya juga, memakinya juga silahkan. Oik bebas melakukan apa saja padanya. Karena Cakka pikir dia memang seorang pembunuh yang telah membunuh kakaknya. Dia memang kejam. Sebisa mungkin dia membalas tatapan Oik bukan dengan tatapan menantang, melainkan rasa bersalah dari dalam hatinya.
Air mata Oik luruh, dia merasa orang yang paling mengenaskan sedunia. Dua bulan lalu dia kehilangan orang tuanya dan kakak iparnya, dan hari ini dia kehilangan kakak tercintanya. Terkadang sebagai manusia dia merasa bahwa Tuhan itu tidak adil di dalam hidupnya, namun dia tetap yakin bahwa rencana Tuhan itu, beautiful in it’s time. Dia merasa sendiri di dunia ini, setelah kakaknya pergi apa yang harus di lakukannya? Ayah dan Bundanya boleh mewariskan kekayaan yang tak akan habis sampai tujuh turunannya, tapi bukan itu yang dia mau. Dia menyadari, bahwa setelah ini tak akan lagi kehangatan keluarga seperti dulu, saat mereka semua masih ada di dalam dunia ini. Oik menatap lelaki yang ada di sampingnya waktu itu, dalam hatinya dia marah semarah-marahnya pada lelaki di hadapannya itu. Dia ingin menjambak rambut lelaki itu, ingin memakinya, ingin melihat dia hidup mengenaskan di dalam penjara. Tapi, tatapan lelaki itu begitu teduh, namun penuh penyesalan. Kata-kata yang Oik akan luncurkan tertahan di mulutnya. Di luar kendalinya, dia malah meraih lelaki itu dan memeluknya, menaruh kepalanya di pundaknya dan menangis sejadi-jadinya. Oik memang sedang butuh a shoulder to cry on, dia tak mungkin menangis di pundak Mbok Sanah yang sedang menggendong Lola. Lelaki di sampingnya inilah yang mungkin bisa menjadi a shoulder to cry on. Meski lelaki ini adalah pembunuh kakaknya.
Cakka kaget ketika Oik bukan menamparnya, bukan memakinya, ataupun memukulnya tapi malah memeluknya dan menangis di pundaknya. Air mata Oik membasahi kemeja yang Cakka kenakan. Isak tangisnya semakin menjadi. Cakka jadi bingung apa yang harus dilakukan kepada gadis yang sedang memeluknya ini. Dia mencoba mengangkat tangan kanannya dan membelai rambut Oik, lalu tangan kirinya mengusap punggung Oik. Lidahnya kelu untuk mengeluarkan kata-kata. Mungkin, jika dia berbicara akan membuat situasinya semakin parah. Wangi sampo Oik menari-nari di hidung Cakka yang berada begitu dekat dengan rambutnya.
Beberapa menit menangis di pundak Cakka, Oik mengangkat kepalanya dan beristirahat di dada Cakka. Isak tangisnya sudah berhenti tapi dia masih membutuhkan ketenangan. Dan lelaki ini memberinya ketenangan itu. Oik merasakan tangan Cakka berhenti mengusap punggungnya, dan membalas pelukan Oik itu. Oik menutup matanya, menarik napasnya panjang-panjang, sensasi benetton sport terasa di indera penciumannya. Biasanya Oik paling tidak menyukai wangi parfum cowok-cowok yang sampai menyesakkan hidungnya, tapi entah kenapa tidak begitu dengan Cakka.
Cakka menekan dagunya di puncak kepala Oik, sebelum mengeluarkan sebuah kalimat...
“Jangan menangis lagi, maafkan aku,”
Oik membuka matanya kembali, seakan kesadarannya kembali, dia segera menjauhkan diri dari dadanya Cakka dan menghapus sisa-sisa air mata di tepi matanya dan di pipinya.
“Besok setelah pemakaman, kita bertemu di kantor pengacara, ku harap kau tidak lupa dengan proposal yang diajukan kak Sivia tempo hari,”

***

Cakka turun dari SUVnya tepat di halaman sebuah gedung lebih tepatnya di kantor pengacara keluarga Oik. Dia segera memasuki kantor tersebut, dan segera menuju ke ruangan kantor pengacara tersebut. Sesuai permintaan Sivia dahulu, Cakka harus datang ke kantor pengacara sendiri tanpa membawa orang tua. Di tuntun oleh seorang pegawai Cakka masuk ke dalam ruang pengacara tersebut. Di dalam Oik bersama Mbok Sanah yang sedang menggendong lola telah berada di dalam.
Cakka duduk di samping Oik tepat di hadapan sang pengacara. Sang pengacara mengambil sebuah map yang berisi proposal yang di buat Sivia sebelum dia meninggal. Membukanya, dan menatap Cakka dan Oik secara bergantian.
“Kalian siap?, bisa saya mulai membacakannya?,” tanya sang pengacara.
Cakka dan Oik mengangguk secara bersamaan.
“Pada hari ini Senin tanggal tujuh April dua ribu dua belas, berhadapan dengan saya Mario Stevano Aditya Haling, Sarjana Hukum, Magister Hukum, advokat di Jakarta, penghadap bersama saksi-saksi yang akan di sebutkan pada akhir akta ini. Satu, Sivia Azizah lahir di Jakarta pada tanggal empat belas Pebruari seribu sembilan ratus delapan puluh sembilan, Warga Negara Indonesia, Wiraswasta, bertempat tinggal di Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jalan Pegangsaan Timur nomor tujuh puluh dua, Nomor Induk Kependudukan tujuh dua titik tujuh tiga dua enam titik lima empat kosong dua delapan tujuh kosong kosong dua satu, sebagai penghadap atau disebut juga pihak pertama menyatakan dengan ini mengajukan proposal kesepakatan kepada dua, Cakka Kawekas Nuraga, lahir di Bintaro pada tanggal delapan belas Agustus seribu sembilan ratus sembilan puluh dua, Warga Negara Indonesia, pelajar atau mahasiswa, bertempat tinggal di Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jalan Imam Bonjol nomor delapan, Nomor Induk Kependudukan tujuh dua titik tujuh empat dua enam titik delapan belas kosong delapan sembilan dua titik kosong satu dua sembilan atau disebut juga pihak kedua, ada pun uraian proposal yang harus di penuhi oleh pihak kedua yaitu sebagai berikut, satu sehubungan dengan kritisnya dan tidak memungkinkannya pihak pertama, maka pihak pertama menghibahkan anaknya kepada pihak kedua untuk menjaga dan merawatnya selayaknya anaknya sendiri. Dua, apabila terjadi hal-hal yang tidak diingikan kepada pihak pertama atau meninggal maka pihak kedua berkewajiban mengurus, membiayai bahkan mengambil hak asuh atas anak dari pihak pertama dalam hal ini Lola Allison Sindhunata dikarenakan pihak pertama sudah tidak mempunyai keluarga lagi. Tiga, pihak kedua tidak diijinkan untuk memakai jasa baby sitter dalam hal mengurus dan membesarkan Lola. Empat, pihak kedua diharuskan menjamin Lola sama seperti anaknya sendiri. Lima, sepeninggal pihak pertama, pihak kedua harus mengurus dokumen-dokumen yang menyatakan Lola sah menjadi anaknya di mata hukum. Enam, dikarenakan keluarga adik pihak pertama dalam hal ini Oik Cahya Ramadlani tidak ada lagi selain pihak pertama  dan Lola dan apabila pihak pertama sudah tidak ada dan Lola juga akan dialihkan hak asuhnya pada pihak kedua, maka Oik di wajibkan menggantikan pihak pertama sebagai Ibu dari Lola atau dengan kata lain menikah dengan pihak kedua...,”
“APA?!,” Cakka dan Oik sama-sama kaget, mereka melotot sejadi-jadinya lalu secara bersamaan berdiri.
“Sabar dulu Pak Cakka, Bu Oik, proposal ini belum selesai dibacakan, bisa bertanya setelah proposal ini selesai dibacakan,” kata Pengacara menenangkan Cakka dan Oik.
Cakka dan Oik duduk kembali sambil sesekali mencuri pandang dan bergidik ngeri membayangkan yang tadi diucapkan oleh pengacara.
Pengacara pun melanjutkan membaca proposal tersebut, “Tujuh, apabila pihak kedua melanggar atau tidak mau menuruti proposal ini, maka sesuai kesepakatan pihak kedua harus menempuh jalur hukum karena perbuatannya pada pihak pertama, delapan proposal ini juga adalah wasiat terakhir dari pihak pertama apabila nantinya terjadi hal yang tidak diinginkan, demikian proposal ini dibuat dan diresmikan di Jakarta sesuai dengan tanggal yang tertera pada awal proposal dan dengan dihadiri oleh saksi-saksi yakni, Nona Alyssa Saufika Umari yang adalah pegawai kantor advokat beserta Nyonya Khasanah saksi dari pihak pertama, segera setelahnya berturut-turut penghadap, saksi-saksi selanjutnya advokat membubuhkan tanda tangan di atas proposal ini, di langsungkan dengan tanpa suatu perubahan apapun, tertanda penghadap Nyonya Sivia Azizah, saksi satu Nona Alyssa Saufika Umari, saksi dua Nyonya Khasanah, dan advokat saya Mario Stevano Aditya Haling, selesai, ada yang mau bertanya?,” Pengacara itu selesai membacakan proposal yang diajukan Sivia, dan menghadapkan map itu kepada Cakka dan Oik untuk dilihat dan dibaca.
“Pak, kenapa Kak Sivia mewasiatkan saya untuk menikah dengan dia?,” tanya Oik sambil menunjuk Cakka.
“Saya tidak tahu hanya almarhumah yang tahu, yang pasti ini adalah wasiat terakhir sepatutnya dipenuhi oleh anda berdua,” kata Pengacara.
Cakka membaca berulang kali proposal yang ada dihadapannya itu, dia shock berat. Sekarang dia berhadapan dengan dua pilihan yang sangat sulit. Mengabaikan proposal ini yang pasti dia akan masuk penjara dengan rentang waktu yang sangat lama, atau menerima proposal ini menjadi ayah sekaligus mempunyai calon isteri yang ada di sampingnya itu diusianya yang masih muda? Dia belum 20 tahun. Kuliahnya belum selesai dan harus menjadi ayah? Yang benar saja?
Dua-duanya sama-sama akan mengekang kebebasan masa mudanya. Dan dua-duanya tetap akan merusak nama baiknya. Cakka si pembunuh atau Cakka yang punya anak di luar nikah haduh. Dua-duanya sangat membingungkan. Kenapa Sivia memberinya proposal seperti ini? Ini sangat konyol. Tapi dia telah berjanji pada Sivia dan Sivia sudah meninggal, dia berhutang pada Sivia.
“Bagaimana Pak Cakka? Jika setuju silahkan tanda tangan persetujuannya di bawah sini, beserta anda Bu Oik,” kata Pengacara.
“Hah? Dengan saya?,” tanya Oik sambil mengerenyit.
“Ya, soalnya nama anda tercantum di sini,” kata Pengacara.
Cakka dengan ragu mengambil pena dari dalam sakunya. Tangannya terasa kaku hanya untuk menorehkan tinta hitam di atas proposal tersebut. Setidaknya, kalau pembunuh sampai mati dia akan dicap orang-orang sebagai pembunuh, tapi kalau seseorang yang punya anak di luar nikah sekarang sudah agak lazim dan apabila dia menikah dengan Oik nanti cap itupun hilang. Tapi dia tak bisa membayangkan kalau harus menikah dengan Oik, seseorang yang tidak dikenalinya secara pribadi, bahkan tanpa cinta dan diusianya yang masih muda seperti ini. Cakka menarik napasnya sebelum akhirnya menorehkan tanda tangannya di atas materai 6000 pada proposal tersebut.
Pengacara itu menyodorkan proposal itu kepada Oik untuk ditandatangani, Oik meraih pena dan menandatangainya dengan hati-hati, setelah selesai Oik menghela napasnya dalam-dalam. It's gonna be a disaster...


Baca Selengkapnya >>>

Senin, 05 Maret 2012

Behind the Scene #7

Masih pada ingat cerbung saya yang Behind the Scene? tadi malam saya diteror sama teman-teman CF untuk melanjutkan cerbung tersebut, jadinya setelah vakum beberapa lama saya akhirnya menulis cerbung itu kembaliiii.... yeaaay \m/ monggo dibaca...

***
Don’t ever forget our memories when we were together…
Sebuah kertas dibaca Oik, kemudian dari belakang muncul Cakka sambil menyunggingkan senyum kearahnya. Cakka kemudian duduk disebelahnya.
“Oik jangan pernah lupakan kisah ini yah,” Kata Cakka sambil menatap Oik.
“Kenapa Cakka berkata seperti itu?,” Tanya Oik membalas tatapan Cakka.
“Entahlah, Cakka cuma gak mau aja, suatu saat kita saling melupakan,”
Cakka kemudian mengeluarkan sebuah kamera digital dari dalam ransel yang sedari tadi dibawahnya, “Kita foto yah,” Kata Cakka.
“Untuk apa?,”
“Untuk kenang-kenangan supaya kita selalu ingat akan satu dan lainnya,” Kata Cakka.
Oikpun mengangguk, mereka memperbaiki letak posisi masing-masing dengan beberapa pose. Setelah puas, Cakka mengulurkan tangannya mengajak Oik pergi dari situ.
Kala itu… sepulang sekolah, ditebing kebebasan, tebing yang dinamakan mereka berdua untuk saling mencurahkan isi hati lewat apapun itu, berteriak, menangis, tertawa sepuasnya tanpa ada yang melarang.

Rabu, 16 Maret 2011

Selasa, 15 Maret 2011

Behind the Scene -V-

Yang ngikutin behind the scene part 5



Maap kalau garing -_-

Senin, 07 Februari 2011

Cerbung/Cerpen/Fanfict's Link

Hei yang mau baca-baca cerpen atau cerbung diblog sini... tapi susah nyarinya... disini linknya :)

Cerpen

In the name of LOVE

Are you really my soulmate?

Mata

Inside a story

Cerbung

Speak Now or NEVER! 1

Speak Now or NEVER! 2

Speak Now or NEVER! 3

Speak Now or NEVER! -Part 3-

Oik digotong oleh mama dan supirnya masuk kedalam rumah sakit… Tubuhnya masih menggigil dan wajahnya masih pucat pasi… Mamanya panik segera memanggil perawat dan segera melarikan Oik ke UGD…
Tiba di UGD, Oik segera ditangani oleh dokter Zahra… Dokter Zahra memeriksa keadaan Oik dan menyuruh mama Oik untuk menunggu diluar…
Mama Oik dengan cemas menunggu diluar… Dia tampak mondar-mandir dan bolak-balik sambil sesekali melirik kearah pintu UGD menunggu pintu itu terbuka agar dia sesegera mungkin mengetahui kondisi anaknya…

15 menit kemudian Dokter Zahra keluar dari ruang UGD segera disambut oleh mama Oik…

“Bagaimana keadaan anak saya Dok?” Tanya Mama Oik

“Bisa kita berbicara diruangan saya sebentar? Tenang anak anda baik-baik saja… Sudah saya beri obat bius agar dia tertidur tapi untuk sementara waktu… Mari ikuti saya…” Kata Dokter Zahra segera melangkah diikuti oleh mama Oik menuju keruangan Dokter Zahra yang letaknya tak jauh dari ruang UGD…

“Dok, anak saya sakit apa?”Tanya Mama Oik dengan wajah panik ketika baru tiba diruang Dokter Zahra sambil duduk dikursi tepat dihadapan Dokter Zahra…

“Tenang ya Bu, anak anda sudah saya periksa… Tapi aneh, dari hasil pemeriksaan saya… Anak anda tak mempunyai masalah dengan kesehatannya… atau bisa dikatakan secara medis dia sehat dan tidak mempunyai penyakit yang berbahaya… Saya bingung kenapa anak anda bisa seperti itu… kemungkinan dia punya banyak masalah yang menyebabkan dia depresi dan tertekan… Jadi untuk sementara waktu saya beri obat tidur… tapi saya tak mau ambil resiko dengan memberikan dosis yang banyak… Obat tidur ini hanya membuat anak anda tertidur selama 30 menit… Nanti setelah dia bangun kita lihat apakah dia masih menggigil… Saya sarankan anda menghubungi psikolog untuk masalah ini…”

“Sudah Dok… bahkan tadi sepulang dari konsultasi dia malah terlihat ada perubahan… tapi malam ini malah seperti ini… padahal sebelumnya dia tak pernah sakit seperti ini…”

“Oh ya sudah… kita tunggu yah perkembangan anak anda selanjutnya…”

Mama Oik setidaknya bisa lega untuk sementara waktu karena Oik tak punya penyakit yang serius tapi dia masih bingung… Padahal tadi siang setelah pulang dari Konsultasi dengan Dokter Cakka, Oik terlihat banyak perubahan kenapa jadi seperti ini??


>>>>>>>>>>>>>>>>

Cakka baru tiba dirumahnya segera memasukan mobilnya kedalam Garasi lalu melangkahkan kakinya menuju pintu rumahnya mengambil kunci dari dalam tasnya membuka Pintu rumahnya lalu masuk kedalam rumah megah bertingkat 2 tersebut…
Ia segera menuju kekamarnya mengganti bajunya dengan kaos biasa lalu menuju keruang makan sambil membawa dua kotak makanan yang satu berisi Gado-gado dan yang satunya berisi Zebra Cake…
Sepertinya dia harus berterima kasih sekali kepada dua Gadis yang telah memberikannya makanan… Karena kalau tidak mungkin dia tidak akan makan malam ini, Soalnya badannya terasa lelah untuk keluar dan makan di Restoran lagi…
Cakka melihat jam tangannya sudah hampir jam setengah 9 malam Zahra kakaknya belum pulang juga… Sepertinya hari ini dia masih sibuk, Ya … Zahra adalah Dokter umum jadi dia menangani segala jenis penyakit dan belakangan ini dia sangat sibuk…
Meskipun sebenarnya Zahra hari ini tidak praktek malam tapi sepertinya akan sampai malam lagi… Mengingat Dokter Dayat yang berprofesi sebagai Dokter umum sama dengan Zahra sedang cuti jadi Zahra harus sampai malam lagi…
Cakka khawatir memikirkan kakaknya itu… Bagaimanapun dia keluarga Cakka satu-satunya yang dekat dengannya karena yang lain juga sibuk dengan urusannya masing-masing… Keluarga Cakka yang notabene adalah keluarga Dokter sebagian besar dikeluarganya adalah seorang Dokter maka dari itu Cakka juga diharuskan mengambil sekolah kedokteran…. Awalnya Cakka hanya akan mengambil Psikologi tapi dipaksa orang tuanya untuk mengambil kedokteran juga setelah lulus dari Psikologi… Huh! Sungguh menyebalkan baginya… Padahal dia dari dulu tak ada niat untuk menjadi seorang Psikolog maupun seorang Dokter… Malahan cita-citanya dari dulu menjadi seorang musisi tapi ditentang mati-matian oleh keluarganya karena menurut keluarganya pekerjaan sebagai Dokter lebih dianggap terpandang…

Cakka mulai melahap Gado-gado buatan Ify meski dimalam hari tetap terasa nikmat… Suapan demi suapan dia makan dengan penuh kenikmatan…
Setelah menghabiskan Gado-gado tersebut tanpa sisa Cakka segera memotong Zebra Cake yang ada dihadapannya lalu melahapnya…

Tiba-tiba handphone Cakka berdering…

‘My Sista Calling’

Cakka segera mengangkat telepon tersebut…

“Ya,, Halo Kak…”

“Halo Cakka… Kakak kayaknya bakalan pulang terlambat lagi malam ini… maaf gak bisa masak buat kamu, makan direstoran aja lagi yah… maaf banget…”Kata Zahra ditelepon dengan penuh rasa bersalah

“Gak apa-apa kok Kak… Cakka udah makan juga dirumah kebetulan tadi di kasih makanan jadinya Cakka gak perlu makan diluar… Sibuk ya Kak? Banyak pasien?”

“Sebenarnya gak… sudah selesai dari tadi… Cuma ada satu pasien lagi nunggu dia siuman…”

“Lha? Kok siuman ditunggu? Emang sakit apa toh?”

“Gak tahu ni Cakka… kakak udah periksa gak ada penyakit apa-apa badannya menggigil gitu jadi kakak Bius dengan Obat tidur aja… Kayaknya pasien ini punya masalah deh yang membuat dia depresi… harusnya ini tugas kamu… Oh ya,, katanya Mamanya tadi siang dia baru konsultasi sama kamu…”

“Heh? Siapa namanya Kak…?”

“Bentar Kakak Cek didatanya…”

Zahra membuka data pasien dikomputernya…

“Oik Cahya Ramdlani…”

“Oik? Tunggu kak Cakka segera kesana…” Kata Cakka menutup teleponnya…

Segera berlari kekamarnya mengambil Jaketnya lalu menyambar kunci mobil dan menuju Garasi tempat mobilnya terparkir segera mennyalakan mesin mobil dan tancap Gas menuju Rumah Sakit kembali…

>>>>>>>>>>>>>>>>

Zahra menuju keruang UGD kembali… Sudah hampir 30menit berlalu berarti Oik akan sadar… Dia memasuki ruangan tersebut ada mama Oik didalam ruang UGD bersama beberapa perawat…
Zahra mencoba melakukan pemeriksaan kembali sebelum Oik tersadar…
Tak beberapa lama kemudian Oik membuka matanya… Melihat sekelilingnya… Badannya masih terasa sangat dingin… Tapi pada kenyataannya dia mengalami demam… Zahra segera mengukur suhu tubuhnya … Hangat 38o Celcius!
Tak lama kemudian kembali menggigil… Mama Oik jadi panik…

“Dokter anak saya kenapa?”

“Tenang ya Bu, Kami akan mencoba memberinya Obat penenang…”

Zahrapun segera memberi Oik obat penenang… Dan Oik tak menggigil kembali… Tapi Oik masih merasakan kedinginan didalam tubuhnya… Tapi tubuhnya terasa kaku untuk menyatakan kalau sekarang dia sangat butuh kehangatan dan ketenangan…

Seorang perawat masuk kedalam dan membisikan sesuatu pada Zahra… Zahra mengangguk- angguk…

“Sus, Jaga pasien ini ya sebentar… Saya keluar dulu dan akan kembali…”Kata Zahra kemudian keluar dari ruang UGD tersebut…

“Cakka ngapain kamu kemari?”Tanya Zahra ketika menemukan Cakka diluar ruangan tersebut…

“Kak… tadi kata kakak pasiennya namanya Oik yah? Trus keadaannya gimana sekarang? Udah siuman kan? Dia gak apa-apakan?”Tanya Cakka bertubi-tubi kepada Zahra…

“Cakka… tanyanya satu-satu bisa gak… Ya,, Namanya Oik… dia didalam baru siuman tapi menggigil lagi… dia gak apa-apa Cuma kakak kasih Obat penenang… Sebenarnya Gadis itu siapa sih? kamu kenal? Adik teman kamu yah? Atau jangan-jangan….”

“Hush kak… nanyanya satu-satu… Aku kenal dia… Dia pasien dan temanku jangan mikir yang aneh-aneh ya kak…”

“Kamu sih khawatirnya berlebihan begitu… gak wajar tahu… sejak kapan pasienmu jadi temanmu?”

“Semua pasienku aku anggap teman bagiku… kakak aja yang gak tahu… Udah… Cakka boleh masuk gak liat dia….?”Tanya Cakka…

Perawat yang menjaga Oik tadi keluar…

“Dokter… Pasiennya menggigil lagi…”Katanya terlihat panik…

Zahrapun masuk kedalam diikuti Cakka yang mengekor dibelakang....
Mama Oik tampak heran melihat Cakka bisa ada disitu… Cakka seperti menatap Mama Oik dengan tatapan yang aneh… kemudian berkata…

“Besok kalau ada waktu saya harus bicara dengan Ibu…”

“Tapi dok… besok saya ada acara…”

“Terserah… mau melihat anak anda terus-terusan sedih atau membatalkan acara anda…” Kata Cakka kemudian mendekati tempat Oik berbaring…

Oik juga kaget melihat Cakka… apalagi tidak memakai pakaian dokter seperti tadi siang… hanya sebuah kaos dengan Jaket yang terlihat santai…

“Bu… anda boleh menunggu diluar?”Kata Zahra kepada mama Oik…

“Tapi Dok…”

“Sudah serahkan pada kami… kami pasti memberikan yang terbaik untuk anak anda…” Kata Zahra

Mama Oik akhirnya keluar…

“Cakka… kamu juga keluar sana…”

“Gak ah… gak mau aku kan juga Dokter…”

“Huh! Keras kepala… tapi ini bukan bagianmu…”

“Sudah… aku disini tak akan menganggu pekerjaan kakak…Lagipula kakak bilang kan kakak gak menemukan penyakit Oik… katanya mungkin Oik punya masalah… dan memang Oik punya masalah… Jadi ini tugas Cakka yah… Kak Zahra duduk aja serahin sama Cakka…Kasihan Oik kalau dia harus dibius terus nanti dia benar-benar sakit”

“Tapi Cak…” Cakka meletakan jari telunjuknya dibibir Zahra

“Sssttt…”Katanya

Kemudian mendekati Oik yang terbaring sambil menggigil, keringat dingin makin banyak mengalir ditubuhnya… Wajahnya pucat pasi yang dialiri airmata…

“Oik…”Ucap Cakka halus sambil menatap Gadis itu… Sedangkan Zahra Cuma pasrah dengan yang dilakukan adiknya… Semoga saja adiknya itu benar-benar bisa mengetahui penyakit Oik…

“Ma..as… Oik… dingin,,, Oik takut…”Kata Gadis itu sambil membuat posisinya yang terbaring kini duduk dengan kedua tangannya diletakan didepan dadanya dan terus mengigil…

“Takut… takut kenapa?”Tanya Cakka

Oik hanya diam tak menjawab pertanyaan Cakka… Matanya mengawasi ke kiri dan ke kanan… Cakka mengerti kalau dia takut menceritakan masalahnya karena takut didengar orang… Cakka segera menenggelamkan Oik kedalam pelukannya membuat Zahra kaget dengan apa yang dilakukan Cakka…
Oik juga merasa kaget dengan perlakuan Cakka tapi entah mengapa dirinya merasa nyaman berada dipelukan itu pelukan yang menenangkan seluruh badannya kini terasa hangat, dia merasakan aliran darahnya dan bahkan tubuhnya yang bergetar sedari tadi berhenti digantikan dengan irama dentuman jantungnya yang semakin kencang…
Ia menutup matanya… Dan tak lama kemudian tertidur dipelukan Cakka…
Cakka segera menaruh kepala Oik diatas sebuah bantal…
Kamudian menyelimutkan dia dengan selimut yang lumayan tebal tampak Oik tertidur dengan pipi yang basah karena Air mata… Cakka segera mengambil sapu tangan dan menghapus airmata Oik dengan saputangan…
Zahra masih kaget dia segera mendekat kearah Cakka…

“Cak… apa yang kam….”

“Ssssstttt….. Oik lagi tidur… bisa nanti komentarnya sebentar… Pindahkan Oik keruangan biasa dan biarkan dia dirawat disini selama beberapa hari… Kalau dirumah dia bakalan banyak tekanan!”Kata Cakka

Zahra tak mampu berkata-kata lagi… Dia segera menyuruh perawat memindahkan Oik keruang rawat inap… Merekapun keluar dari ruangan tersebut… Menemui mama Oik yang berada diluar…

“Dok… anak saya mau dibawa kemana?”Tanya mamanya yang melihat Oik dibawa keluar…

“Anak anda akan dibawah keruang rawat inap… untuk beberapa hari ini biarkan dia dirawat disini dulu…”Kata Zahra

“Tapi Dok… kata Dokter anak saya tidak apa-apa… kenapa sekarang harus dirawat…?”

“Takutnya kalau dirumah Dia banyak tekanan… Jadi mending untuk sementara waktu dia dirawat disini…”

“Baiklah Dok… titip anak saya… saya pulang sebentar mengambil beberapa keperluan…”

Zahra mengangguk…

>>>>>>>>>>>>>>

“Cakka… apa yang kamu lakukan sama Oik tadi?”Tanya Zahra dalam perjalanan pulang kerumah…

“Cakka Cuma nenangin Oik… karena tadi Cakka yakin dia butuh ketenangan…”Kata Cakka sambil menyetir mobilnya dengan santai…

“Tapi… itu aneh Cakka… Melanggar kodrat dan etika seorang Dokter…Ya trus gimana ceritanya itu cewek langsung tenang ketika dipeluk sama kamu… Apa kamu memeluk semua pasien-pasienmu seperti itu?”

“Tadi Cakka bukan sebagai Dokter atau Psikolog yah Kak… tapi sebagai temannya Oik… Jadi gak apa-apa dong Cakka meluk Oik… wong Cakka temannya Oik… Ya tergantung yah… kan pasien Cakka kalau jadi dokter anak-anak kecil bayi sampe 12tahun… Hahaha… gak apa-apa dong kalau Cakka peluk-peluk mereka kan imut-imut… Lagi pula kakak juga kan pernah bilang sendiri kalau pelukan Cakka itu menenangkan… Jadi dari hipotesis Kakak itu Cakka kembangkan bahwa orang kalau dipeluk akan merasakan ketenangan apalagi yang meluk orang ganteng seperti adikmu ini loh…”Tutur Cakka panjang lebar diakhiri oleh kenarsisan.

Zahra mengernyitkan dahinya lalu menonjok lengan Cakka…

“Ish… sakit tahu kak… Orang lagi nyetir juga… main tonjok… kalau kita celaka gimana?”

“Kamu narsis tauk…”

“Ehhh… tapi bener loh Ya kan?”

Zahra terdiam, Sebenarnya yang dikatakan Cakka itu ada benarnya juga… Soalnya dari kecil kalau Zahra sedang sedih Cakka yang selalu menenangkannya dan pelukannya itu memang menenangkan… Semasa SMA, waktu Zahra disakiti oleh Pacarnya juga Cakka yang menenangkannya walaupun dengan belaiannya tapi itu memang menenangkan… Bahkan sewaktu Ia sakit, Hanya dipeluk Cakka… beberapa Jam kemudian sakitnya sembuh… Aneh memang, Dan dia berpikir mungkin karena mereka kakak beradik jadi ada ikatan batin… Tapi bagaimana dengan Oik tadi?

>>>>>>>>>>>>>>>>

Pagi-pagi Shilla sedang sarapan melahap roti yang dilapisi selai kacang kedalam mulutnya ketika bel rumahnya berbunyi…
Setelah meneguk susu Shilla segera beranjak dari ruang makan menuju pintu rumahnya untuk membuka pintu rumahnya tersebut…

Tampak Seorang Pria tampan didepannya memakai kemeja hitam menyapanya…

“Good morning princess…”

“Cakka,,, tumben jam segini sudah datang?”

“Bukannya disapa balik malah ditanya yang macam-macam…Aku pulang nih…”Kata Cakka sambil membalikan badannya hendak pergi tapi tangannya ditahan Shilla

“Iya deh… iya… Good morning Too my Prince…tumben jam segini sudah datang…?”

“Gitu dong… ya kebetulan bangun pagi aja…hehehe”

“Ih… Cakka mah gitu…”Ucap Shilla manyun…

“Jangan manyun gitu dong jelek…”Kata Cakka sambil mencubit hidung Shilla…

“Ahhh… Cakka… sakit tahu….”

“Udah yuk berangkat…”

“Bentar aku ambil tas dulu…” Kata Shilla kemudian masuk kedalam rumahnya kembali dan tak beberapa lama keluar lagi… Merekapun menuju mobil Cakka dan melaju kerumah sakit…

Tiba dirumah sakit mereka segera mengambil pakaian dokter mereka dan seperti biasa berjalan beriringan menuju ruangan mereka masing-masing dan seperti biasa juga semua mata pasti tertuju pada kedua pasangan dokter itu…
Kali ini Cakka praktek pagi untuk dokter anak jadi dia dan Shilla searah… Shilla akan keruang bedah… Ruang bedah berada sebelum Klinik anak… Jadi Shilla duluan masuk kedalam ruangannya… dan Cakka melanjutkan perjalanannya menuju tempat prakteknya setelah saling pamit dengan Shilla…

>>>>>>>>>>>>>>>>

“Shilla… Boleh kakak bicara sebentar dengan kamu?Ada waktu kan?”Tanya Zahra ketika Shilla baru keluar dari ruang bedah…

Shilla membuka masker yang sedari dipakenya…

“Ya… kenapa kak?Ada kok... Shilla udah selesai”

“Jangan disini… Kita bicara dikantin ayo…”

Zahra dan Shilla menuju ke kantin…Setelah memesan 2 cangkir teh hangat merekapun berbicang-bincang…

“Shilla… kamu sama Cakka gak lagi ada masalah kan?”

“Hmm… gak kok kak… malah tadi kita bareng datangnya Cakka jemput aku… Memang ada apa yah kak?”

“Oh gak… Cuma nanya doang… beneran kan? Belakangan ini kalian gak punya masalah gitu?”

“Ada sih… kemarin… tapi udah gak usah dipikirinlah kak…”

“Kalau kakak boleh tahu masalah apa?”

“Itu kak kemarin Shilla keruangan Cakka… trus Shilla mergokin Cakka sedang memeluk seorang Gadis…”

Zahra yang meminum tehnya tersendak…

“Eh... kenapa kak?”

“Gak apa-apa kok… seorang Gadis?”

“Ia… tapi katanya itu pasiennya…”

“Dan kamu percaya gitu aja?”

“Hm… pecaya kok kak… Aku udah lama pacaran sama Cakka jadi harus saling percaya… Lagi pula Gadis yang ia peluk itu Cuma Gadis yang berumur 17tahunan sepertinya…”

“Hei Shilla… Cinta itu gak memandang umur…”

“Kok kak Zahra berkata seperti itu?” Tiba-tiba wajah Shilla berubah…

Sepertinya tadi Zahra keceplosan… Setelah melihat adegan kemarin Zahra jadi berpikir kalau ada sesuatu yang special antara Cakka dengan Gadis yang bernama Oik itu…

“Oh… gak kok… lupakan… aku Cuma em… anu… belakangan ini kamu jarang main kerumah jadi aku kira kamu dan Cakka punya masalah…”

“Oh… Gitu ya kak… Gak kok… aku gak ada masalah sama Cakka… cuma emang Cakka terlalu akrab dengan pasien-pasiennya gitu…”

“Trus kamu gak cemburu?”

“Ya cemburulah kak… perempuan mana yang gak cemburu… tapi aku tahu kok Cakka kan kerjaannya memang mengharuskan dia dekat dengan pasien-pasiennya…”

Zahra manggut-manggut… Sebenarnya Shilla sangat merasa was-was setelah perkataan Zahra yang barusan tapi dia berusaha biasa saja didepan Zahra…

>>>>>>>>>>>>>>>

Seorang anak kecil masuk kedalam ruangan Cakka… anak kecil itu kira-kira berumur 5 tahun segera duduk dibangku didepan Cakka…

“Selamat siang adik kecil… Siapa namamu?”

“Namaku… Silvi Doktel…”

“Silvi? Nama yang bagus… kesini sama siapa?”

“Sama Mama Doktel..”

“Terus mamanya mana?”

“Silvi… jangan nakal kamu…”Tiba-tiba masuk seorang Wanita…

“Eh.. maaf Dok… anak saya bawel…”

“Gak apa-apa kok namanya juga anak-anak… Gimana?”

“Gini dok… Anak saya belakangan ini ditangan dan kakinya sering timbul bintik-bintik merah…”

“Boleh saya lihat…?” Cakka melihat tangan dan kaki gadis kecil tersebut…

“Oh… ini gak apa-apa… Cuma alergi biasa… mungkin karena lingkungan tempat dia bermain tidak streril jadi dia terkena alergi… saya akan memberikan resep beberapa salep ada aturan pemakaiannya yah…”Kata Cakka sambil menuliskan beberapa nama-nama salep disebuah resep…

“Oh… terima kasih yah Dok…”

“Sama-sama…”

“Saya permisi dulu…”

“Da...da doktel…”Kata anak kecil itu sambil melambaikan tangannya…

“Da...da Silvi…”Cakka melambaikan tangannya…

Ibu dan anak itu keluar dari hendak keluar dari ruangan Cakka...

“Ma.... kalau aku udah besal... aku mau jadi doktel kayak om itu... tlus pengen punya pacal kayak doktel itu... ganteng...”

“Sssst masih kecil kamu...”

Cakka tersenyum geli mendengarkan percakapan Ibu dan anak itu...

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Seorang wanita dengan jas dokter... memperhatikan sekitarnya... kiri dan kanan... Setelah dirasanya cukup aman... Dia membuka pagar besi pembatas yang tinggi itu lalu masuk kepekarangannya dan menuju kesebuah taman ditempat tersebut...
Duduk didekat airmancur sambil termenung...

Tiba-tiba seseorang memegang pundaknya....

Wanita itu dengan segera menoleh kearah orang yang memegang pundaknya itu

^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^

Jumat, 04 Februari 2011

Speak Now or NEVER! -Part 2-

Cakka terbelalak kaget mendapati sosok Gadis yang berada didepannya sekarang...
Gadis itu yang kemarin hampir saja dia tabrak... Sepertinya Gadis itu juga kaget melihat Cakka yang kini didepannya...
Cakka menyuruh Ibu dan Gadis itu duduk... Terlihat Gadis itu masih memperhatikan Cakka...

" Ini anak saya...." Kata Ibu itu...

Cakka menatap kembali Gadis itu... Memang sudah bukan tatapan kosong lagi... Melainkan tatapan heran...

" Oh... Ya... Kalau boleh tahu siapa namamu?"Tanya Cakka

" Oik .. Mas...eh Dokter...." Ucap Gadis itu...

" Hahaha... Gak apa-apa kok kamu manggilnya Mas ... Santai aja..." Kata Cakka kemudian melanjutkan kata-katanya...

" Bu... Boleh saya berbicara berdua dengan anak ibu?" Tanya Cakka

" Ya silahkan... Saya keluar dulu... Permisi..." Kata Ibu itu lalu keluar dari ruangan Cakka...

Setelah Ibu itu keluar Oik mengangkat jari telunjuknya dan menunjuk kearah Cakka meminta penjelasan...

" Gak usah kaget... Aku Cakka... Dokter anak sekaligus psikolog dirumah sakit ini..."Kata Cakka mengulurkan tangannya...
Oik menyambutnya...

" Eh.. Maaf aku gak tahu kalau Mas ini.. Dokter... Maaf yah soal kemarin..." Kata Oik menundukan kepalanya...

" Gak apa-apa kok... Aku malah ingin jadi teman kamu... Bisakah kita bicara sebagai teman bukan sebagai Dokter atau Psikolog dengan pasiennya?" Kata Cakka

Oik terdiam tak menjawab...

" Dok..e... Mas... Boleh tolong jelasin kenapa Mama membawa aku kemari? Aku masih bingung..."

" Mamamu cerita segala sesuatu tentangmu... Kau punya masalah besar? Ceritakanlah..."

Oik menatap canggung kepada Cakka...

" Eh... Jangan canggung anggap aku temanmu... Hmm... Kalau disini kayaknya kamu bakalan canggung... Kita duduk disofa situ saja... Biar kamu lebih leluasa menceritakannya..." Kata Cakka sambil berdiri dan duduk disofa tak jauh dari situ diikuti Oik yang dengan canggung duduk berjarak dengan Cakka...

" Nah sekarang ceritakanlah... Tak baik masalah dipendam sendiri... Harus ada teman berbagi..."Kata Cakka...

Airmata Oik mulai jatuh kembali tapi dia masih didalam diam tak mau mengeluarkan sedikitpun kata...

" Tuh kan.... Semakin kamu menyimpan sendiri maka akan semakin sakit dan tak dapat membuatmu menemukan solusi... Kasian mamamu.. Dia turut sedih apabila keadaanmu seperti ini... Dia tak ingin melihatmu terpuruk seperti ini..."

Tangis Oik semakin menjadi-jadi... Airmatanya sudah tumpah ruah ... Sudah hampir 3minggu hari-harinya Ia lewati dengan menangis-menangis dan menangis... Dia memang bukan sosok yang cengeng tapi entah mengapa dia lelah dan lemah belakangan ini... Sulit menerima situasi makanya dia berubah menjadi Gadis yang cengeng...

Oik masih terisak... Cakka menyapu-nyapu punggung Oik... Untuk sementara waktu dia diam dan tak berbicara... Memberikan kesempatan pada Oik... Mungkin setelah menangis seperti ini Oik mau menceritakan masalahnya... Sehingga Cakka juga bisa menemukan solusi terhadap masalah-masalah yang Oik hadapi... Sepertinya tak hanya 1 masalah... Cakka bisa merasakan berbagai masalah yang ada didalam diri Gadis manis yang bernama Oik yang ada dihadapannya ini...

Tiba-tiba Oik kembali memeluk Cakka dan menangis sejadi-jadinya didalam pelukan Cakka...

"A..h..akh.. Hiks.. Aku..eh..ga.. Kuat .. Mas... Masalah ini he... Terlalu...eh.hiks..a.. Ber..at..." Kata Oik masih didalam pelukan Cakka...

Cakka membelai rambut Gadis itu... Menyapu punggungnya berharap dirinya bisa memberikan sebuah ketenangan kepada Oik... Airmata Oik terus membasahi baju putih Cakka... Namun setiap belaian Cakka mampu membuat sedikit demi sedikit rasa tenang kepada Gadis itu... Perlahan tetapi pasti Ia merasakan sebuah ketenangan yang belum pernah Ia rasakan sebelumnya...

Tanpa mereka sadari sepasang mata mengamati mereka dari balik pintu tersenyum pahit lalu menutup pintu dengan perlahan lalu berlari semakin menjauh dari ruangan itu...

Beberapa menit kemudian Oik melepaskan pelukannya dari Cakka... Ia merasa sudah tenang...

" Maaf mas... Lagi-lagi.... Aku main nyosor aja mas... Jangan anggap aku agresif mas... Aku tak tahu kenapa juga bisa memeluk mas..."Kata Oik tertunduk

" Tak apa-apa... Itulah gunanya teman kan ... Dan sekarang kita berteman yah..." Kata Cakka mengulurkan jari kelikingnya kepada Oik bak anak kecil yang baru mendapatkan teman baru... Oik menautkan jari kelingkingnya pada Cakka lalu tersenyum tipis...

" Ayo... Sekarang kita sudah berteman tak usah ragu ceritakan masalahmu..."

Oik menghela nafas... Mencoba menceritakan masalahnya kepada orang yang baru dia kenal... Baru kali ini... Bahkan teman-temannya disekolah tak mau diceritakan... Entah kenapa dia percaya pada Cakka... Bukan karena Cakka seorang Dokter atau Psikolog... Dari mana rasa percaya itu datang Oik tak tahu...

" Aku punya pacar... Namanya Obiet... Kami pacaran sudah 1 tahun.. Tapi 3 minggu lalu dia mutusin aku... Tanpa aku tahu masalahnya... Setahu aku belakangan ini dia malah lebih romantis dari biasanya... Tapi dia malah mutusin aku... Huh! Aku gak terima... Dan Gak sampai sehari aku dengar dia jadian dengan Gita... Dan mas tahu Gita itu siapa?"

Cakka mengangkat kedua pundaknya...

" Gita itu sahabatku sendiri... Bahkan dia yang menyupport hubungan aku dengan Obiet... bisa dibilang dia adalah mak comblang aku dengan Obiet... Tapi malah dia yang ngerusak hubunganku dengan Obiet... Aku sakit hati banget..." Oik menceritakannya dengan wajah sedih tapi airmatanya sudah tidak keluar... Dia hanya bersandar dengan lemas dikursi sofa...

Cakka mendengarkan cerita Oik...

" Gak cuma disitu... Belum habis kesedihanku karena Obiet dan Gita... Aku dikejutkan dengan kabar bahwa Obiet meninggal dunia karena kecelakaan... Aku shock berat... Obiet telah tiada... Walaupun dia telah menyakiti aku... Tapi tak bisa aku pungkiri kalau rasa sayang itu lebih besar daripada rasa sakit ini..." Ucap Oik... Airmatanya mengalir dipipi tapi dia mendongakan wajahnya keatas berusaha menahan airmatanya agar tak jatuh lebih banyak lagi... Dia juga tak mau Cakka menilainya sebagai Gadis yang cengeng...

" Hanya itu masalahmu?" Tanya Cakka memastikan... Karena Cakka yakin masalah Oik bukan hanya itu...

Oik mengangguk tapi kepalanya seperti biasa tertuduk... Cakka memegang dagu Oik agar menatapnya... Mata Gadis itu berkaca-kaca membuatnya semakin yakin kalau Masalah Oik bukan cuma itu...

" Gak boleh menyimpan masalah Oik... Aku bisa melihat kamu punya masalah selain itu... Tatap mataku katakan kalau memang masalahmu hanya itu..."

Oik menyerah melihat mata Cakka...

" Ya... Masalahku memang tak cuma itu..." Ia menarik nafasnya dalam-dalam sementara Cakka tak mau banyak berkata-kata lagi... Dia hanya menunggu gadis itu menceritakan masalahnya...

" Keluargaku termasuk keluarga yang kurang harmonis... Papa bekerja diluar negeri dan hanya pulang setahun sekali... Mama sibuk dengan pekerjaannya juga... Padahal sebelum kami kaya waktu kami masih hidup dirumah yang sederhana kami sangat sering berkumpul... Dan beberapa hari sebelum kematian Obiet... Aku memergoki mama sedang berpelukan dengan seorang laki-laki dan itu bukan Papa... Mesra sekali... Mama tak tahu kalau aku melihatnya... Aku sakit tega sekali mama berbuat seperti itu mengkhianati papa..." Oik kembali mendongakan wajahnya keatas menahan airmatanya kembali tapi sia-sia... Airmata kelemahan itu kembali mengalir dipipinya...

Cakka mengusap airmata Oik dengan tangannya dan usapan tangan itu mendinginkan hati Oik yang kini telah panas... Ia menutup matanya merasakan benar-benar dingin... Sentuhan apa ini?

Oik tersadar dia segera menetralisir dirinya kembali...

" Maaf... Aku cengeng..."

" Tak apa... Asal bisa membuat hatimu tenang... Sekarang bagaimana perasaanmu setelah menceritakan sebuah masalahmu?"

" Lebih lega... Terima kasih mas..."

" Sama-sama... Sekarang jangan kau pikirkan masalahmu dulu... Aku pasti membantumu agar terlepas dari masalahmu... Dan soal masalah Obiet... Obiet telah pergi biarkan dia pergi dengan tenang... Aku tahu memang sulit tapi maafkan kesalahannya... Dan bawa itu sebagai pelajaran agar kamu bisa menemukan orang yang lebih baik dari Obiet... Aku tak ingin kamu bersedih terus... Apa kegemaranmu?"Tanya Cakka

" Heh? Kegemaranku?" Oik mengernyitkan dahinya Heran dengan pertanyaannya Cakka yang sepertinya OOT (Out Of Topic)

" Iya..."

" Aku suka memasak... Soalnya dengan memasak aku bisa menuangkan segala kreasi.. Apalagi ada hasilnya... Kita bisa menikmati hasilnya..."Kata Oik

" Kau suka memasak? Sama dong..."

" Hah? Mas juga suka memasak?..."

" Bukan kamu kan suka memasak... Aku suka menyantap berarti... Cocok gitu..."

Oik tertawa kecil...

" Mas bisa aja..."

Akhirnya Cakka bisa melihat Oik tertawa walaupun itu tawa yang kecil... Berarti sudah ada kemajuan... Cakka sering menghadapi Gadis-gadis remaja yang labil.. Tapi entah mengapa Oik membuatnya sangat tertarik Untuk membantunya mengatasi masalahnya.. Padahal biasanya Cakka jenuh dengan pasien-pasien yang labil...

" Kapan-kapan kamu bisa dong masakin Mas..."

" Boleh kok... Mas sukanya apa?"

" Aku suka makanan indonesia... Tanpa daging... Aku lebih suka sayur-sayuran dari pada daging... Seperti Gado-Gado, Bubur manado, Sayur asem,dan lain-lain... Soalnya sayuran itu lebih menyehatkan..." Kata Cakka yang mulai lagi dengan teori kedokterannya...

" Sama... Oik juga kurang suka daging...hehehe..."

Cakka dan Oikpun terlibat percakapan santai bak dua orang kawan lama... Berbicara dengan Cakka yang walaupun lebih tua beberapa tahun dari Oik membuat Oik merasa seperti berbicara dengan sahabatnya sendiri bahkan dia sejenak lupa dengan masalah yang menghantuinya belakangan ini...

Cakka melihat jam tangannya sudah menunjukan pukul 11:45... Sebentar lagi dia harus makan siang... Dan jam 1 nanti gilirannya membuka klinik Dokter anak...

" Yasudah Oik... Jangan sedih lagi yah... Kalau sedih datang cari aku saja... Aku siap kapanpun sebagai teman untukmu... Sekarang kita keluar Mamamu pasti khawatir dengan keadaanmu..."

Oik mengangguk dan kemudian Cakka mengantarnya keluar dari ruangannya menemui Mama Oik yang sedari tadi menunggu diluar...

" Bu... Anak ibu tidak apa-apa hanya ada sedikit tekanan... Bila ada waktu saya ingin berbicara juga empat mata dengan ibu... Tapi tidak sekarang karena saya harus istirahat dan membuka praktek Dokter anak sebentar siang..."

" Baiklah Dok... Kalau ada waktu pasti saya kembali... Terima kasih..."

Cakka berlalu dari hadapan Oik dan Mamanya..
Mama Oik heran sekali mendapati Oik sudah tidak dengan tatapan kosong... Tatapannya meski masih tersirat kesedihan tapi ada keceriaan dibaliknya...
Mantra apa yang Cakka gunakan sehingga membuat Oik seperti itu?

>>>>>>>>>>>>>>>

" Dokter..." Panggil seseorang... Cakka menoleh kearah sumber suara tersebut.. Didapatinya seorang perawat...

" Ya..."

" Tadi Dokter Shilla mencari anda..."

" Oh ya? Sekarang Shilla kemana?"

" Sepertinya tadi berlari kearah kantin Dok... Dia kelihatan sedih gitu setelah dari ruangan dokter Cakka..."

" Dia ke ruanganku?"

" Ia Dok... Sudah saya larang karena ada pasien... Tapi tetap saja dia bersikukuh mau keruangan Dokter... Tapi setelah itu malah dia berlari dengan wajah sedih Dok..."

Cakka menepuk Jidatnya... Pasti Shilla melihat adegan Pelukan Dia dan Oik... Shilla tak boleh salah paham...

Cakka segera berlari menuju kantin...

Dicarinya Shilla dikantin tersebut tapi tak Ia temukan... Dia hanya melihat Ify sedang membawa makanan Kepada pembeli-pembelinya...
Cakka menghampiri Ify...

" Ify... Lihat Shilla Gak?" Tanya Cakka

" Mbak Shilla? Tadi dia kesini sih Mas... Tapi Gak lama... Dia cerita sama Ify katanya liat mas Cakka lagi pelukan sama cewek diruangan mas Cakka..."

" Tuh kan benar... Pasti dia salah paham... Kamu tahu gak Fy sekarang dia dimana?" Tanya Cakka

" Emang siapa sih mas cewek itu?"

" Nanti aku ceritakan yang penting dimana Shilla sekarang?"

" Sepertinya nih Mas... Belakangan ini mbak Shilla sering ke taman di rsj sebelah mas... Beberapa kali Ify kan bawa makanan sama dokter-dokter di rsj... Dan Ify beberapa kali liat mbak Shilla disana..."

Cakka mengernyitkan dahinya...
Whaaat?? RSJ? Untuk apa Shilla kesana? Shilla kan bukan dokter Jiwa... Buat apa dia kesana?

" Oke makasih ya Fy... Aku coba kesana..." Kata Cakka

Memegang tangan Ify tanda terima kasih...
Kemudian berlari meninggalkan Ify menuju RSJ...

Sentuhan ini?

RSJ tepat berada dibelakang Klinik umum hanya dibatasi pagar pembatas agar pasien RSJ yang aneh bin ajaib tak keluar dari tempatnya...

Cakka menyusuri koridor RSJ... Disepanjang koridor tampak orang-orang yang ajaib-ajaib.. Ada yang menggonggong seperti anjing, ada yang berjalan bak supermodel diatas catwalk, ada yang tertawa sendiri, Ada yang memeluk-memeluk segala macam boneka...
Sebenarnya Cakka sering kemari karena dia juga dibutuhkan disini... Cuma belakangan ini dia jarang kemari karena Dia juga banyak mendapat pasien untuk urusan Psikologis...

Taman di RSJ terletak disayap kiri RSJ tepat disamping ruangan seorang dokter... Cakka jadi was-was jangan-jangan Shilla sering datang kemari menemui dokter itu...
Dia menemukan Shilla sedang duduk disamping airmancur...

Cakka mendekat...

" Shilla..." Ucap Cakka...

Shilla menoleh kearah Cakka dan tersenyum sinis kearahnya...

" Sudah selesai?"

" Shill..., kamu salah paham... Aku cuma menghibur dia ... Dia pasienku..."

" Aku tahu dia pasienmu... Tapi aku ini manusia yang punya rasa cemburu... Aku lihat kau juga begitu menikmati saat kalian berpelukan..."

" Shilla... Aku mohon mengertilah... Aku cuma menenangkannya karena dia punya masalah besar..."

" Apa kau pernah menenangkanku ketika aku punya masalah? Selama 5 tahun kita pacaran kau tak pernah memeluk menenangkanku seperti itu..."

" Itu karena......."

" Karena apa Cakka?" Ucap Shilla dengan nada meninggi...

" Itu Karena kamu tak pernah terlihat rapuh didepanku... Itu karena kamu tak pernah memperlihatkan masalahmu didepanku... Kau tak pernah menangis walau aku tahu kamu itu sedang sedih itulah sebabnya aku tak menenangkanmu... Karena kau sering mencari ketenanganmu sendiri....Bagaimana aku tahu jika kau sedang punya masalah... Jika aku hanya mempunyai sedikit waktu denganmu?"Kata Cakka...

Shilla terdiam... Memang benar yang diucapkan Cakka... Dia memang selalu menyembunyikan masalahnya didepan Cakka meski dia tahu Cakka pasti mengetahuinya... Dia ingin terlihat sebagai wanita yang tangguh... Tak ingin tergantung kepada Cakka... Apalagi pekerjaan mereka membuat mereka jarang bertemu... Disaat Cakka punya waktu Shilla tak punya... Disaat Shilla punya waktu Cakka tak punya... Dan tanpa Ia sadari Ia merasakan kesepian yang mendalam...
Runtuhlah pertahanan Shilla sebagai wanita tangguh... Kali ini dia menangis... Pertama kalinya Cakka melihat seorang Shilla menangis dihadapannya...

Cakka memeluk Shilla menyandarkan kepala Shilla diatas bahunya... Membelai halus ubun-ubun kepalanya... Sama seperti Caranya menenangkan Oik tadi... Shilla merasakan ketenangan didalam pelukan Cakka 5 tahun pacaran dia baru merasakan pelukan Cakka sekarang... Ternyata dipeluk seorang Cakka sangat membuatnya merasa berbeda begitu hangat dan nyaman... Pantas saja pasien-pasiennya selalu betah berada didalam pelukan Cakka...

" Akhirnya runtuh juga hati kerasmu...." Kata Cakka tersenyum...

Shilla melepaskan pelukan Cakka dengan wajah manyun...

" Sudah... Jelek tahu begitu... Sekarang ayo balik buat apa kau disini...? Mau menjadi ajaib seperti orang-orang disini...?"

" Ih Cakka..... Abis dirumah sakit tamannya ga ada airmancur jadi gak enak..."Kata Shilla

" Benar nih ga ada alasan lain? Atau jangan-jangan kamu mau bertemu Dokter Deva lagi..."

" Cakkaaaaaa.... Negatif thinking deh... Orang bukan mau ketemu Dokter Deva..."

" Kamu juga tadi negatif thinking sama aku... Berarti benar kamu kamu mau ketemu seseorang disini...."

Shilla gelagapan...

" Eh.. Gak kok... Yaudah yuk balik...." Shilla menarik tangan Cakka...

Cakka bisa membaca ada sesuatu yang Shilla sembunyikan tapi dia tak mau mempermasalahkannya... Soalnya sebentar lagi dia harus pergi ke klinik anak... Tak sempat makan siang kalau seperti ini...

>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Jam sudah menunjukan pukul 19:00... Ketika Cakka baru menyelesaikan tugasnya sebagai dokter anak... Belakangan ini banyak anak-anak mengalami Gangguan pernapasan karena udara Jakarta yang terganggu polusi asap kendaraan yang tak sehat untuk dihirup... Banyak juga yang mengalami batuk-batuk karena konsumsi snack yang tidak sehat... Ada berbagai macam penyakit pada anak yang dikarenakan udara, gizi, lingkungan dan lain-lain... Semakin maju dan canggih segala sesuatu didunia ini... Semakin banyak penyakit yang muncul...

Ia memasuki ruangannya... Mau mengambil tas dan kunci mobil sebelum pulang kerumahnya...

Diatas mejanya ada sekotak makanan yang dibungkus... Cakka membukanya... Didalam ada Gado-gado kesukaannya...
Serta secarik kertas disampingnya...

' maaf mas Cakka... Ify lancang masuk keruangan mas... Cuma mau ngasih gado-gado ini buat mas... Ify tahu mas Cakka belum makan dari tadi siang... jadi Ify bawain ini buat mas... Selamat menikmati...

-Ify-'


Cakka tersenyum mengambil Gado-gado tersebut... Membawa tasnya serta mengambil kunci mobilnya... Hendak keluar tapi sepertinya dia lupa akan sesuatu....

Zebra Cake...

Cakka membuka lemari mengambil sekotak Zebra Cake pemberian Shilla... Lalu berjalan keluar mengambil mobilnya dan melaju menuju rumahnya....

>>>>>>>>>>>>>>>>

Oik terdiam ditempat tidurnya pikirannya kembali tidak tenang.... Kali ini dia sudah tidak memikirkan tentang Obiet...
Tadi dia sudah bertekad untuk melupakan Obiet... Yang dipikirannya hanyalah Mama dan Papanya...
Tadi sepulang dari rumah sakit Oik mendengar Mamanya sedang menelepon Papanya dan terjadi pertengkaran yang hebat sekali...
Makanya Ia jadi takut lagi... Dia menjadi sedih kembali....

Tiba-tiba badannya Gemetaran... Keringat dingin mengucur ditubuhnya... Wajahnya pucat pasi.... Dingin....
Oik butuh kehangatan....

Tak beberapa lama kemudian Mamanya masuk kedalamnya... Dan panik melihat Oik seperti itu...

" Oik kamu kenapa nak? Sakit?" Tanya mamanya yang segera mendekat keranjang Oik...

Tak ada Jawaban dari Oik... Tubuhnya semakin bergetar.... Dingin yang Ia rasakan menusuk kulit...

Mama Oik panik segera memeluk Oik... Oik merasa kehangatan memang tapi tetapi tidak untuk ketenangan...

Tak berlama-lama mamanya dengan susah payah mengangkat Oik seperti anak kecil padahal badan Oik dengan mamanya hampir sama... Akhirnya dibantu pembantu-pembantunya Mama Oik berhasil memasukan Oik kedalam mobil...

Dan menyuruh sang supir mengantarkannya kerumah Sakit...

^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^

Kamis, 03 Februari 2011

Speak Now or NEVER! -Part 1-

Cerbung kawan-kawan... Doain saya yah semoga cerbung ini tidak bernasib sama dengan cerbungku yang lain...

Oke part 1 cekidot!



Cakka dan Shilla berjalan beriringan disebuah koridor rumah sakit dengan menggunakan pakaian serba putih-putih membawa stetoskop masing-masing melingkar dileher mereka... Mereka adalah dokter dirumah sakit itu... Dokter muda yang ganteng dan cantik itu menyebabkan banyak orang berbondong-bondong berobat kerumah sakit itu... Shilla adalah dokter penyakit dalam sekaligus dokter bedah sedangkan Cakka adalah dokter anak sekaligus seorang psikolog... Usia mereka menginjak angka 25tahun dan itu masih sangat muda untuk ukuran Dokter sukses seperti mereka...

Apalagi mereka adalah sepasang kekasih yang sudah 5 tahun menjalin hubungan membuat mereka sering disebut sebagai 'Perfect Couple' Oleh orang-orang rumah sakit maupun khalayak ramai...

Mereka berpisah dipertigaan rumah sakit... Cakka menuju kesebelah kiri menuju ketempat ruangannya berada sedangkan Shilla berjalan kesebelah kanan ke ruang operasi karena hari ini ada pasien yang akan dioperasi...



Cakka tiba diruangannya segera duduk dikursi... Duduk santai hari ini lumayan longgar dia hanya membuka konsultasi psikologis... Karena untuk dokter anak hari ini bukan jadwalnya...

Cakka belum makan pagi perutnya terasa keroncongan... Maka Ia memutuskan untuk pergi ke kantin rumah sakit mencari makanan yang mungkin bisa mengganjal perut...



Baru saja Ia berdiri dari kursinya terdengar ketukan pintu...



Dia akhirnya duduk kembali...



" Ya silahkan masuk..."



Seorang perawat masuk kedalam...



" Maaf dok... Ada seseorang yang ingin berkonsultasi dengan anda..."



" Ya... Silahkan masuk saja..."



Perawat itupun keluar tak beberapa lama kemudian wanita paruh baya masuk kedalam... Wajahnya tampak kusut dan menangis tersedu-sedu... Sepertinya dia punya masalah yang cukup berat...

Wanita itu duduk dihadapan Cakka... Cakka mendiamkan wanita itu beberapa saat sampai dia tenang... Setelah merasa wanita itu cukup tenang Cakka kemudian bertanya kepada wanita itu...



" Selamat pagi Bu... Ada yang bisa saya bantu? Maaf saya bicara dengan Ibu siapa?"



" Bu Uci...Ada Dok... Masalah yang cukup berat..."



" Ceritakanlah..."



" Dok... Saya punya anak Gadis... Anak saya punya seorang kekasih yang sangat dia sayangi... Tapi beberapa minggu yang lalu dia putus dari pacarnya dan itu membuatnya sangat depresi murung-murung kerjaannya hanya mengurung diri dikamarnya... Tak mau bicara dan keluar menemui kami orang tuanya... Dan 3 hari lalu dia mendengar bahwa pacarnya itu meninggal karena kecelakan dan membuatnya makin down... Gak mau makan dan beberapa kali mencoba melakukan hal yang tidak diinginkan... Dia beberapa kali mencoba bunuh diri... Tapi selalu saya gagalkan... Saya takut dia melakukannya kembali Dok...hiks" Kata Ibu itu kembali tersedu-sedu...



Cakka mendengarkan dengan seksama penuturan Ibu itu...



" Kalau saya boleh tahu ... Anak anda umurnya berapa yah?" Tanya Cakka



" 18 tahun..."



" 18 tahun sebenarnya sudah lumayan dewasa dalam bersikap... Tapi anak anda terlalu labil untuk anak seusia 18tahun... Saya rasa ada sesuatu yang menekan dia tak hanya itu... Bisakah saya bertemu dengannya?"



Ibu itu menatap Cakka...



" Tidak sekarang... Mungkin besok anda bisa membawanya kemari... Aku ingin melihat keadaannya dan melakukan beberapa pemeriksaan padanya"Kata Cakka kemudian...



Ibu itu mengangguk...



" Yang anda harus lakukan menjaga anak anda sebaik mungkin... Jauhkan dari segala benda-benda bahaya... dan jangan membuat anak anda tambah down...Anda harus menjaganya tapi jangan terlalu overprotectif karena itu akan membuatnya risih" Kata Cakka



" Baiklah dok... Saya permisi dulu... Terima kasih..." Kata Ibu itu lalu pergi dari situ...



>>>>>>>>>>>>>>



Cakka bergegas melangkahkan kakinya menuju kantin... Perutnya semakin tidak ingin berkompromi... Setelah konsultasi Ibu tadi ternyata masih ada pasien-pasien lain...

Belakangan ini sangat banyak remaja labil yang melakukan apa saja yang buruk setelah gagal dalam percintaannya... Pikir apa mereka sampai nekat melakukan hal-hal yang aneh? Rata-rata orang tua yang berkonsultasi dengan Cakka tentang anak-anak remaja mereka yang labil...

Jadinya Cakka baru bisa makan pada pukul 12:00 tanggung, jadilah dia tak makan pagi hanya makan siang...

Hampir setiap hari dia seperti ini... Tak ada yang memasakannya di Pagi hari... Karena Cakka tak mempekerjakan pembantu dirumahnya yang besar... Bukan pelit atau apa... Cuma dia tak punya waktu untuk menghubungi pihak Agen pembantu... Tiap kali ada waktu lowong dia pasti lupa....Dia hanya tinggal bersama dengan kakaknya Zahra yang berprofesi sama dengannya seorang Dokter... Jadi Zahra hanya memasakan Cakka pada malam hari itupun kalau sempat... Cakka takut bila Ia tidak menjaga pola makannya Dia juga bakal ikut-ikutan sakit....



Cakka melangkahkan kakinya dengan gontai menuju salah satu tempat duduk dikantin... Terlihat dari tempat duduknya Ozy seorang dokter spesialis mata dirumah sakit itu sedang duduk bersama pacarnya Acha... Acha memang setiap hari membawakan rantangan makanan untuk Ozy... Cakka sangat jealous melihat mereka berdua mengingat Shilla tak pernah memasak untuknya karena kesibukannya yang sama dengan Cakka seorang Dokter... Huh!



Cakka kembali berjalan ke pantry kantin tersebut... Disana menunggu seorang Gadis penjaga kantin yang usianya 1 tahun lebih muda dari Cakka...



" Selamat siang Mas Cakka... Mau pesan apa?" Tanya Gadis penjaga kantin itu...



" Seperti biasa Fy..."Kata Cakka



" Oke... Segera..." Katanya Lalu masuk kedalam tak lama kemudian keluar dengan secangkir teh hangat dan Gado-gado...



" Mas Cakka sibuk yah hari ini?" Tanya Ify



" Seharusnya gak Fy... Soalnya hari ini bukan jadwal aku di klinik anak hari ini tugasnya Dokter Rio... Cuma tadi banyak yang konsultasi Psikologis..."



" Oh yah?"



" Iya... Biasalah... Belakangan ini banyak anak-anak muda yang labil apalagi masalah percintaan padahal ada yang belum saatnya... sehingga menyebabkan mental mereka terpengaruh..."



Ify mengangguk-angguk tanda mengerti...



" Oh ya, Mas Cakka kok gak bareng mbak Shilla...?"



" Oh Shilla... Lagi ada operasi kayaknya..."



Cakka memutuskan untuk duduk di pantry sambil meneguk secangkir teh hangat dan sesekali meyuap gado-gado kedalam mulutnya...



" Mas Cakka sama Mbak Shilla kapan menikah? Kalau menikah undang Ify..." Cakka yang sedang meneguk teh mengeluarkannya karena kaget sehingga baju Ify basah...



" Humph... Maaf Fy... Gak sengaja aku... Kaget dengan pertanyaanmu itu" Kata Cakka panik sambil membersihkan tumpahan teh dibaju Ify walaupun dia tahu bakalan nihil...



" Gak usah Mas... Gak apa-apa kok ntar mbak Shilla marah lagi mas...hihi... Kok kaget mas...? Orang seusia Mas Cakka dan Mbak Shilla seharusnya gak kaget dengan pertanyaan Ify tadi... apalagi Mas Cakka sama Mbak Shilla pacarannya udah lama dan serasi lagi..."Kata Ify



" Entahlah Fy... Aku belum memikirkannya sampe situ..."



" Oh ya Mas... Mas suka makan Gado-gado apa kenyang yah mas?"



" Ya kenyang lah Fy... Pertanyaan kamu aneh deh... Aku suka gado-gado karena banyak sayurnya... Supaya sehat toh... Apalagi Gado-gado buatan kamu...hehehe" Cakka terkikik...



Ify tersipu...



Shilla yang melihatnya segera menghampiri mereka...



" Ehem.... Lagi asyik nih aku ganggu gak?"Tanya Shilla duduk disamping Cakka



" Eh Shilla... Udah selesai operasinya...? Udah makan siang?"



" Udah... Kalau belum ya aku gak disinilah... Tapi aku Belum makan siang... Padahal aku mau ngajak kamu ke restoran tapi kamunya malah makan disini..."



" Kan makanan disini enak juga gak kalah sama direstoran apalagi makanan khas indonesia yang bergizi dan banyak vitamin baik untuk kesehatan kita... Kamu mau makan apa Shill? Coba gado-gado buatan Ify enak..."



" Yasudah deh... Aku coba..."Kata Shilla...



" Fy Gado-gadonya satu lagi yah..." Kata Cakka...



Ify segera masuk kembali kedalam dapur... Shilla ingin juga merasakan makanan kesukaan Cakka yang dibuat oleh Gadis penjaga kantin bernama Ify itu... Bagaimana sih rasanya? Sampai-sampai Cakka sering menolak ajakan Shilla untuk makan di restoran mahal dan hanya ingin makan Gado-gado buatan Ify...



Tak lama kemudian Ify keluar membawa sepiring Gado-gado... Dan memberikannya kepada Shilla...



" Makasih yah..." Kata Shilla



" Sama-sama..."



Shillapun memakan Gado-Gado buatan Ify tersebut... Rasanya benar-benar lezat belum pernah Ia merasakan Cita rasa makanan seperti ini direstoran manapun... Tapi Shilla tak ingin menunjukan rasa kagumnya itu.. Makanya dia makan seperti biasa...



" Shilla, Bentar malam kamu sibuk gak? Kerumahku yuk... Aku kesepian kak Zahra praktek malam... Gak ada yang masakin aku..."Kata Cakka



" Huh aku gak tahu Cakka... Doain aja semoga ga ada pasien yang tiba-tiba datang kayak waktu itu... Kamu tahu kan aku ga bisa masak... Kalau mau kita makan diluar aja yah sebentar malam..." Kata Shilla



" Oh.. Ya udah... Aku tunggu yah sebentar malam di Restoran PurpleGrape jam 8..."Kata Cakka...



" Dokter Shilla ditunggu diruang bedah... Terima kasih..." Suara microfon pemanggil berkumandang...



" Cakka... Aku harus segera pergi...daaa.."Kata Shilla yang baru setengah memakan Gado-gadonya.. Lalu membersihkan mulutnya dengan Tissue kemudian mengecup Pipi Cakka...

Lalu berlalu dari hadapan Cakka dan Ify...



>>>>>>>>>>>>>>>>>



Cakka menunggu dengan Cemas di PurpleGrape Restoran... Sudah hampir setengah jam menunggu tapi sosok Shilla tak tampak-tampak... Beberapa kali dia mencoba mengirim BBM kepada Shilla tapi Pending...

Sepertinya Shilla masih sibuk maka dari itu Cakka memutuskan untuk sebentar lagi menunggu Shilla...



Sudah 45 menit dia menunggu Shilla tak kunjung datang... Tiba-tiba alerts tanda BBM masuk berbunyi... Itu dari Shilla...



Sayang, maaf yah... Aku gak bisa datang... Soalnya tadi ada pasien lagi... Trus pas pulang Papa ngajak aku ketemu kerabatnya.. Aku gak enak menolaknya...



Begitulah bunyinya... Cakka tersenyum pahit membacanya... Kemudian dia memanggil pelayan dan memesan makanan...



Jadilah Cakka makan sendirian lagi... Memang begini nasibnya setiap hari kalau Zahra tak dirumah...



>>>>>>>>>>>>>>>



Cakka mengendarai mobil BMWnya menyusuri jalan ibukota... Dia baru saja dinner sendirian di Restoran...



Ditengah perjalanannya...



Seorang Gadis mendadak didepan mobilnya yang membuat Gadis itu hampir tertabrak...





' CIIIIITTTTTTTTTT' Suara rem mobil Cakka menghentikan mobilnya agar tidak menabrak gadis tersebut...



Nyaris...



Cakka segera turun dari mobilnya menghampiri gadis tersebut...



Cakka ingin memarahinya... Tapi! Dia melihat tatapan mata Gadis itu kosong... Dia pasti punya masalah besar... Cakka seorang Psikolog sangat tahu dengan kejiwaan seseorang...

Makanya Cakka tidak jadi memarahinya...

Dia merangkul Gadis itu....



" Kenapa dek? Punya masalah?"Tanya Cakka halus...



Gadis itu menatap Cakka lagi dengan tatapan kosong...



" Kalau punya masalah bukan begini cara menyelesaikannya..." Katanya Lagi...



Gadis itu tiba-tiba menangis lalu memeluk Cakka dengan erat... Cakka kaget!

Dan refleks membalas pelukan Gadis itu...



" Ayo nangis sepuasnya kalau itu dapat membuat hatimu lega..." Ucap Cakka kembali...



Gadis itu menangis makin menjadi-jadi... Setelah beberapa saat kemudian melepaskan pelukannya...



" Maaf mas..."Katanya



" Gak apa-apa... Yasudah... Sini aku antar pulang gak baik anak Gadis malam-malam jalan sendiri..." Kata Cakka menuntun Gadis itu masuk ke mobilnya...



Kemudian melaju kembali...



" Rumah kamu dimana?"



" Di Jalan Garuda Blok C..."Katanya dengan tatapan lurus kedepan...



Cakka tak mau bertanya-tanya banyak tentang masalahnya karena dia tahu akan membuat Gadis itu semakin memburuk...

Gadis itu memegang kedua lengannya... Sepertinya kedinginan... Cakka membuka jaket ungu miliknya lalu membungkuskan kepada Gadis itu...



" Pakailah... Kamu pasti kedinginan..."



" Terima kasih..."



Tak lama kemudian mereka tiba disebuah rumah yang lumayan besar dan mewah dengan pagar besi tinggi nan kokoh dan pencakar langit berdiri kokoh menahan rumah tersebut... Rumah berwarna crem dengan unsur etnik yang menarik...



" Ini rumahmu?"



Gadis itu mengangguk...



" Aku antar masuk?"



Gadis itu menggeleng...



" Yasudah hati-hati..."Katanya lagi



Gadis itu keluar dari mobil Cakka membuka pagar besi itu lalu masuk kedalamnya...



Tiba-tiba Cakka menepuk jidatnya...



" Aku belum tahu namanya... Aku lupa menanyakannya"



>>>>>>>>>>>>>>>>



Cakka tiba dirumah sakit... Hari ini dia sendirian berangkat kerumah sakit karena Shilla telah berangkat duluan... Shilla memang lebih sibuk darinya... Tadi pagi-pagi sekali Shilla ditelepon pihak rumah sakit untuk segera kerumah sakit... Makanya Dia tak datang bersama Cakka...



Cakka membuka ruangannya berjalan ke mejanya... Diatas meja tergeletak sekotak kue kesukaan Cakka ... Zebra Cake...



Diatas Cake tersebut ada kartu ucapan...



' Smile please... :) Maaf ya sayang... Tadi malam sama pagi ini aku ga bisa bareng kamu... Zebra Cake untukmu sebagai permintaan maafku...



with love,

Shilla <3 '



Cakka tersenyum Simpul membaca surat tersebut... Walaupun Shilla sibuk ternyata dia masih peduli dengan Cakka dan masih ingat Kue kesukaannya...



' Tok...tok...tok...' Pintu diketuk



" Ya masuk..." Ucap Cakka...



Seorang perawat masuk kedalam...



" Misi Dok... Ibu yang kemarin datang membawa anaknya..." Kata Perawat tersebut...



" Oh ya... Suruh masuk..." Kata Cakka sambil menyimpan Zebra Cake yang diberikan Shilla didalam sebuah lemari tak jauh dari situ...



Tak beberapa lama kemudian seorang Ibu bersama seorang Gadis masuk kedalamnya...



Cakka berbalik... Dia melihat tampak sosok Ibu yang kemarin bersama Gadis yang begitu familiar... Gadis manis berambut panjang sebahu dengan T-Shirt putih dan bando Pink manis menghiasi rambutnya...

Tatapannya yang awalnya kosong... Berubah kaget melihat Cakka didepannya...



^.^.^.^.^.^.^.^