Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Mei 2012

Baby Proposal [One Shoot]

Baby Proposal

Prolog

Bruumm... Bruumm... Cakka meramas kuat gas cagiva-nya yang menimbulkan kebisingan di sekitarnya. Asap knalpot membuat polusi udara, namun dia tak peduli. Cagiva itupun melaju menyusuri jalanan dengan kecepatan tinggi, dan semakin tinggi. Dia sangat kesal, amarah di dalam dirinya berada pada titik puncak, darahnya sudah mendidih. Cakka merasa percuma memperjuangkan gadisnya itu, setelah segala upaya dilakukannya meyakinkan kedua orang tuanya terhadap gadisnya itu, dia malah menemukan pemandangan yang tidak mengenakan mata tadi. Gadisnya sedang 'berdua' dengan musuh bebuyutannya. Okay, mungkin kalau hanya berdua, Cakka tak akan semarah ini, tapi... You know-lah.
Cakka menyelip kendaraan secara sembarangan, melewati jalan-jalan dengan kecepatan diatas rata-rata. Bahkan, dia melewati jalan-jalan yang belum pernah di lewatinya. Tiba-tiba seekor kucing hendak menyebrang di sebuah jalan, membuat Cakka refleks membanting stir cagiva-nya. Niat hati ingin menghindar agar tidak menabrak kucing... Tapi...
BRUUUUKKK!!
Cakka malah menabrak seorang wanita...

***

1. The Beginning of Disaster

Ponsel Cakka berdering saat melangkah menyusuri halaman kampusnya. Segera ditengoknya layar ponselnya tersebut. Tertera  “Ayah memanggil” Cakka segera menekan tombol hijau pada ponselnya hendak mengangkat panggilan Ayahnya tersebut.
...Hallo...
...Hallo, Cakka cepat ke rumah sakit sekarang...
...Kenapa Yah? Sivia kritis lagi yah?...
...Bukan, dia sudah siuman, kamu cepat kemari...
...Oke, Cakka segera kesana...
Cakka segera mengakhiri sambungannya dan kembali ke M3 miliknya. Dia segera memacu M3-nya itu menuju sebuah rumah sakit yang letaknya tidak begitu jauh dari kampusnya. Dia bergegas menuju ruang intensif rumah sakit tersebut. Di depan ruang intensif, Bundanya Cakka terlihat sedang menunggunya. Cakka segera menghampiri Bundanya itu.
“Cakka,” sapa Bundanya yang nampaknya khawatir.
“Ada apa Bun?,”
“Gawat Kka...ehm, Sivia, itu wanita yang kamu tabrak, sudah siuman, tapi...,” kata-kata Bunda Cakka menggantung.
“Tapi kenapa Bun?,” tanya Cakka sambil mengerutkan alisnya, dalam hati dia khawatir akan apa yang akan Bundanya sampaikan.
“Tapi...dia mau menuntut kamu,” kata Bundanya semakin terlihat panik.
“APA?!,” mata Cakka terbelalak.
“Kamu tenang dulu Kka,”
“Gimana bisa tenang Bun, masa Cakka mau dituntut sih? Padahal Cakka kan sudah bertanggung jawab membiayai rumah sakitnya, Bunda sama Ayah juga sudah menyelesaikannya dengan keluarga Sivia kan? Trus? Dia tidak bisa seenaknya dong menuntut Cakka,”
“Iya makanya kamu tenang dulu, tadi kita sudah menjelaskan pada Sivia, trus dia berterima kasih, tapi dia tetap mau menuntut kamu kalau kamu tidak menerima satu persyaratannya lagi,”
“Persyaratan apa Bun?,”
“Bunda juga tidak tahu, dia mau bicara langsung sama kamu, ayo masuk,” ajak Bunda Cakka.
Merekapun masuk ke dalam ruang intensif tersebut. Di dalam sudah ada Ayahnya Cakka, beserta seorang gadis seumuran Cakka. Itu Oik, adiknya Sivia, wanita yang di tabrak Cakka. Oik mewakili keluarga Sivia, dan Oik adalah satu-satunya keluarga Sivia. Dua bulan lalu mereka baru kehilangan kedua orang tua mereka dan suami Sivia dalam sebuah kecelakaan, waktu mereka akan menjalankan bisnis di luar kota. Sivia dan Oik waktu itu tidak ikut makanya mereka bisa lolos dari maut. Cakka mendekat ke arah mereka, tampak Sivia masih dengan alat bantu pernapasan. Dia terlihat lemah, tapi dia membuka matanya tanda dia sadar, sesekali mengerjapkan matanya.
“Oik... Lola mana?,” tanya Sivia dengan suara lemah.
“Di rumah kak...aku titip sama Mbok Sanah...aku kan tak mungkin bawa Lola kemari kak, kakak kangen yah sama Lola?,” Sivia mengangguk perlahan bulir air matanya jatuh membasahi pipinya.
Cakka agak bingung dengan yang terjadi di hadapannya. Dia berbisik dan bertanya pada Bundanya.
“Bun... Lola itu siapa sih? Bukannya keluarganya Sivia tertinggal Oik yah?,”
“Tadi Bunda sempat ngobrol sama Oik, ternyata Sivia itu punya anak yang baru berusia tiga bulan, nah Lola itu anaknya,”
“Oh,” Cakka mengangguk-angguk.
“Orang yang nabrak aku sudah datang Ik?,” tanya Sivia.
Oik menatap Cakka, Cakka agak mendekat dengan takut-takut diiringi anggukan Oik.
“Saya , aduh maaf banget, saya tidak sengaja,” sesal Cakka.
Sivia menyunggingkan senyum sinis di sudut bibirnya, “Kamu pikir cukup hanya dengan minta maaf,”
“Saya rela melakukan apa saja yang anda mau, asal jangan depak saya ke penjara, plis jangan laporin saya ke polisi,” kata Cakka hopeless sekaligus takut.
“Kamu yakin? Mau melakukan apa saja?,” tanya Sivia nadanya terdengar melemah.
“Yakin...saya yakin,”
“Baiklah...,” Sivia terdiam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya, “Oik, kamu segera panggil pengacara keluarga kita, Kakak mau mengajukan proposal untuk orang ini,” Sivia menatap Oik kemudian berpaling lagi menatap Cakka, “kamu mau kan kalau saya pakai proposal?,”
Dengan cepat Cakka mengangguk. Tidak ada pilihan lain selain setuju dengan apa yang Sivia katakan. Dia tak ingin masuk penjara. Apa kata dunia nanti? Cakka masih ingin menyelesaikan kuliahnya, Cakka masih ingin menikmati kebebasan hidupnya, Cakka masih ingin berlaku seperti pemuda pada umumnya. Dia tak mau terkekang di dalam penjara!
“Baiklah, nanti kalau sudah selesai proposalnya, kamu kembali lagi kemari,”

***

Sentakan kaki Cakka terdengar menyusuri koridor rumah sakit. Setelah beberapa hari yang lalu, sejak pertemuan Sivia dengan pengacara untuk mengatur proposal, tiba-tiba dia kritis lagi. Tadi Bunda Cakka telepon, bahwa Cakka harus segera ke rumah sakit. Walaupun sebenarnya tadi ada kelas, Cakka memutuskan untuk bolos. Dari nada Bundanya sepertinya dalam keadaan genting.
Tiba di depan ruang intensif, Cakka segera membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Ruangan sepi, yang terdengar hanyalah isak tangis seorang gadis di samping tempat tidur Sivia yang terbujur kaku. Itu tangisan Oik, di samping Oik ada seorang wanita paruh baya yang mengelus-ngelus punggungnya seraya menenangkan Oik sambil menggendong seorang bayi. Cakka terdiam sesaat di depan pintu, mencoba menyerap apa yang terjadi di hadapannya saat ini. Perlahan-lahan terpekik dalam hatinya... ‘ya ampun’. Cakka bergeming di depan pintu, dia masih shock dengan apa yang terjadi. Ayah dan Bunda Cakka yang menyadari kehadiran Cakka segera berdiri dan mendekati Cakka. Ayahnya menepuk bahu Cakka.
Be a gentleman, kamu harus bertanggung jawab dengan semuanya ini,” kata Ayahnya.
“Tenang sayang, ingat masih ada proposal, Bunda harap apapun yang ada di proposal almarhumah Sivia kamu harus menyanggupinya, Bunda tak mau anak Bunda jadi seorang pengecut,” lanjut Bundanya.
Cakka mencoba menetralisir keterkejutan yang ada pada dirinya. Dia mencoba melangkah mendekati Oik, perlahan....dan perlahan, hingga tiba di samping Oik. Dia menatap Sivia yang sudah terbujur kaku lalu duduk di samping Oik, dan menatap gadis yang ada di sampingnya itu.
“Maaf,” kata itu saja yang bisa meluncur dari mulut Cakka.
Oik memalingkan pandangannya ke arah Cakka dan menatapnya dengan tatapan nanar. Membuat nyali Cakka semakin ciut, dia pasrah dengan apa yang akan di lakukan Oik padanya. Oik bisa menamparnya sesuka hati, bisa memukulnya juga, memakinya juga silahkan. Oik bebas melakukan apa saja padanya. Karena Cakka pikir dia memang seorang pembunuh yang telah membunuh kakaknya. Dia memang kejam. Sebisa mungkin dia membalas tatapan Oik bukan dengan tatapan menantang, melainkan rasa bersalah dari dalam hatinya.
Air mata Oik luruh, dia merasa orang yang paling mengenaskan sedunia. Dua bulan lalu dia kehilangan orang tuanya dan kakak iparnya, dan hari ini dia kehilangan kakak tercintanya. Terkadang sebagai manusia dia merasa bahwa Tuhan itu tidak adil di dalam hidupnya, namun dia tetap yakin bahwa rencana Tuhan itu, beautiful in it’s time. Dia merasa sendiri di dunia ini, setelah kakaknya pergi apa yang harus di lakukannya? Ayah dan Bundanya boleh mewariskan kekayaan yang tak akan habis sampai tujuh turunannya, tapi bukan itu yang dia mau. Dia menyadari, bahwa setelah ini tak akan lagi kehangatan keluarga seperti dulu, saat mereka semua masih ada di dalam dunia ini. Oik menatap lelaki yang ada di sampingnya waktu itu, dalam hatinya dia marah semarah-marahnya pada lelaki di hadapannya itu. Dia ingin menjambak rambut lelaki itu, ingin memakinya, ingin melihat dia hidup mengenaskan di dalam penjara. Tapi, tatapan lelaki itu begitu teduh, namun penuh penyesalan. Kata-kata yang Oik akan luncurkan tertahan di mulutnya. Di luar kendalinya, dia malah meraih lelaki itu dan memeluknya, menaruh kepalanya di pundaknya dan menangis sejadi-jadinya. Oik memang sedang butuh a shoulder to cry on, dia tak mungkin menangis di pundak Mbok Sanah yang sedang menggendong Lola. Lelaki di sampingnya inilah yang mungkin bisa menjadi a shoulder to cry on. Meski lelaki ini adalah pembunuh kakaknya.
Cakka kaget ketika Oik bukan menamparnya, bukan memakinya, ataupun memukulnya tapi malah memeluknya dan menangis di pundaknya. Air mata Oik membasahi kemeja yang Cakka kenakan. Isak tangisnya semakin menjadi. Cakka jadi bingung apa yang harus dilakukan kepada gadis yang sedang memeluknya ini. Dia mencoba mengangkat tangan kanannya dan membelai rambut Oik, lalu tangan kirinya mengusap punggung Oik. Lidahnya kelu untuk mengeluarkan kata-kata. Mungkin, jika dia berbicara akan membuat situasinya semakin parah. Wangi sampo Oik menari-nari di hidung Cakka yang berada begitu dekat dengan rambutnya.
Beberapa menit menangis di pundak Cakka, Oik mengangkat kepalanya dan beristirahat di dada Cakka. Isak tangisnya sudah berhenti tapi dia masih membutuhkan ketenangan. Dan lelaki ini memberinya ketenangan itu. Oik merasakan tangan Cakka berhenti mengusap punggungnya, dan membalas pelukan Oik itu. Oik menutup matanya, menarik napasnya panjang-panjang, sensasi benetton sport terasa di indera penciumannya. Biasanya Oik paling tidak menyukai wangi parfum cowok-cowok yang sampai menyesakkan hidungnya, tapi entah kenapa tidak begitu dengan Cakka.
Cakka menekan dagunya di puncak kepala Oik, sebelum mengeluarkan sebuah kalimat...
“Jangan menangis lagi, maafkan aku,”
Oik membuka matanya kembali, seakan kesadarannya kembali, dia segera menjauhkan diri dari dadanya Cakka dan menghapus sisa-sisa air mata di tepi matanya dan di pipinya.
“Besok setelah pemakaman, kita bertemu di kantor pengacara, ku harap kau tidak lupa dengan proposal yang diajukan kak Sivia tempo hari,”

***

Cakka turun dari SUVnya tepat di halaman sebuah gedung lebih tepatnya di kantor pengacara keluarga Oik. Dia segera memasuki kantor tersebut, dan segera menuju ke ruangan kantor pengacara tersebut. Sesuai permintaan Sivia dahulu, Cakka harus datang ke kantor pengacara sendiri tanpa membawa orang tua. Di tuntun oleh seorang pegawai Cakka masuk ke dalam ruang pengacara tersebut. Di dalam Oik bersama Mbok Sanah yang sedang menggendong lola telah berada di dalam.
Cakka duduk di samping Oik tepat di hadapan sang pengacara. Sang pengacara mengambil sebuah map yang berisi proposal yang di buat Sivia sebelum dia meninggal. Membukanya, dan menatap Cakka dan Oik secara bergantian.
“Kalian siap?, bisa saya mulai membacakannya?,” tanya sang pengacara.
Cakka dan Oik mengangguk secara bersamaan.
“Pada hari ini Senin tanggal tujuh April dua ribu dua belas, berhadapan dengan saya Mario Stevano Aditya Haling, Sarjana Hukum, Magister Hukum, advokat di Jakarta, penghadap bersama saksi-saksi yang akan di sebutkan pada akhir akta ini. Satu, Sivia Azizah lahir di Jakarta pada tanggal empat belas Pebruari seribu sembilan ratus delapan puluh sembilan, Warga Negara Indonesia, Wiraswasta, bertempat tinggal di Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jalan Pegangsaan Timur nomor tujuh puluh dua, Nomor Induk Kependudukan tujuh dua titik tujuh tiga dua enam titik lima empat kosong dua delapan tujuh kosong kosong dua satu, sebagai penghadap atau disebut juga pihak pertama menyatakan dengan ini mengajukan proposal kesepakatan kepada dua, Cakka Kawekas Nuraga, lahir di Bintaro pada tanggal delapan belas Agustus seribu sembilan ratus sembilan puluh dua, Warga Negara Indonesia, pelajar atau mahasiswa, bertempat tinggal di Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jalan Imam Bonjol nomor delapan, Nomor Induk Kependudukan tujuh dua titik tujuh empat dua enam titik delapan belas kosong delapan sembilan dua titik kosong satu dua sembilan atau disebut juga pihak kedua, ada pun uraian proposal yang harus di penuhi oleh pihak kedua yaitu sebagai berikut, satu sehubungan dengan kritisnya dan tidak memungkinkannya pihak pertama, maka pihak pertama menghibahkan anaknya kepada pihak kedua untuk menjaga dan merawatnya selayaknya anaknya sendiri. Dua, apabila terjadi hal-hal yang tidak diingikan kepada pihak pertama atau meninggal maka pihak kedua berkewajiban mengurus, membiayai bahkan mengambil hak asuh atas anak dari pihak pertama dalam hal ini Lola Allison Sindhunata dikarenakan pihak pertama sudah tidak mempunyai keluarga lagi. Tiga, pihak kedua tidak diijinkan untuk memakai jasa baby sitter dalam hal mengurus dan membesarkan Lola. Empat, pihak kedua diharuskan menjamin Lola sama seperti anaknya sendiri. Lima, sepeninggal pihak pertama, pihak kedua harus mengurus dokumen-dokumen yang menyatakan Lola sah menjadi anaknya di mata hukum. Enam, dikarenakan keluarga adik pihak pertama dalam hal ini Oik Cahya Ramadlani tidak ada lagi selain pihak pertama  dan Lola dan apabila pihak pertama sudah tidak ada dan Lola juga akan dialihkan hak asuhnya pada pihak kedua, maka Oik di wajibkan menggantikan pihak pertama sebagai Ibu dari Lola atau dengan kata lain menikah dengan pihak kedua...,”
“APA?!,” Cakka dan Oik sama-sama kaget, mereka melotot sejadi-jadinya lalu secara bersamaan berdiri.
“Sabar dulu Pak Cakka, Bu Oik, proposal ini belum selesai dibacakan, bisa bertanya setelah proposal ini selesai dibacakan,” kata Pengacara menenangkan Cakka dan Oik.
Cakka dan Oik duduk kembali sambil sesekali mencuri pandang dan bergidik ngeri membayangkan yang tadi diucapkan oleh pengacara.
Pengacara pun melanjutkan membaca proposal tersebut, “Tujuh, apabila pihak kedua melanggar atau tidak mau menuruti proposal ini, maka sesuai kesepakatan pihak kedua harus menempuh jalur hukum karena perbuatannya pada pihak pertama, delapan proposal ini juga adalah wasiat terakhir dari pihak pertama apabila nantinya terjadi hal yang tidak diinginkan, demikian proposal ini dibuat dan diresmikan di Jakarta sesuai dengan tanggal yang tertera pada awal proposal dan dengan dihadiri oleh saksi-saksi yakni, Nona Alyssa Saufika Umari yang adalah pegawai kantor advokat beserta Nyonya Khasanah saksi dari pihak pertama, segera setelahnya berturut-turut penghadap, saksi-saksi selanjutnya advokat membubuhkan tanda tangan di atas proposal ini, di langsungkan dengan tanpa suatu perubahan apapun, tertanda penghadap Nyonya Sivia Azizah, saksi satu Nona Alyssa Saufika Umari, saksi dua Nyonya Khasanah, dan advokat saya Mario Stevano Aditya Haling, selesai, ada yang mau bertanya?,” Pengacara itu selesai membacakan proposal yang diajukan Sivia, dan menghadapkan map itu kepada Cakka dan Oik untuk dilihat dan dibaca.
“Pak, kenapa Kak Sivia mewasiatkan saya untuk menikah dengan dia?,” tanya Oik sambil menunjuk Cakka.
“Saya tidak tahu hanya almarhumah yang tahu, yang pasti ini adalah wasiat terakhir sepatutnya dipenuhi oleh anda berdua,” kata Pengacara.
Cakka membaca berulang kali proposal yang ada dihadapannya itu, dia shock berat. Sekarang dia berhadapan dengan dua pilihan yang sangat sulit. Mengabaikan proposal ini yang pasti dia akan masuk penjara dengan rentang waktu yang sangat lama, atau menerima proposal ini menjadi ayah sekaligus mempunyai calon isteri yang ada di sampingnya itu diusianya yang masih muda? Dia belum 20 tahun. Kuliahnya belum selesai dan harus menjadi ayah? Yang benar saja?
Dua-duanya sama-sama akan mengekang kebebasan masa mudanya. Dan dua-duanya tetap akan merusak nama baiknya. Cakka si pembunuh atau Cakka yang punya anak di luar nikah haduh. Dua-duanya sangat membingungkan. Kenapa Sivia memberinya proposal seperti ini? Ini sangat konyol. Tapi dia telah berjanji pada Sivia dan Sivia sudah meninggal, dia berhutang pada Sivia.
“Bagaimana Pak Cakka? Jika setuju silahkan tanda tangan persetujuannya di bawah sini, beserta anda Bu Oik,” kata Pengacara.
“Hah? Dengan saya?,” tanya Oik sambil mengerenyit.
“Ya, soalnya nama anda tercantum di sini,” kata Pengacara.
Cakka dengan ragu mengambil pena dari dalam sakunya. Tangannya terasa kaku hanya untuk menorehkan tinta hitam di atas proposal tersebut. Setidaknya, kalau pembunuh sampai mati dia akan dicap orang-orang sebagai pembunuh, tapi kalau seseorang yang punya anak di luar nikah sekarang sudah agak lazim dan apabila dia menikah dengan Oik nanti cap itupun hilang. Tapi dia tak bisa membayangkan kalau harus menikah dengan Oik, seseorang yang tidak dikenalinya secara pribadi, bahkan tanpa cinta dan diusianya yang masih muda seperti ini. Cakka menarik napasnya sebelum akhirnya menorehkan tanda tangannya di atas materai 6000 pada proposal tersebut.
Pengacara itu menyodorkan proposal itu kepada Oik untuk ditandatangani, Oik meraih pena dan menandatangainya dengan hati-hati, setelah selesai Oik menghela napasnya dalam-dalam. It's gonna be a disaster...


Baca Selengkapnya >>>

Rabu, 25 April 2012

Flirting Message [One Shoot Story]

Flirting Message
“Gue tahu ada sesuatu didalam hati lo yang lo sembunyiin... Hm, lo perlu coba yang satu ini,” Katanya sambil menulis sesuatu diatas origami, kemudian melipat origami tersebut berbentuk bebek-bebekan kertas.
Aku mengerenyitkan dahiku, berusaha meminta penjelasan kepadanya...
Dia segera menyerahkan origami ketelapak tanganku, “Tulislah masalah, keluhan, harapan, cita-cita atau apapun yang sedang berkelebat didalam hati lo diatas origami, terus bentuklah bebek-bebekan kertas dan kita sama-sama lepaskan mereka didanau, biarkan bebek-bebek itu bebas lepas tanda masalah atau keluhan lo bebas lepas, tapi jika itu harapan atau cita-cita yakinlah bebek-bebek itu pergi untuk kembali dan membawamu menggapainya,”
“Kenapa harus bebek? Kenapa nggak perahu seperti Kugy di novel perahu kertas? Kenapa nggak roket seperti film-film? Atau kenapa nggak diterbangkan lewat balon agar mencapai langit dan membawanya kepada Tuhan?,”
“Sebenarnya apapun bentuknya tetap satu tujuan melegakan. Bebek. Hm karena bebek itu adalah salah satu hewan dan hewan itu makhluk hidup, makhluk hidup ciptaan Tuhan, tidak seperti perahu, roket ataupun balon yang hanya merupakan ciptaan manusia, meski kita hanya membuat bebek-bebekan, dan kita ini manusia, akan lebih senang bila kita menjadi follower Tuhan bukan manusia, kau mau coba, Oi’oi?”
Itu... Terakhir kali kita bertemu... Dan hari itu berhasil mengubah segala hipotesisku tentangmu... Yang selama ini salah kusadari...

Prolog

“Oik!,” Bentak sebuah suara. Aku tersentak kaget mendengar suara tersebut. Suara guru fisika ku yang paling killer, bu Cintani. Aku hanya bisa menunduk tanda malu.
“Masa soal segampang ini kamu tak bisa menjawabnya?... Kau tahu ibu sudah mengulang pelajaran ini sebanyak tiga kali pertemuan, masa kamu tidak bisa juga? Makanya kamu jangan sibuk dengan tulisan-tulisan tak jelas yang kamu buat! Perhatikanlah apa yang ibu ajarkan! Ya sudah, kamu berdiri dipojok papan tulis dan Cakka boleh kamu kerjakan soal ini? Biar anak ini melihatnya!,” Kata bu Cintani.
Akupun dengan langkah gontai menuju pojok papan tulis dan berdiri disana. Seorang cowok dengan mata hazel dibalik kacamata minus tebalnya, rambut yang disisir sangat rapi, kerah baju yang dikancing sampai kebagian teratas, celana panjang abu-abu kaki kuda, dan sepatu kets biasa tidak ada bermodel dan tidak bermerk. Dari penampilannya aku yakin kalian semua sepemikiran 'dia ini anak terpintar dikelas' dan dia sangat membuatku kebakaran jenggot. Bagaimana tidak? Okay, aku akui otakku memang standard dan susah untuk menyerap pelajaran apalagi berhubungan dengan angka. Aku juga heran kenapa aku mau-mau saja saat mama dan papa menyuruhku masuk kelas IPA. Yang pasti Cakka, dia adalah bencana bagiku.
Pertama.
Waktu itu aku diberikan soal sama bu Nata, guru bahasa inggris untuk membuat kalimat positive tag-question. Dan memang dasarnya otakku lagi stuck karena baru putus dari pacarku yang seligkuh sama anak SMP. Jadinya, aku tidak bisa menjawabnya. Eh, Cakka langsung nyelonong menjawabnya.
This is your ruler, is'nt it?
Dari situ, bu Nata langsung memarahiku habis-habisan, mengangkat Cakka setinggi mungkin, menyuruhku supaya rajin belajar seperti Cakka. Yah, pokoknya sangat-sangat-sangat menjatuhkanku! Huh!
Kedua.
Dia mempermalukanku pada saat pelajaran kesukaanku bahasa indonesia. Padahal dia tahu kan kalau aku hanya bisa menonjol dipelajaran ini.
Saat itu, kita disuruh bu Annisa membacakan cerpen karangan kita didepan kelas. Aku dengan sangat percaya diri maju kedepan kelas dan membacakan cerpen yang kubuat. Setelah selesai membacakannya, saatnya teman-teman berkomentar, bu Annisa menunjuk beberapa teman-teman untuk berkomentar dan sebagian besar menyukai alur, plot dan gaya bahasa yang aku gunakan. Yang terakhir kali berkomentar adalah Cakka.
“Maaf sebelumnya, ceritanya memang bagus, tapi ada satu yang kurang yaitu rasa, nggak tahu kenapa aku nggak ikut menikmatinya, selain itu sependengaranku banyak kesalahan kata dan kaprah, misalnya mengernyit seharusnya mengerenyit, terus kenapa harus tak bergeming? Bukannya bergeming artinya berdiam, cocok kah kalimat berikut 'dia tak bergeming sedikitpun, hanya bisa menghadapi kenyataan pahit didepannya' agak rancu, ya itu sangat menganggu,”
Begitulah, aku sedikit tidak terima! Dan ingin melihat bagaimana karyanya. Siapa tahu lebih parah dariku. Namun, setelah dia membacakannya, aku tak bisa banyak protes. Sungguh! Sastra yang indah. Membuat nilainya lebih tinggi dari nilaiku. Awkward banget.
Tak cuma itu, masih banyak lagi kejadian yang berhubungan dengan pelajaran dan memalukan untukku karena Cakka! Apalagi guru-guruku yang sangat terlihat menyayanginya. Err.
Cakka maju kedepan dan tak sampai lima menit dia sudah menyelesaikan soal fisika yang super duper triple panjang rumusnya. Perasaanku berubah tidak mengenakan. Pasti sebentar lagi...
“Oik! Kamu lihat Cakka,” Kata Bu Cintani. Nah benar kan. “Kamu contoh Cakka, bisa nggak kamu jadi anak yang rajin belajar, peduli sama pelajaran-pelajaran sekolah... Blablabla,” Bu Cintani mulai dengan celotehanya yang membuatku muak dan hanya bisa memainkan bola mataku.


Baca Selengkapnya >>

Minggu, 08 April 2012

NatureLoves (project iseng)


Terkadang kau perlu mendengar bisikan angin, dalam mencari cintamu
Terkadang juga kau perlu merintih dibalik hujan, dalam menemukan cintamu
Terkadang pula kau juga harus menyembunyikan mendung dibalik pengharapanmu
Tapi yakinlah satu hal, akan selalu ada mentari terbit menantimu...

Seperti janji Tuhan kepadamu,
"Dibalik dukamu telah menanti harta yang tak ternilai dan abadi"

Ini kisah tentang angin dan tentang hujan...
tentang mendung yang diiringi terbit...

Hanya ada satu kunci untuk menemukan cinta sejatimu
"Be your self"
Jadilah alami dan apa adanya...


Ada yang tanya ini apa -_-?
Ini buku kumpulan sekuelnya Gone With the Wind... baru 4 cerita + 1 chapter (bukan yang in love with the starlight -___-v) spesial :p sih dibuku ini... Soalnya tangan saya sudah gatal buat membukukannya -_-v... jadinya, saya bukukan dulu yang ini.
Kalau misalnya rencana saya tentang sekuel-sekuel itu jadi sesuai harapan :) baru dah dibuat lagi :p


ada yang mau gak nih? palingan gak ada
kalau ada yang mau ._. silahkan aja pesan ._. harganya Rp. 35.000
tapi kalau sekarang masih Pre-Order... kalaupun dipesan mungkin masih antara 1-2 minggu kedepan baru cetak... tapi kalau mau -_-v
Pesannya ke sini dulu kalau masih PO:
lewat e-mail: fhilogicka@gmail.com / ceritacaikers@ymail.com
atau lewat FB saya yang Fhily Sparks
atau gak lewat BBM deh add pin saya 2316ABD7

Oke deh.
Sankyu :)

Return Back With the Rise [One Shoot]

Return Back With the Rise
Terbit yang kunantikan kembali…



Dengannya aku bisa melihat indahnya mentari yang sedang terbit, dengannya aku tahu ternyata pergolakan mentari itu tak sesederhana yang ku kira, dengannya aku bangkit dan berjuang, dengannya aku bangun dari tidur panjang dan memulai hari baru tanpa perlu tidur kembali, dengannya duka menjadi suka, dan dengannya rindu ini terobati...
Ya... Dia, dia bagaikan bintang timur yang baru terbit dan bagaikan fajar yang tengah merekah dihatiku...

** *
Prolog

Bondi Beach, New South Wales.
Keadaan menjelang pagi itu tampak sunyi dan sepi. Yang terdengar hanyalah deburan ombak seakan mengiringi sang fajar untuk segera bangun dari petidurannya. Sepasang kaki menyusuri pasir putih pantai itu. Matanya menatap lurus kearah langit yang masih berwarna kelabu. Dia mengarahkan kedua tangannya keatas kemudian menghirup udara sejuk pagi itu. Mencari ketenangan akan kegundahan yang ada didalam hatinya. Memanjatkan doa kepada pencipta langit dan bumi.
“Semoga kau tenang di alam sana… terima kasih atas pengorbananmu, akan kujaga selalu setiap hembusan nafas dan degupan jantung ini hanya untukmu,”
Dikeluarkannya sebuah harmonika dari dalam sakunya. Mengingatkannya pada seseorang saat mentari terbit dan saat bintang mulai bersinar. Diapun mulai meniup harmonika itu, sehingga nada indah mengalun. Dia mulai menutup matanya, dirinya mulai terhanyut didalam nada-nada indah itu. Semakin dalam dan lebih dalam lagi. Air matanya mulai mengucur, dadanya seakan sesak. Masa itu, tak akan pernah kembali lagi. Tak akan, semuanya telah berlalu menjadi keping-keping dan puing-puing yang hancur lebur. Karena dirinya sendiri yang menghancurkannya. Dia tak sanggup lagi untuk meniup harmonikanya. Harmonika itu jatuh diatas hamparan pasir putih disusul lututnya kemudian kedua tangannya menggenggam pasir putih. Dia menarik nafasnya dalam-dalam, setiap tarikan nafasnya bayang-bayang masa lalunya selalu menghantuinya. Dia tak sanggup lagi…
Wish you were here,” Katanya dengan nada lirih.
Diiringi mentari yang menampakan sinarnya dengan malu-malu. Teringat akan dia kembali…

Sabtu, 17 Maret 2012

Stay Here With the Cloudy [One Shoot]

Stay Here With the Cloudy
Dibalik mendung ada penantian…

(2nd Sequel of Gone With the Wind)

Dibalik tawa renyahnya ternyata ada mendung. Dibalik gembira riangnya ternyata ada mendung. Dibalik senyum hangatnya ternyata ada mendung. Meski mendung menyelimutinya, dia tak lantas hanyut didalam mendung. Dia terus meyakini bahwa suatu saat mentari akan datang menyinarinya sehingga dia tak terus-terusan mendung.
Ya, Dia. Dia yang mengajarkan dan memberitahukan kepadaku bahwa tak selamanya mendung itu kelabu.

***
Prolog

Sengatan mentari tertutup awan, langit seketika berubah menjadi kelabu, hujan hampir saja turun ketika seorang gadis memasuki area sebuah kantor. Gedung kantor itu menjulang tinggi, berdiri kokoh. Tak beberapa lama setelahnya, dia sudah bersama seorang wanita berjalan menyusuri setiap lantai marmer. Hingga tiba disebuah ruangan yang didepannya terpajang sebuah papan bertuliskan Directur. Setelahnya, menyuruhnya untuk masuk kedalam. Dan wanita itu meninggalkannya sendirian.
Ditatapnya, daun pintu ruangan tersebut. Sebelum menyiapkan mental masuk kedalamnya, dia menelan ludahnya. Rasa gugup, takut melebur dalam dirinya. Diapun menarik nafasnya dalam-dalam lalu mencoba membuka pintu ruangan tersebut. Belum sempat disentuhnya, pintu itu sudah bergeser sedikit. Samar-samar dia mendengarkan suara gaduh dari dalam ruangan.
…Hei Fy… please aku gak mau kalau kita putus…
…Aku salah apa sih Fy?...
…Hahaha… apa mungkin ada lelaki lain? Siapa dia? Cari masalah denganku…
…Apa? Bukannya kamu yang egois? Kamu kan yang memutuskan sebelah pihak…
…Please, Fy…
…Hallo… Ify… Ify… Jangan tutup teleponnya…
…Ify… IFYYYYYYYY…
Bruuuuukk---, Kemudian terdengar sebuah benda berbunyi sangat keras, bunyi hantaman sesuatu pada tembok sebelum jatuh berkeping-keping. Sepertinya, lelaki yang ada didalam ruangan itu mencampakan ponselnya.
Seketika wajah gadis itu berubah pucat, dia makin takut untuk masuk kedalam, haruskah dia masuk kedalam menemui ‘calon atasannya’ itu dalam keadaan seperti itu? Tidak mungkin! Tapi bagaimana dengan pekerjaannya? Hari ini jadwal interview, dia tak mau gagal untuk kesekian kalinya. Bagaimana dengan mimpinya? Sementara gadis itu bertengkar dengan batinnya. Tak disangka, pintu terbuka dengan sangat kasarnya. Seseorang dibaliknya keluar, dan kaget mendapati seorang gadis yang tidak dikenalinya berdiri mematung didepan pintu.
“Untuk apa kamu berdiri disitu?,” Tanyanya masih terpengaruh emosi.
“Saya… saya Shilla pak,” Katanya gugup.
“Saya tidak bertanya nama kamu! Kamu tidak mendengarkan pertanyaan saya?! Abeng… Abeng!!!!!!,” Teriaknya.
Seseorang datang, lelaki dengan pakaian necis, sepertinya bawahan lelaki itu.
 “Bawa dia keluar dari kantorku!!!!!,” Usirnya.
“Tapi pak… saya ada jadwal interview dengan bapak disini,” Kata gadis itu.
“Tidak! Kamu tidak diterima dikantor ini… sekarang juga pergiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!!!! Dan bilang juga sama yang lain saya tidak menerima tamu hari ini!,” Katanya dengan emosi yang meluap-luap.

Kamis, 08 Maret 2012

Sea by Heidi R. Kling


Still haunted by nightmares of her mother's death, fifteen-year-old Sienna Jones reluctantly travels to Indonesia with her father's relief team to help tsunami orphans with their post traumatic stress disorder-something Sienna knows a lot about. Since her mother's plane went missing over the Indian Ocean three years before, Sienna doesn't do anything if it involves the ocean or planes, so this trip is a big step forward.
But the last thing she expects is to fall for Deni, a brooding Indonesian boy who lives at the orphanage, and just so happens to be HOT. When Deni hears a rumor that his father may be alive, Sienna doesn't think twice about running away with him to the epicenter of the disaster. Unfortunately, what they find there could break both their hearts.


A compelling summer romance, Sea marks the arrival of a stunning new voice in YA.

---------------

I'm very curious about this novel, because setting of this novel in Indonesia, yeaah my country :D, after tsunami disaster. Not only that, the male character in this novel also an Indonesian. And as you know, the author isn't an Indonesian. So, I'm corious about how the author told us about Indonesia in this novel. I'm very expect with this novel, so I must find and get this novel. I've looked at my subscription ebook site but have not found too. hope that one day I will find this novel. And hopefully one of the publishers in Indonesia who want to publish it in the translation novel version. Hahaha :D

Senin, 05 Maret 2012

Behind the Scene #7

Masih pada ingat cerbung saya yang Behind the Scene? tadi malam saya diteror sama teman-teman CF untuk melanjutkan cerbung tersebut, jadinya setelah vakum beberapa lama saya akhirnya menulis cerbung itu kembaliiii.... yeaaay \m/ monggo dibaca...

***
Don’t ever forget our memories when we were together…
Sebuah kertas dibaca Oik, kemudian dari belakang muncul Cakka sambil menyunggingkan senyum kearahnya. Cakka kemudian duduk disebelahnya.
“Oik jangan pernah lupakan kisah ini yah,” Kata Cakka sambil menatap Oik.
“Kenapa Cakka berkata seperti itu?,” Tanya Oik membalas tatapan Cakka.
“Entahlah, Cakka cuma gak mau aja, suatu saat kita saling melupakan,”
Cakka kemudian mengeluarkan sebuah kamera digital dari dalam ransel yang sedari tadi dibawahnya, “Kita foto yah,” Kata Cakka.
“Untuk apa?,”
“Untuk kenang-kenangan supaya kita selalu ingat akan satu dan lainnya,” Kata Cakka.
Oikpun mengangguk, mereka memperbaiki letak posisi masing-masing dengan beberapa pose. Setelah puas, Cakka mengulurkan tangannya mengajak Oik pergi dari situ.
Kala itu… sepulang sekolah, ditebing kebebasan, tebing yang dinamakan mereka berdua untuk saling mencurahkan isi hati lewat apapun itu, berteriak, menangis, tertawa sepuasnya tanpa ada yang melarang.

Minggu, 04 Maret 2012

Come In With the Rain [One Shoot]

Come In With the Rain
Hujan adalah jawabannya…

(Sequel of Gone With the Wind)

Dia berada dibalik hujan tanpa kuketahui. Dia datang bersama hujan tanpa kusadari. Dia meringkuk dibalik hujan tapi kuabaikan. Dia adalah gerimis yang menenangkan. Dia adalah rinai yang menyejukan. Namun, dia bukan hujan pembawa banjir. Bukanpula hujan pembawa bencana. Dia cukup menjadi rahasia yang terpendam selama bertahun-tahun. Dia cukup membuatku selalu menanti saat-saat datangnya hujan.
Ya, dia Rain. Rain yang tanpa kusadari selalu mengatakan, hujan adalah jawabannya.

***
Prolog

Kala kau termenung dibawah hujan…
Percayalah aku selalu ada didekatmu…
Kala kau tertawa dibawah hujan…
Percayalah aku selalu ada disampingmu…

Tersenyumlah, karena satu senyumanmu.
Adalah surgaku…

-Rain-

Tik… tik… tik… Rintik hujan mulai membasahi sebuah benda berwarna putih yang tertoreh bercak hitam. Gadis kecil yang menikmati kata demi kata untaian puisi yang dibuat oleh seseorang bernama ‘Rain’ itu, menyadari hujan kembali menyapanya. Dilipatnya kertas itu, kemudian mencari tempat perteduhan. Tak jauh dari situ ada sebuah pondok kecil seolah memanggilnya untuk bernaung dibawahnya. Dengan langkah seribu dia menuju pondok kecil itu. Setelah tiba disitu, dia segera duduk dibawahnya.
Lipatan kertas itu kembali dibukanya, namun sayangnya angin datang menerbangkan kertas itu. Terbang menjauh dari tangan gadis kecil yang memegangnya. Gadis itu, hanya menatap pasrah kertas tanpa bisa berbuat banyak. Kertas putih itu terbawa angin dan jatuh tepat dibawah kaki seorang lelaki kecil yang umurnya seumuran dengan gadis kecil itu. Diambilnya, kertas itu kemudian dia mengambil langkah menuju kepondok kecil tempat gadis itu bernaung.
Mata teduhnya menatap gadis kecil itu dan menyerahkan kertas putih itu kepadanya.
“Terima kasih,” Ucap gadis kecil itu dengan matanya yang berbinar dan senyumnya yang polos.
“Sama-sama,” Kata lelaki kecil itu sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam kantongnya. Sebuah lipatan kertas yang mirip dengan tadi. Menyerahkan lipatan kertas itu pada sang gadis kecil, “Bukalah setelah kau tiba dirumah,” Lanjutnya.
Sang gadis kecil itu menatapnya dan mengangguk.
“Kak, ayo sini,” Panggil anak lelaki itu bersama hujan yang mulai mereda kepada lelaki kecil yang usianya lebih tua setahun dari mereka. Lelaki itu berdiri tak jauh dari mereka tersenyum lalu berlari dengan riang kearah mereka berdua.


Baca Selengkapnya>>>

Jumat, 02 Maret 2012

Once Upon a Love [One Shoot]

Once Upon a Love
Suatu hari cinta itu datang mengubah segalanya…

Aku seseorang yang tidak percaya akan cinta…
Aku seseorang yang meyakini kalau cinta itu semu…
Aku tak pernah suka dengan puisi cinta Khalil Gibran…
Aku tak pernah menyentuh novel romance ataupun lagu-lagu cinta tak bermakna…
Aku tak akan percaya akan keajaiban cinta…
Apa? Cinta itu ajaib? Hanya orang bodoh dan konyol yang mempercayainya.
It doesn’t works for me!
Mana buktinya? Keajaiban cinta itu sendiri tak datang kepadaku saat aku membutuhkannya.
Bukankah itu mematahkan hipotesis orang tentang cinta? Bukankah itu juga menyatakan memang tak akan ada?
Namun…
Entah mengapa, semenjak dia hadir dalam kehidupanku…
Aku mulai percaya cinta itu… mulai menyusup keruang hampa didalam hati…

***

Matanya masih sembab, pipinya masih basah. Cairan  bening yang dari tadi mengalir dipipinya mulai berhenti. Mungkin karena kelenjar airmatanya telah lelah memproduksi air mata. Luka dihatinya masih mendalam menatap nisan yang ada dihadapannya. Dia tak percaya, kalau kekasih yang ditunggunya selama 2 tahun kini telah pulang. Yah pulang, tapi dengan keadaan tak bernyawa.
Ashilla Zahrantiara. Itu nama yang terukir diatas nisan tersebut. Kekasih yang dipacarinya selama 3 tahun dengan 2 tahun menjalin Long Distance Relationship, karena Shilla pergi melanjutkan studynya diluar negeri membuat mereka berpisah. Susah payah dia mempertahankan cintanya dengan Shilla. Susah payah dia meyakinkan Ayahnya yang sebenarnya menentang hubungannya dengan Shilla. Banyak perngorbanan yang dia lakukan hanya untuk cinta. Tapi apa balasannya? Apa yang didapatinya? Ketika dia merasakan kebahagiaan mendapatkan kabar kalau-kalau kekasihnya akan pulang kembali ke Indonesia dan bisa menyatukan cinta mereka lagi tapi? Yang kembali malah jasad Shilla.
Kenapa dia tak pernah memberitahukan kalau dia sakit? Kenapa? Begitukah cinta? Saling tertutup? Ternyata benar cinta itu bullshit, cinta itu hampa, cinta itu semu, cinta itu kosong dan tak ada artinya sekalipun kita percaya. Jadi lebih baik untuk tidak percaya dengan keajaiban cinta itu. Karena sampai saat ini keajaiban cinta itu tidak pernah terjadi pada dirinya.

Sabtu, 25 Februari 2012

Gone With the Wind [One Shoot]

Gone With the Wind
Kau datang dan pergi secepat angin…


Dia seperti angin tak bisa dilihat, namun bisa dirasakan. Dia seperti angin laut, yang bertiup dari darat kelaut diwaktu siang. Juga seperti angin darat, yang bertiup dari darat kelaut diwaktu malam. Namun dia tak seperti angin fohn yang bisa mematikan tanaman. Diapun tak terkira, tak seperti angin munsoon. Tapi, dia selalu datang bersama angin dan pergi juga bersama angin. Angin yang membawa kesejukan, angin yang membawa ketenangan, angin yang membawa kehangatan, angin yang membawa kekuatan, bahkan angin yang menjadi candu.
Ya, candu. Canduku kepada angin. Bahwa, dimana ada angin disitupun dia berada.

***
Prolog

Kakinya kembali dijejakan diatas jembatan bambu sebuah sungai. Lembayung tengah merona, mengantarkan senja dan mulai menyibak tirai malam. Bulir kristal bening yang jatuh dipipinya belum mengering. Dia kemudian duduk ditepi jembatan bambu itu, mencelupkan kakinya dihamparan air sungai. Terasa dingin, namun tak membuat dia jerah, dan tetap bergeming mempertahankan posisinya itu.
“Kamu dimana Cakka? Kenapa hari ini tidak datang? Kamu sudah berjanji padaku,” Katanya pilu, suaranya terdengar setengah serak, bahkan terdengar seperti berbisik.
Angin sepoi malam membelai rambut hitam panjang miliknya. Sejenak matanya terpejam. Merasakan kesejukan diantara kesesakan didalam hatinya. Angin sepoi malam, mulai membelai indera penciumannya juga. Wangi yang dia kenali merasuki hidungnya. Segera dia berbalik seakan mengikuti belaian angin tadi.
“Aku takkan mungkin melupakanmu, aku bukan tipe orang pengingkar janji, aku pasti datang,” Sebuah suara menelusup ke indera pendengarannya. Suara yang menenangkan, suara yang ditunggunya sejak tadi.
“Selamat ulang tahun, Oik,” Katanya tersenyum hangat, anginpun terasa hangat. Puluhan fireflies berterbangan memacah senja yang telah berganti malam itu.