Tampilkan postingan dengan label shilla. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label shilla. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 April 2012

Return Back With the Rise [One Shoot]

Return Back With the Rise
Terbit yang kunantikan kembali…



Dengannya aku bisa melihat indahnya mentari yang sedang terbit, dengannya aku tahu ternyata pergolakan mentari itu tak sesederhana yang ku kira, dengannya aku bangkit dan berjuang, dengannya aku bangun dari tidur panjang dan memulai hari baru tanpa perlu tidur kembali, dengannya duka menjadi suka, dan dengannya rindu ini terobati...
Ya... Dia, dia bagaikan bintang timur yang baru terbit dan bagaikan fajar yang tengah merekah dihatiku...

** *
Prolog

Bondi Beach, New South Wales.
Keadaan menjelang pagi itu tampak sunyi dan sepi. Yang terdengar hanyalah deburan ombak seakan mengiringi sang fajar untuk segera bangun dari petidurannya. Sepasang kaki menyusuri pasir putih pantai itu. Matanya menatap lurus kearah langit yang masih berwarna kelabu. Dia mengarahkan kedua tangannya keatas kemudian menghirup udara sejuk pagi itu. Mencari ketenangan akan kegundahan yang ada didalam hatinya. Memanjatkan doa kepada pencipta langit dan bumi.
“Semoga kau tenang di alam sana… terima kasih atas pengorbananmu, akan kujaga selalu setiap hembusan nafas dan degupan jantung ini hanya untukmu,”
Dikeluarkannya sebuah harmonika dari dalam sakunya. Mengingatkannya pada seseorang saat mentari terbit dan saat bintang mulai bersinar. Diapun mulai meniup harmonika itu, sehingga nada indah mengalun. Dia mulai menutup matanya, dirinya mulai terhanyut didalam nada-nada indah itu. Semakin dalam dan lebih dalam lagi. Air matanya mulai mengucur, dadanya seakan sesak. Masa itu, tak akan pernah kembali lagi. Tak akan, semuanya telah berlalu menjadi keping-keping dan puing-puing yang hancur lebur. Karena dirinya sendiri yang menghancurkannya. Dia tak sanggup lagi untuk meniup harmonikanya. Harmonika itu jatuh diatas hamparan pasir putih disusul lututnya kemudian kedua tangannya menggenggam pasir putih. Dia menarik nafasnya dalam-dalam, setiap tarikan nafasnya bayang-bayang masa lalunya selalu menghantuinya. Dia tak sanggup lagi…
Wish you were here,” Katanya dengan nada lirih.
Diiringi mentari yang menampakan sinarnya dengan malu-malu. Teringat akan dia kembali…

Sabtu, 17 Maret 2012

Stay Here With the Cloudy [One Shoot]

Stay Here With the Cloudy
Dibalik mendung ada penantian…

(2nd Sequel of Gone With the Wind)

Dibalik tawa renyahnya ternyata ada mendung. Dibalik gembira riangnya ternyata ada mendung. Dibalik senyum hangatnya ternyata ada mendung. Meski mendung menyelimutinya, dia tak lantas hanyut didalam mendung. Dia terus meyakini bahwa suatu saat mentari akan datang menyinarinya sehingga dia tak terus-terusan mendung.
Ya, Dia. Dia yang mengajarkan dan memberitahukan kepadaku bahwa tak selamanya mendung itu kelabu.

***
Prolog

Sengatan mentari tertutup awan, langit seketika berubah menjadi kelabu, hujan hampir saja turun ketika seorang gadis memasuki area sebuah kantor. Gedung kantor itu menjulang tinggi, berdiri kokoh. Tak beberapa lama setelahnya, dia sudah bersama seorang wanita berjalan menyusuri setiap lantai marmer. Hingga tiba disebuah ruangan yang didepannya terpajang sebuah papan bertuliskan Directur. Setelahnya, menyuruhnya untuk masuk kedalam. Dan wanita itu meninggalkannya sendirian.
Ditatapnya, daun pintu ruangan tersebut. Sebelum menyiapkan mental masuk kedalamnya, dia menelan ludahnya. Rasa gugup, takut melebur dalam dirinya. Diapun menarik nafasnya dalam-dalam lalu mencoba membuka pintu ruangan tersebut. Belum sempat disentuhnya, pintu itu sudah bergeser sedikit. Samar-samar dia mendengarkan suara gaduh dari dalam ruangan.
…Hei Fy… please aku gak mau kalau kita putus…
…Aku salah apa sih Fy?...
…Hahaha… apa mungkin ada lelaki lain? Siapa dia? Cari masalah denganku…
…Apa? Bukannya kamu yang egois? Kamu kan yang memutuskan sebelah pihak…
…Please, Fy…
…Hallo… Ify… Ify… Jangan tutup teleponnya…
…Ify… IFYYYYYYYY…
Bruuuuukk---, Kemudian terdengar sebuah benda berbunyi sangat keras, bunyi hantaman sesuatu pada tembok sebelum jatuh berkeping-keping. Sepertinya, lelaki yang ada didalam ruangan itu mencampakan ponselnya.
Seketika wajah gadis itu berubah pucat, dia makin takut untuk masuk kedalam, haruskah dia masuk kedalam menemui ‘calon atasannya’ itu dalam keadaan seperti itu? Tidak mungkin! Tapi bagaimana dengan pekerjaannya? Hari ini jadwal interview, dia tak mau gagal untuk kesekian kalinya. Bagaimana dengan mimpinya? Sementara gadis itu bertengkar dengan batinnya. Tak disangka, pintu terbuka dengan sangat kasarnya. Seseorang dibaliknya keluar, dan kaget mendapati seorang gadis yang tidak dikenalinya berdiri mematung didepan pintu.
“Untuk apa kamu berdiri disitu?,” Tanyanya masih terpengaruh emosi.
“Saya… saya Shilla pak,” Katanya gugup.
“Saya tidak bertanya nama kamu! Kamu tidak mendengarkan pertanyaan saya?! Abeng… Abeng!!!!!!,” Teriaknya.
Seseorang datang, lelaki dengan pakaian necis, sepertinya bawahan lelaki itu.
 “Bawa dia keluar dari kantorku!!!!!,” Usirnya.
“Tapi pak… saya ada jadwal interview dengan bapak disini,” Kata gadis itu.
“Tidak! Kamu tidak diterima dikantor ini… sekarang juga pergiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!!!! Dan bilang juga sama yang lain saya tidak menerima tamu hari ini!,” Katanya dengan emosi yang meluap-luap.

Minggu, 04 Maret 2012

Come In With the Rain [One Shoot]

Come In With the Rain
Hujan adalah jawabannya…

(Sequel of Gone With the Wind)

Dia berada dibalik hujan tanpa kuketahui. Dia datang bersama hujan tanpa kusadari. Dia meringkuk dibalik hujan tapi kuabaikan. Dia adalah gerimis yang menenangkan. Dia adalah rinai yang menyejukan. Namun, dia bukan hujan pembawa banjir. Bukanpula hujan pembawa bencana. Dia cukup menjadi rahasia yang terpendam selama bertahun-tahun. Dia cukup membuatku selalu menanti saat-saat datangnya hujan.
Ya, dia Rain. Rain yang tanpa kusadari selalu mengatakan, hujan adalah jawabannya.

***
Prolog

Kala kau termenung dibawah hujan…
Percayalah aku selalu ada didekatmu…
Kala kau tertawa dibawah hujan…
Percayalah aku selalu ada disampingmu…

Tersenyumlah, karena satu senyumanmu.
Adalah surgaku…

-Rain-

Tik… tik… tik… Rintik hujan mulai membasahi sebuah benda berwarna putih yang tertoreh bercak hitam. Gadis kecil yang menikmati kata demi kata untaian puisi yang dibuat oleh seseorang bernama ‘Rain’ itu, menyadari hujan kembali menyapanya. Dilipatnya kertas itu, kemudian mencari tempat perteduhan. Tak jauh dari situ ada sebuah pondok kecil seolah memanggilnya untuk bernaung dibawahnya. Dengan langkah seribu dia menuju pondok kecil itu. Setelah tiba disitu, dia segera duduk dibawahnya.
Lipatan kertas itu kembali dibukanya, namun sayangnya angin datang menerbangkan kertas itu. Terbang menjauh dari tangan gadis kecil yang memegangnya. Gadis itu, hanya menatap pasrah kertas tanpa bisa berbuat banyak. Kertas putih itu terbawa angin dan jatuh tepat dibawah kaki seorang lelaki kecil yang umurnya seumuran dengan gadis kecil itu. Diambilnya, kertas itu kemudian dia mengambil langkah menuju kepondok kecil tempat gadis itu bernaung.
Mata teduhnya menatap gadis kecil itu dan menyerahkan kertas putih itu kepadanya.
“Terima kasih,” Ucap gadis kecil itu dengan matanya yang berbinar dan senyumnya yang polos.
“Sama-sama,” Kata lelaki kecil itu sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam kantongnya. Sebuah lipatan kertas yang mirip dengan tadi. Menyerahkan lipatan kertas itu pada sang gadis kecil, “Bukalah setelah kau tiba dirumah,” Lanjutnya.
Sang gadis kecil itu menatapnya dan mengangguk.
“Kak, ayo sini,” Panggil anak lelaki itu bersama hujan yang mulai mereda kepada lelaki kecil yang usianya lebih tua setahun dari mereka. Lelaki itu berdiri tak jauh dari mereka tersenyum lalu berlari dengan riang kearah mereka berdua.


Baca Selengkapnya>>>

Jumat, 02 Maret 2012

Once Upon a Love [One Shoot]

Once Upon a Love
Suatu hari cinta itu datang mengubah segalanya…

Aku seseorang yang tidak percaya akan cinta…
Aku seseorang yang meyakini kalau cinta itu semu…
Aku tak pernah suka dengan puisi cinta Khalil Gibran…
Aku tak pernah menyentuh novel romance ataupun lagu-lagu cinta tak bermakna…
Aku tak akan percaya akan keajaiban cinta…
Apa? Cinta itu ajaib? Hanya orang bodoh dan konyol yang mempercayainya.
It doesn’t works for me!
Mana buktinya? Keajaiban cinta itu sendiri tak datang kepadaku saat aku membutuhkannya.
Bukankah itu mematahkan hipotesis orang tentang cinta? Bukankah itu juga menyatakan memang tak akan ada?
Namun…
Entah mengapa, semenjak dia hadir dalam kehidupanku…
Aku mulai percaya cinta itu… mulai menyusup keruang hampa didalam hati…

***

Matanya masih sembab, pipinya masih basah. Cairan  bening yang dari tadi mengalir dipipinya mulai berhenti. Mungkin karena kelenjar airmatanya telah lelah memproduksi air mata. Luka dihatinya masih mendalam menatap nisan yang ada dihadapannya. Dia tak percaya, kalau kekasih yang ditunggunya selama 2 tahun kini telah pulang. Yah pulang, tapi dengan keadaan tak bernyawa.
Ashilla Zahrantiara. Itu nama yang terukir diatas nisan tersebut. Kekasih yang dipacarinya selama 3 tahun dengan 2 tahun menjalin Long Distance Relationship, karena Shilla pergi melanjutkan studynya diluar negeri membuat mereka berpisah. Susah payah dia mempertahankan cintanya dengan Shilla. Susah payah dia meyakinkan Ayahnya yang sebenarnya menentang hubungannya dengan Shilla. Banyak perngorbanan yang dia lakukan hanya untuk cinta. Tapi apa balasannya? Apa yang didapatinya? Ketika dia merasakan kebahagiaan mendapatkan kabar kalau-kalau kekasihnya akan pulang kembali ke Indonesia dan bisa menyatukan cinta mereka lagi tapi? Yang kembali malah jasad Shilla.
Kenapa dia tak pernah memberitahukan kalau dia sakit? Kenapa? Begitukah cinta? Saling tertutup? Ternyata benar cinta itu bullshit, cinta itu hampa, cinta itu semu, cinta itu kosong dan tak ada artinya sekalipun kita percaya. Jadi lebih baik untuk tidak percaya dengan keajaiban cinta itu. Karena sampai saat ini keajaiban cinta itu tidak pernah terjadi pada dirinya.

Jumat, 17 Februari 2012

[My Opinion] Sinetron Putih Abu-abu hanya menjual nama Blink? :O

Hello blogger,

Kemarin saya melihat traffic statistik blog saya ternyata diramaikan dengan key search Blink-Putih abu abu dan traffic site melonjak tiba-tiba karena itu. It’s okay maka saya berniat membuat postingan baru tentang itu -_-.

Memang sih, ada sinetron yang judulnya Putih abu-abu dan ditayangin setiap hari di SCTV. Pemerannya utamanya ada salah satu anggota Blink yaitu Febby, dan Febby memang karirnya didunia entertaiment bermula dari seni peran bukan olah vocal.

Ini sinopsis Putih abu-abu:


NINA adalah seorang gadis asal Yogyakarta yang baru saja kehilangan Riska, ibunya, untuk selamanya. Pesan terakhir sang bunda, Nina harus menemui seseorang yang bernama Taufik di Jakarta.
Menurut Riska, hanya Taufik yang bisa menolong Nina. Karena Hikmal, om Nina, tidak bisa diandalkan. Sehari-harinya Hikmal menghabiskan waktu dengan mabuk dan berfoya-foya.
Masih dirundung kesedihan, Nina mengikuti amanat ibunya untuk pergi ke Jakarta. Di ibukota, Nina diterima dengan baik oleh Taufik. Sayang, tidak demikian dengan Monica, istri Taufik. Monica sangat tidak menyukai kehadiran Nina di rumah itu. Monica tahu bahwa Nina adalah anak dari Anwar, sahabat Taufik yang dulu pernah memberikan modal usaha untuk Taufik.
Tak cuma di dalam rumah, Nina juga harus berhadapan dengan murid yang membencinya ketika berada di sekolah. Hari-hari Nina semakin terasa berat dengan banyaknya orang yang memusuhinya.

Dari sinopsisnya aja ini sinetron sudah terasa Klise. *piss*. Tapi banyak orang yang mengunggulkan sinetron ini… kenapa? Mungkin karena mengambil Blink sebagai karakter tokoh. Tapi toh, hanya Febby yang sering nongol sedangkan anggota Blink seperti Shilla, Ify, Pricilla dan Sivia seperti figuran begitu, berasa sinetron ini hanya memakai BLINK agar lebih komersil di publik, tapi nyatanya lebih banyak menampilkan adegan lollipop gb yang gak jelas itu. Awalnya, sebelum sinetron ini ditampilkan banyak yang menjagokan sinetron ini. Tapi pas penayangannya ternyata tak sedikit juga yang kecewa akan sinetron ini. Karena banyak kekerasan, dan bertaburan pemeran antagonisnya. Yang saya tidak suka dari sinetron Indonesia ya, itu… bertaburan pemeran antagonisnya, dan bukan mendidik malah mengajarkan yang salah. Masih banyak kan ide-ide kreatif membuat konflik bukan dengan kejahatan-kejahatan? Ataukah ide cerita dan penulis skenarionya yang tidak pernah berkembang? Perlu saya yang menulisnya *eh* *kaborrrrr*… Apalagi ceritanya tentang masa putih abu-abu masih lebih baik apabila sinetron ini menceritakan perjuangan sebagai seorang pelajar tapi tidak mengesampingkan kata-kata ini cintaku bersemi diputih abu-abu, kan lebih baik Nina itu pas nyampe Jakarta berprestasi trus dikirim ikut-ikut lomba dan dilomba itu dia bertemu dengan prince charmingnya, lebih baik menceritakan bagaimana seorang anak menghadapi lika-liku masa SMA, dan cerita indah dibaliknya, daripada kekerasan-kekerasan dalam rumah tangga dan dalam lingkungan sekolah bukan? Nanti bisa jadi cerita ini ngawur kayak sinetron Cerita SMA, dan akhirnya menjadi Cerita Anak Bayi ketika Baim masuk kedalamnya.

Jujur saya Cuma nonton putih abu-abu seri pertamanya langsung ilfeel sama ceritanya, apalagi ada rumor ‘plagiat’ dicerita sinetron ini. Ya, menurutku gimana gak mau dibilang begitu kalau ceritanya Klise kayak gitu :p. Udah deh gak pernah nonton sinetron itu sampe sekarang. Mendingan saya youtube-ing nonton A Walk to Remember huaaaa, meski tak lebih bagus dari novelnya tetap ceritanya menyetuh sayaaaaa… *oke sudah out of topic.

Yang pasti, bukan mau nyari kontroversi atau semacamnya saya Cuma menjejakan pendapat saya disini :p

Sekian,
Sankyu^_^
Fhily.

Jumat, 10 Februari 2012

Something Like Fate (One Shoot)

Something Like Fate
“Selama dia bahagia, aku juga akan bahagia. Sesederhana itu.” – Autumn in paris

A
ku menutup sebuah novel indonesia Autumn in Paris yang baru selesai ku baca, seulas senyum terkembang dibibirku, tiba-tiba mataku terasa hangat, dan tanpa sadar sebuah cairan bening mengalir dipipiku. Bukan, ini bukan karena jalan ceritanya itu, melainkan kutipan kata-kata di epilog novel itu. Pembicaraan melalui e-mail antara Fujisawa Tatsuya dan Sebastien Giraudeau. Kata-kata itu sangat menyentuh hatiku, membuat aku harus kembali memutar memori belakang otakku, mengenang sebuah kisah yang sampai saat ini masih terekam jelas diotakku meski telah 3 tahun berlalu.

***

Cakka Kawekas Nuraga, 22 tahun, lumpuh, amnesia. Aku berjalan melangkahkan kakiku menyusuri koridor rumah sakit baru tempatku bekerja, ini pengalaman pertamaku menjadi seorang perawat setelah lulus dari akademi perawatan. Aku harap ini menjadi hari pertama yang menyenangkan. Ah, tadi aku baru saja membaca sebuah kertas yang ada ditanganku, itu data singkat pasien yang akan aku rawat. Sebelumnya, aku sudah berbincang-bincang dengan kepala rumah sakit ini. Dia menceritakan tentang pasien yang akan aku rawat itu. Dia korban kecelakaan mobil sebulan yang lalu. Mobil yang ditumpanginya bersama kedua orang tuanya di tabrak oleh sebuah truk. Akibatnya kedua orang tuanya meninggal, hanya dia yang selamat. Tapi, akibatnya dia hilang ingatan dan lumpuh. Parahnya lagi, dia adalah satu-satunya pewaris tunggal harta kekayaan milik orang tuanya. Jadinya, dia diminta pihak keluarganya untuk dirawat di rumah sakit ini sampai dia benar-benar sembuh dan bisa menjadi ahli waris. Nasib lelaki yang akan kurawat ini benar-benar seperti di sinetron-sinetron, mudah-mudahan saja tak ada peran antagonis seperti pihak keluarga yang dengan sengaja membiarkan dia dirawat disini agar bisa menikmati harta kekayaannya. Lagi-lagi aku mulai berfantasi dengan pikiranku sendiri, sampai sebuah suara mengagetkanku.

“Oik, kau tak apa? Apa kamu nervous?,” Tanya Sivia, seorang teman perawat yang baru kukenal beberapa menit yang lalu. Dia yang akan mengantarkanku ke tempat Cakka, pasienku itu.
Aku menggeleng ragu, Sivia tampak memperhatikan wajahku.

“Santai saja, akupun begitu saat pertama kali menghadapi pasien,” Katanya dengan senyum, sambil mengusap punggungku.

Aku mengangguk membalas senyumannya. Selain berfantasi, sebenarnya kalau boleh jujur aku benar-benar nervous menghadapi pasien pertamaku. Kami terus melangkahkan kaki menyusuri koridor rumah sakit, sampai kami tiba di depan pintu sebuah kamar VIP. Sivia berhenti, aku juga ikut berhenti. Dia membalikan badannya kearahku.

“Kau siap?,” Tanyanya.

Aku menghela nafas panjang, mencoba merelaksasi pikiranku dengan mata terpejam selama beberapa detik kemudian mengangguk.

“Ya, aku siap,” Kataku tegas.

“Baiklah, ini kamarnya, masuklah… kau bisa masuk sendiri kan? Aku masih punya tugas lain, ini daftar tugasmu selama kau jadi perawatnya,” Kata Sivia sambil menyerahkan sebuah map kepadaku. Aku segera mengambilnya.

“Iya, terima kasih,”

“Sama-sama, selamat bertugas,” Katanya menepuk pundakku kemudian berlalu dari hadapanku.

Aku menatap pintu kamar VIP rumah sakit ini, yang ada dihadapanku saat ini. Pintu kayu, catnya berwarna coklat dengan gagang pintu berwarna gold seakan menantangku untuk masuk kedalam. Perlahan akupun memutar gagang pintunya, menggeser, setelah punya sedikit ruang untuk tubuhku menyusup kedalam aku segera membuang langkahku dan menggerakkan tubuhku untuk menyusup melalui ruang kecil itu. Setelah tubuhku berada didalam kamar, aku dengan segera menutup pintunya kembali.
Ku lepaskan pandanganku menyusuri ruang tempat aku berdiri saat ini. Ini tidak terlihat seperti kamar rumah sakit, jika saja ruangan ini tanpa ‘bau khas rumah sakit’ dan ranjang tempat tidur pasien diganti dengan masterbed pasti terlihat seperti suite room hotel-hotel berbintang lima. Akupun melangkah mendekati ranjang, diatas terbaring seorang pria dengan pakaian khas pasien rumah sakit ini. Langkahku semakin dekat dengan ranjang tempat tidur pasienku itu. Ketika tepat berada disamping ranjang, ku tatap wajahnya lekat dan akupun terpekik. Oh My God!! Wajahnya tampak seperti dewa yunani. Alisnya yang membentuk sempurna, kelopak matanya tertutup dengan garis mata yang kentara, hidungnya yang mancung, bibirnya yang berbentuk dan membelah dibagian bawa, wajahnya oval agak berisi. Aku menggigit bibirku, tampang lelaki ini sangat menggoda iman. Ah, jangan sampai aku seperti tokoh Novi dalam novel here, after yang akhirnya jatuh cinta pada pasien gilanya dengan ending kisah yang tragis dimana pasiennya itu malah mati dan membunuh kepala rumah sakit tempatnya bekerja.

“Oke, Oik… berhenti berfantasi lagi, positive thinking please! Kamu disini untuk kerja, jangan selalu membayangkan adegan novel yang sering kamu baca… hupfh,” Aku berbisik pelan seolah menyugesti diriku sendiri mengendalikan detak jantungku yang entah kenapa berdebar kencang. Akupun segera membaca daftar tugas yang harus ku kerjakan selama menjadi perawat lelaki ini.

Sedikit tentang diriku, Namaku Oik Cahya Ramadlani cukup panggil aku Oik. Aku baru saja lulus dari akademi perawatan, dan tugas pertamaku menjadi perawat seorang lelaki bernama Cakka. Karena tugas pertama, jadi aku memang hanya merawat satu pasien dulu. Aku seorang booklovers terutama novel-novel romance. Aku suka karya-karya satra lama seperti Jane Austen (Pride and Prejudice), William Shakespeare (Romeo and Juliet), Vlamdir Nabokov (Lolita) tapi, tetap juga suka dengan karya-karya sastra modern seperti Nicholas Sparks (The Notebook), Stephanie Meyer (Twilight all series) dan masih banyak lagi novel-novel luar yang kusukai. Di indonesia banyak karya juga yang kusukai, banyak meremehkan tulisan penulis-penulis dalam negeri karena ‘katanya’ tidak bermutu. Tapi menurut aku, banyak tulisan anak-anak bangsa tak kalah bagusnya. Yah, memang ada sebagian yang tidak memenuhi standar. Dan faktanya yang meremehkan tulisan-tulisan anak-anak bangsa itu orang indonesia sendiri, tapi tak dapat dipungkiri juga kan mereka ingin menjadi penulis juga. Bukankah karya kalian juga akan menjadi karya anak bangsa?
Aku melihat daftar kerjaanku selama aku menjadi perawatnya. Begitu banyak, mulai dari membawa sarapan untuknya, memastikan dia minum obat teratur, membawanya untuk terapi, memastikan dia beristirahat dengan cukup, menemaninya selama yang dia mau, dan lain sebagainya. Yak, pekerjaan pertama yang sepertinya akan membuat aku  menghabiskan waktu bersama lelaki ini. Hupfh.

Selasa, 20 Desember 2011

Twins? (One Shoot)

Ada yang butuh bacaan?
Di blog cerita saya ada one shoot baru judulnya twins :)

ini prolognya :)


Twins?




Prolog,
Oik
Hei, nama gue Oikcahya Ramadlani, cukup panggil gue Oik. Sekarang gue duduk di bangku kuliah semester tiga. Gue ambil jurusan Sistem Informatika, hm. Karena gue memang tertarik dibidang itu. Gue orangnya gampang penasaran, gue penasaran dengan sistem kerja komputer yang bisa melebihi otak manusia padahalkan komputer diciptakan oleh manusia. Okay, gak usah terlalu bahas banyak tentang perkuliahan gue, sekarang masuk pada keluarga gue aja kali yah, keluarga gue yah termasuk keluarga konglomeratlah, trus gue punya saudara kembar namanya Shilla. Dia kakak gue soalnya dia lahir 15 menit lebih awal dari gue, dan kata orang-orang gue dan dia gak seperti saudara kembar, wajah kita agak beda, kata orang Shilla itu cantik, gue itu manis. Itu kata orang sih. Gue dan dia gak pernah akur dari dulu, sebel deh pokoknya gue sama dia, mentang-mentang badan gue lebih ‘mungil’’ dari dia seenaknya menindas orang! Pokoknya gue itu paling anti sama saudara kembar gue, Me vs My Twin! Makanya bokap dan nyokap gak pernah nyekolahin kita bareng selalu beda sekolah! Karena bonyok gue tahu, dirumah aja yang diawasin bonyok gue selalu berantem apalagi disekolahan? Udah yah, ngapain bicara soal kembaran gue yang gak penting itu! Mending bicara soal, Cakka.... ahaaaa... Cakka itu siapa? Cakka itu pacar gue, kita pacaran udah dari SMA. Yah, sekitar dua tahunanlah... awet kan? Yaiyalah Oik gituloh, kirain Shilla yang sedikit-sedikit putus, sedikit-sedikit putus, Ah? Kok jadi nyambung Shilla lagi sih? Balik ke inti pembicaraan yuk. Cakka itu mahasiswa di Sistem Informatika juga, sebenarnya sih kalau mau jujur, gue masuk jurusan itu biar bisa bareng terus sama Cakka, kan so sweet! Gue suka Cakka bukan cuma karena dia ganteng tapi juga karena sifatnya yang apa adanya. Yah, meski gue sering jengkel karena dia itu tengil, childish, kadang-kadang selfish, tapi itu asli sifatnya gak jaim! Gak jarang dia buat gue melted. Yah itulah, Cakka. Pokoknya gue sayaaaaaaaaanggggg banget sama dia. Cuma gue belum berani ngenalin Cakka sama keluarga gue, selain takut diembat Shilla, juga karena takut bonyok gue ngelarang gue pacaran, Shilla aja pacarannya diam-diam. Huh!

Shilla.
Nama gue Ashilla Zahrantiara, Kalian bisa manggil gue Shilla. Gue sekarang kuliah, dan gue ambil jurusan hukum, cita-cita gue dari kecil pengen banget jadi pengacara ngikutin jejak almarhum opa gue. Soalnya, dulu waktu gue kecil sering main-main ke kantornya opa, dan disitu gue rasa kereeeeenn banget, makanya gue punya obsesi jadi pengacara. Gue punya saudara kembar namanya Oik, dan kita ‘gak akan pernah akur’ ingat! Gak akan!. Dia itu adik gue, gue lahir 15 menit duluan sebelum dia lahir, trus kata orang sih kakak harus sering mengalah sama adik. Hellow, gue dan Oik kembar jadi beda dong! Pokoknya Me vs My Twin! Itu hampir setiap hari terjadi dirumah gue! Makanya gue sama Oik gak diijinin untuk satu sekolahan dari dulu sampai kuliah kitapun beda universitas. Oke, gak usah ngomongin Oik soalnya kalau dengar namanya gue pengen banget muntah. Mending kita bicara soal .... hm... aduh malu nih gue, mulai dari mana yah? Beberapa minggu yang lalu gue kenalan sama cowok, wih ganteng banget! Gak cuma ganteng, pokoknya beda dari pacar-pacar gue yang dulu, yang kacangan. Dia itu sopan, trus pembawaannya charming banget tampak berwibawa tapi tetap santai. Waduh.... kalau ada dia gue melted banget deh. Trus, minggu lalu dia nembak gue, aaaaaaahhh... pokoknya itu moment yang paling membahagiakan buat gue. Gak nyangka. Jadi, gue dan dia udah dua minggu deh jadian. Gue merasa cewek yang paling beruntung deh jadian sama dia. Cuma, ya, tetap aja gue takut bonyok tahu. Gak pernah sih bonyok ngelarang pacaran. Gak tahu kenapa gue gak pernah berani ngenalin cowok-cowok gue, eh salah interupsi mantan-mantan gue sama bonyok. Tapi, gue sangat ingin ngenalin dia sama keluarga gue, without Oik. Gue rasa pasti disetujuin. Cuma ya, gue tunggu sampe Oik punya pacar dulu deh nanti diembat lagi. Hm, sebenarnya dulu pernah dengar Oik punya pacar udah dua tahun lalu sih. Gue gak tahu masih atau gak, yang pasti gue gak mau percaya dia punya pacar kalau dia belum ngenalin pacarnya sama gue! Oh ya pusing mikirin Oik. Errr. Bdw, gue belum nyebut nama pacar gue yah? Namanya Cakka!.

Minggu, 11 Desember 2011

Gosip..... -_-v

Udah lama gak ngegospeng diblog ini, kangen tentang gospeng-gospeng saya yang sebenarnya sama sekali tidak jelas dan tidak tahu darimana asal-usulnya. Hanya menebak-nebak ataupun hanya guyonan semata untuk menghibur saudara-saudara sekalian ._.v tapi tak dipungkiri juga saudara-saudara gospeng itulah yang membawa visitor-visitor mampir ke blog saya *ketipin mata*

Belakangan ini, mungkin beberapa hari atau minggu lalu itu gencar-gencarnya didunia perCL-an gosip cinset ._. Shilla-Cakka-Nafisa x_x hadeeehhh... ada yang bilang Cakka putus sama Shilla gara-gara dijodohin sama Nafisa lah~... Gara-gara tweet2nya Shilla yang nyindir Nafisa, dan lain sebagainya -_-
Saya sih gak mau ikut campur sih, saya kan CL yang baik, jadi gak ngikut2an gospeng *halaaah* *trus ini namanya apa dong* :p

Cuma rada sedikit emosi sih ada orang yang bilang Cakka 'matre' Rawwwwrrrrrrrrrrr :@...
Tapi yaudah biarlah mereka berkotek nanti juga capek sendiri ._.

Nah, gara-gara gosip itu eheheh semua pada majang foro Cakka-Shilla asli no edit jadi DP bbm ._. hampir semua di kontak bbm saya majang foto ini:


x_x gaya cakka unyu banget yah disitu :3... wkwkwkwkwk... Gitu, jadi recent update saya penuh sama foto itu deh. Tapi saya rasa ada yang lebih mesra dari ini deh foto mereka h4h4h4h4h4h4h4...



Nah, noh diatas Cakka sama Nafisa -_-... Mereka kan gak ada apa-apakan yah hanya fans sama idola, jadi gak usah digosipin... Kalau gosipin saya sama Cakka /plak *ehem silahkan aja... Karena percaya atau tidak percaya silahkan dibuktikan sendiri dengan kata kunci pencarian google 'Pacar Cakka' maka akan muncul loh foto saya dan Cakka di google :p


Kewl kan, berarti saya sudah direstui google #abaikan -_- itu sih gara-gara postingan di blog ini yang about my FL -_- cuma majang foto itu iseng2 eheheheheheheheh... -_- jadi keluar google -_- takut nih masuk infotaiment -_- belum siaaaaaappppp hahahahaha #abaikanlagi.


lho? foto Shilla sama siapa itu? Itu sama Ilham Smash, wkwkwkwkwkwk -_-v cocok gak? cocok gak? *dibunuh* Ini foto asli juga sih :p cuma saya crop ._.v abis kelihatan mesra dibagian Shilla dan Ilhamnya sih :p kan bisa jadi gospeng baru *ketipin mata* ;) ... Udah Shill, sama Ilham ajaaaa, biar Cakka saya yang jagain ;) *dicincang* piss ._.v

Oke pemirsa, sekian dari saya. Maaf jika ada salah-salah kata dan menyinggung atau bahkan membuat anda makin pusing setelah membaca blog saya ._.
saya punya obatnya silahkan hubungi ke 08098999 *loh malah ngiklan*

Baybay *kisskiss mwaaahh -_-

Jumat, 25 November 2011

Blink - Putih Abu-Abu

(Pricilla)
Aku tak mau bertemu
kamu yang selalu menggangguku
Buat hari ku tak menentu
Aku benci kamu

(Sivia)
Namun hatiku jadi rindu
Ingat kelakuan nakal mu
Kini semua terasa lucu
Aku rindu kamu

(Shilla)
Dag dig dug hati ku...3x (dag dig dug hati ku)

(Kacau...)

Reff:
Cinta cinta cinta datang pada ku
Malu malu malu ku akui itu
Tapi tapi kamu tlah menawan hati ku
Cinta ku bersemi di Putih Abu-abu (Waw waw waw... aw..aw..aw 2x)

(Febby)
Aku tak mau bertemu
kamu yang selalu menggangguku
Buat hari ku tak menentu
Aku benci kamu

(Ify)
Namun hatiku jadi rindu
Ingat kelakuan nakal mu
Kini semua terasa lucu
Aku rindu kamu

(Shilla)
Dag dig dug hati ku...3x


(Kacau)

Cinta cinta cinta datang pada ku
Malu malu malu ku akui itu
Tapi tapi kamu tlah menawan hati ku
Cinta ku bersemi di Putih Abu-abu

(Shilla)
Dag dig dug hati ku...(dag dig dug hati ku)
Dig dug hati ku...(dag dig dug hati ku)
Dig dug hati ku...(dag dig dug hati ku) uuuuuu........

(Kacau)

Cinta cinta cinta datang pada ku
Malu malu malu ku akui itu
Tapi tapi kamu tlah menawan hati ku
Cinta ku bersemi di Putih Abu-abu

Cinta cinta cinta datang pada ku
Malu malu malu ku akui itu
Tapi tapi kamu tlah menawan hati ku
Cinta ku bersemi di Putih Abu-abu (Putih Abu-abu)

Cinta ku bersemi di Putih Abu-abu..

Yeeaaahhh...Yeeaaahhh..Yeeaahhhh







Related Post: [My Opinion] Sinetron putih abu-abu hanya menjual nama Blink? :O

Sabtu, 25 Juni 2011

Unyu adalah........ :3

cakka shilla

Ketika malam minggu TL lo dipenuhi @cakkaNRG yang mentionan sama @ashillazhrtiara trus care-carean gitu (?) u,u

ray ify

Ketika saban hari (?) TL lo dipenuhi dengan mentionan ngegemesin dari @rayprasetya22 sama @ifyalyssa

unyu

Ketika Julian (Pembantu Kerajaan) menikah sama Princess anneliese dan Prince Dominick menikah sama Erika (Penjahit) :3 Bersamaan Satu Altar

Ini kok nyambung barbie yah -_-" seperti biasa postingan gaje :p

Rabu, 16 Maret 2011

Senin, 07 Februari 2011

Speak Now or NEVER! -Part 3-

Oik digotong oleh mama dan supirnya masuk kedalam rumah sakit… Tubuhnya masih menggigil dan wajahnya masih pucat pasi… Mamanya panik segera memanggil perawat dan segera melarikan Oik ke UGD…
Tiba di UGD, Oik segera ditangani oleh dokter Zahra… Dokter Zahra memeriksa keadaan Oik dan menyuruh mama Oik untuk menunggu diluar…
Mama Oik dengan cemas menunggu diluar… Dia tampak mondar-mandir dan bolak-balik sambil sesekali melirik kearah pintu UGD menunggu pintu itu terbuka agar dia sesegera mungkin mengetahui kondisi anaknya…

15 menit kemudian Dokter Zahra keluar dari ruang UGD segera disambut oleh mama Oik…

“Bagaimana keadaan anak saya Dok?” Tanya Mama Oik

“Bisa kita berbicara diruangan saya sebentar? Tenang anak anda baik-baik saja… Sudah saya beri obat bius agar dia tertidur tapi untuk sementara waktu… Mari ikuti saya…” Kata Dokter Zahra segera melangkah diikuti oleh mama Oik menuju keruangan Dokter Zahra yang letaknya tak jauh dari ruang UGD…

“Dok, anak saya sakit apa?”Tanya Mama Oik dengan wajah panik ketika baru tiba diruang Dokter Zahra sambil duduk dikursi tepat dihadapan Dokter Zahra…

“Tenang ya Bu, anak anda sudah saya periksa… Tapi aneh, dari hasil pemeriksaan saya… Anak anda tak mempunyai masalah dengan kesehatannya… atau bisa dikatakan secara medis dia sehat dan tidak mempunyai penyakit yang berbahaya… Saya bingung kenapa anak anda bisa seperti itu… kemungkinan dia punya banyak masalah yang menyebabkan dia depresi dan tertekan… Jadi untuk sementara waktu saya beri obat tidur… tapi saya tak mau ambil resiko dengan memberikan dosis yang banyak… Obat tidur ini hanya membuat anak anda tertidur selama 30 menit… Nanti setelah dia bangun kita lihat apakah dia masih menggigil… Saya sarankan anda menghubungi psikolog untuk masalah ini…”

“Sudah Dok… bahkan tadi sepulang dari konsultasi dia malah terlihat ada perubahan… tapi malam ini malah seperti ini… padahal sebelumnya dia tak pernah sakit seperti ini…”

“Oh ya sudah… kita tunggu yah perkembangan anak anda selanjutnya…”

Mama Oik setidaknya bisa lega untuk sementara waktu karena Oik tak punya penyakit yang serius tapi dia masih bingung… Padahal tadi siang setelah pulang dari Konsultasi dengan Dokter Cakka, Oik terlihat banyak perubahan kenapa jadi seperti ini??


>>>>>>>>>>>>>>>>

Cakka baru tiba dirumahnya segera memasukan mobilnya kedalam Garasi lalu melangkahkan kakinya menuju pintu rumahnya mengambil kunci dari dalam tasnya membuka Pintu rumahnya lalu masuk kedalam rumah megah bertingkat 2 tersebut…
Ia segera menuju kekamarnya mengganti bajunya dengan kaos biasa lalu menuju keruang makan sambil membawa dua kotak makanan yang satu berisi Gado-gado dan yang satunya berisi Zebra Cake…
Sepertinya dia harus berterima kasih sekali kepada dua Gadis yang telah memberikannya makanan… Karena kalau tidak mungkin dia tidak akan makan malam ini, Soalnya badannya terasa lelah untuk keluar dan makan di Restoran lagi…
Cakka melihat jam tangannya sudah hampir jam setengah 9 malam Zahra kakaknya belum pulang juga… Sepertinya hari ini dia masih sibuk, Ya … Zahra adalah Dokter umum jadi dia menangani segala jenis penyakit dan belakangan ini dia sangat sibuk…
Meskipun sebenarnya Zahra hari ini tidak praktek malam tapi sepertinya akan sampai malam lagi… Mengingat Dokter Dayat yang berprofesi sebagai Dokter umum sama dengan Zahra sedang cuti jadi Zahra harus sampai malam lagi…
Cakka khawatir memikirkan kakaknya itu… Bagaimanapun dia keluarga Cakka satu-satunya yang dekat dengannya karena yang lain juga sibuk dengan urusannya masing-masing… Keluarga Cakka yang notabene adalah keluarga Dokter sebagian besar dikeluarganya adalah seorang Dokter maka dari itu Cakka juga diharuskan mengambil sekolah kedokteran…. Awalnya Cakka hanya akan mengambil Psikologi tapi dipaksa orang tuanya untuk mengambil kedokteran juga setelah lulus dari Psikologi… Huh! Sungguh menyebalkan baginya… Padahal dia dari dulu tak ada niat untuk menjadi seorang Psikolog maupun seorang Dokter… Malahan cita-citanya dari dulu menjadi seorang musisi tapi ditentang mati-matian oleh keluarganya karena menurut keluarganya pekerjaan sebagai Dokter lebih dianggap terpandang…

Cakka mulai melahap Gado-gado buatan Ify meski dimalam hari tetap terasa nikmat… Suapan demi suapan dia makan dengan penuh kenikmatan…
Setelah menghabiskan Gado-gado tersebut tanpa sisa Cakka segera memotong Zebra Cake yang ada dihadapannya lalu melahapnya…

Tiba-tiba handphone Cakka berdering…

‘My Sista Calling’

Cakka segera mengangkat telepon tersebut…

“Ya,, Halo Kak…”

“Halo Cakka… Kakak kayaknya bakalan pulang terlambat lagi malam ini… maaf gak bisa masak buat kamu, makan direstoran aja lagi yah… maaf banget…”Kata Zahra ditelepon dengan penuh rasa bersalah

“Gak apa-apa kok Kak… Cakka udah makan juga dirumah kebetulan tadi di kasih makanan jadinya Cakka gak perlu makan diluar… Sibuk ya Kak? Banyak pasien?”

“Sebenarnya gak… sudah selesai dari tadi… Cuma ada satu pasien lagi nunggu dia siuman…”

“Lha? Kok siuman ditunggu? Emang sakit apa toh?”

“Gak tahu ni Cakka… kakak udah periksa gak ada penyakit apa-apa badannya menggigil gitu jadi kakak Bius dengan Obat tidur aja… Kayaknya pasien ini punya masalah deh yang membuat dia depresi… harusnya ini tugas kamu… Oh ya,, katanya Mamanya tadi siang dia baru konsultasi sama kamu…”

“Heh? Siapa namanya Kak…?”

“Bentar Kakak Cek didatanya…”

Zahra membuka data pasien dikomputernya…

“Oik Cahya Ramdlani…”

“Oik? Tunggu kak Cakka segera kesana…” Kata Cakka menutup teleponnya…

Segera berlari kekamarnya mengambil Jaketnya lalu menyambar kunci mobil dan menuju Garasi tempat mobilnya terparkir segera mennyalakan mesin mobil dan tancap Gas menuju Rumah Sakit kembali…

>>>>>>>>>>>>>>>>

Zahra menuju keruang UGD kembali… Sudah hampir 30menit berlalu berarti Oik akan sadar… Dia memasuki ruangan tersebut ada mama Oik didalam ruang UGD bersama beberapa perawat…
Zahra mencoba melakukan pemeriksaan kembali sebelum Oik tersadar…
Tak beberapa lama kemudian Oik membuka matanya… Melihat sekelilingnya… Badannya masih terasa sangat dingin… Tapi pada kenyataannya dia mengalami demam… Zahra segera mengukur suhu tubuhnya … Hangat 38o Celcius!
Tak lama kemudian kembali menggigil… Mama Oik jadi panik…

“Dokter anak saya kenapa?”

“Tenang ya Bu, Kami akan mencoba memberinya Obat penenang…”

Zahrapun segera memberi Oik obat penenang… Dan Oik tak menggigil kembali… Tapi Oik masih merasakan kedinginan didalam tubuhnya… Tapi tubuhnya terasa kaku untuk menyatakan kalau sekarang dia sangat butuh kehangatan dan ketenangan…

Seorang perawat masuk kedalam dan membisikan sesuatu pada Zahra… Zahra mengangguk- angguk…

“Sus, Jaga pasien ini ya sebentar… Saya keluar dulu dan akan kembali…”Kata Zahra kemudian keluar dari ruang UGD tersebut…

“Cakka ngapain kamu kemari?”Tanya Zahra ketika menemukan Cakka diluar ruangan tersebut…

“Kak… tadi kata kakak pasiennya namanya Oik yah? Trus keadaannya gimana sekarang? Udah siuman kan? Dia gak apa-apakan?”Tanya Cakka bertubi-tubi kepada Zahra…

“Cakka… tanyanya satu-satu bisa gak… Ya,, Namanya Oik… dia didalam baru siuman tapi menggigil lagi… dia gak apa-apa Cuma kakak kasih Obat penenang… Sebenarnya Gadis itu siapa sih? kamu kenal? Adik teman kamu yah? Atau jangan-jangan….”

“Hush kak… nanyanya satu-satu… Aku kenal dia… Dia pasien dan temanku jangan mikir yang aneh-aneh ya kak…”

“Kamu sih khawatirnya berlebihan begitu… gak wajar tahu… sejak kapan pasienmu jadi temanmu?”

“Semua pasienku aku anggap teman bagiku… kakak aja yang gak tahu… Udah… Cakka boleh masuk gak liat dia….?”Tanya Cakka…

Perawat yang menjaga Oik tadi keluar…

“Dokter… Pasiennya menggigil lagi…”Katanya terlihat panik…

Zahrapun masuk kedalam diikuti Cakka yang mengekor dibelakang....
Mama Oik tampak heran melihat Cakka bisa ada disitu… Cakka seperti menatap Mama Oik dengan tatapan yang aneh… kemudian berkata…

“Besok kalau ada waktu saya harus bicara dengan Ibu…”

“Tapi dok… besok saya ada acara…”

“Terserah… mau melihat anak anda terus-terusan sedih atau membatalkan acara anda…” Kata Cakka kemudian mendekati tempat Oik berbaring…

Oik juga kaget melihat Cakka… apalagi tidak memakai pakaian dokter seperti tadi siang… hanya sebuah kaos dengan Jaket yang terlihat santai…

“Bu… anda boleh menunggu diluar?”Kata Zahra kepada mama Oik…

“Tapi Dok…”

“Sudah serahkan pada kami… kami pasti memberikan yang terbaik untuk anak anda…” Kata Zahra

Mama Oik akhirnya keluar…

“Cakka… kamu juga keluar sana…”

“Gak ah… gak mau aku kan juga Dokter…”

“Huh! Keras kepala… tapi ini bukan bagianmu…”

“Sudah… aku disini tak akan menganggu pekerjaan kakak…Lagipula kakak bilang kan kakak gak menemukan penyakit Oik… katanya mungkin Oik punya masalah… dan memang Oik punya masalah… Jadi ini tugas Cakka yah… Kak Zahra duduk aja serahin sama Cakka…Kasihan Oik kalau dia harus dibius terus nanti dia benar-benar sakit”

“Tapi Cak…” Cakka meletakan jari telunjuknya dibibir Zahra

“Sssttt…”Katanya

Kemudian mendekati Oik yang terbaring sambil menggigil, keringat dingin makin banyak mengalir ditubuhnya… Wajahnya pucat pasi yang dialiri airmata…

“Oik…”Ucap Cakka halus sambil menatap Gadis itu… Sedangkan Zahra Cuma pasrah dengan yang dilakukan adiknya… Semoga saja adiknya itu benar-benar bisa mengetahui penyakit Oik…

“Ma..as… Oik… dingin,,, Oik takut…”Kata Gadis itu sambil membuat posisinya yang terbaring kini duduk dengan kedua tangannya diletakan didepan dadanya dan terus mengigil…

“Takut… takut kenapa?”Tanya Cakka

Oik hanya diam tak menjawab pertanyaan Cakka… Matanya mengawasi ke kiri dan ke kanan… Cakka mengerti kalau dia takut menceritakan masalahnya karena takut didengar orang… Cakka segera menenggelamkan Oik kedalam pelukannya membuat Zahra kaget dengan apa yang dilakukan Cakka…
Oik juga merasa kaget dengan perlakuan Cakka tapi entah mengapa dirinya merasa nyaman berada dipelukan itu pelukan yang menenangkan seluruh badannya kini terasa hangat, dia merasakan aliran darahnya dan bahkan tubuhnya yang bergetar sedari tadi berhenti digantikan dengan irama dentuman jantungnya yang semakin kencang…
Ia menutup matanya… Dan tak lama kemudian tertidur dipelukan Cakka…
Cakka segera menaruh kepala Oik diatas sebuah bantal…
Kamudian menyelimutkan dia dengan selimut yang lumayan tebal tampak Oik tertidur dengan pipi yang basah karena Air mata… Cakka segera mengambil sapu tangan dan menghapus airmata Oik dengan saputangan…
Zahra masih kaget dia segera mendekat kearah Cakka…

“Cak… apa yang kam….”

“Ssssstttt….. Oik lagi tidur… bisa nanti komentarnya sebentar… Pindahkan Oik keruangan biasa dan biarkan dia dirawat disini selama beberapa hari… Kalau dirumah dia bakalan banyak tekanan!”Kata Cakka

Zahra tak mampu berkata-kata lagi… Dia segera menyuruh perawat memindahkan Oik keruang rawat inap… Merekapun keluar dari ruangan tersebut… Menemui mama Oik yang berada diluar…

“Dok… anak saya mau dibawa kemana?”Tanya mamanya yang melihat Oik dibawa keluar…

“Anak anda akan dibawah keruang rawat inap… untuk beberapa hari ini biarkan dia dirawat disini dulu…”Kata Zahra

“Tapi Dok… kata Dokter anak saya tidak apa-apa… kenapa sekarang harus dirawat…?”

“Takutnya kalau dirumah Dia banyak tekanan… Jadi mending untuk sementara waktu dia dirawat disini…”

“Baiklah Dok… titip anak saya… saya pulang sebentar mengambil beberapa keperluan…”

Zahra mengangguk…

>>>>>>>>>>>>>>

“Cakka… apa yang kamu lakukan sama Oik tadi?”Tanya Zahra dalam perjalanan pulang kerumah…

“Cakka Cuma nenangin Oik… karena tadi Cakka yakin dia butuh ketenangan…”Kata Cakka sambil menyetir mobilnya dengan santai…

“Tapi… itu aneh Cakka… Melanggar kodrat dan etika seorang Dokter…Ya trus gimana ceritanya itu cewek langsung tenang ketika dipeluk sama kamu… Apa kamu memeluk semua pasien-pasienmu seperti itu?”

“Tadi Cakka bukan sebagai Dokter atau Psikolog yah Kak… tapi sebagai temannya Oik… Jadi gak apa-apa dong Cakka meluk Oik… wong Cakka temannya Oik… Ya tergantung yah… kan pasien Cakka kalau jadi dokter anak-anak kecil bayi sampe 12tahun… Hahaha… gak apa-apa dong kalau Cakka peluk-peluk mereka kan imut-imut… Lagi pula kakak juga kan pernah bilang sendiri kalau pelukan Cakka itu menenangkan… Jadi dari hipotesis Kakak itu Cakka kembangkan bahwa orang kalau dipeluk akan merasakan ketenangan apalagi yang meluk orang ganteng seperti adikmu ini loh…”Tutur Cakka panjang lebar diakhiri oleh kenarsisan.

Zahra mengernyitkan dahinya lalu menonjok lengan Cakka…

“Ish… sakit tahu kak… Orang lagi nyetir juga… main tonjok… kalau kita celaka gimana?”

“Kamu narsis tauk…”

“Ehhh… tapi bener loh Ya kan?”

Zahra terdiam, Sebenarnya yang dikatakan Cakka itu ada benarnya juga… Soalnya dari kecil kalau Zahra sedang sedih Cakka yang selalu menenangkannya dan pelukannya itu memang menenangkan… Semasa SMA, waktu Zahra disakiti oleh Pacarnya juga Cakka yang menenangkannya walaupun dengan belaiannya tapi itu memang menenangkan… Bahkan sewaktu Ia sakit, Hanya dipeluk Cakka… beberapa Jam kemudian sakitnya sembuh… Aneh memang, Dan dia berpikir mungkin karena mereka kakak beradik jadi ada ikatan batin… Tapi bagaimana dengan Oik tadi?

>>>>>>>>>>>>>>>>

Pagi-pagi Shilla sedang sarapan melahap roti yang dilapisi selai kacang kedalam mulutnya ketika bel rumahnya berbunyi…
Setelah meneguk susu Shilla segera beranjak dari ruang makan menuju pintu rumahnya untuk membuka pintu rumahnya tersebut…

Tampak Seorang Pria tampan didepannya memakai kemeja hitam menyapanya…

“Good morning princess…”

“Cakka,,, tumben jam segini sudah datang?”

“Bukannya disapa balik malah ditanya yang macam-macam…Aku pulang nih…”Kata Cakka sambil membalikan badannya hendak pergi tapi tangannya ditahan Shilla

“Iya deh… iya… Good morning Too my Prince…tumben jam segini sudah datang…?”

“Gitu dong… ya kebetulan bangun pagi aja…hehehe”

“Ih… Cakka mah gitu…”Ucap Shilla manyun…

“Jangan manyun gitu dong jelek…”Kata Cakka sambil mencubit hidung Shilla…

“Ahhh… Cakka… sakit tahu….”

“Udah yuk berangkat…”

“Bentar aku ambil tas dulu…” Kata Shilla kemudian masuk kedalam rumahnya kembali dan tak beberapa lama keluar lagi… Merekapun menuju mobil Cakka dan melaju kerumah sakit…

Tiba dirumah sakit mereka segera mengambil pakaian dokter mereka dan seperti biasa berjalan beriringan menuju ruangan mereka masing-masing dan seperti biasa juga semua mata pasti tertuju pada kedua pasangan dokter itu…
Kali ini Cakka praktek pagi untuk dokter anak jadi dia dan Shilla searah… Shilla akan keruang bedah… Ruang bedah berada sebelum Klinik anak… Jadi Shilla duluan masuk kedalam ruangannya… dan Cakka melanjutkan perjalanannya menuju tempat prakteknya setelah saling pamit dengan Shilla…

>>>>>>>>>>>>>>>>

“Shilla… Boleh kakak bicara sebentar dengan kamu?Ada waktu kan?”Tanya Zahra ketika Shilla baru keluar dari ruang bedah…

Shilla membuka masker yang sedari dipakenya…

“Ya… kenapa kak?Ada kok... Shilla udah selesai”

“Jangan disini… Kita bicara dikantin ayo…”

Zahra dan Shilla menuju ke kantin…Setelah memesan 2 cangkir teh hangat merekapun berbicang-bincang…

“Shilla… kamu sama Cakka gak lagi ada masalah kan?”

“Hmm… gak kok kak… malah tadi kita bareng datangnya Cakka jemput aku… Memang ada apa yah kak?”

“Oh gak… Cuma nanya doang… beneran kan? Belakangan ini kalian gak punya masalah gitu?”

“Ada sih… kemarin… tapi udah gak usah dipikirinlah kak…”

“Kalau kakak boleh tahu masalah apa?”

“Itu kak kemarin Shilla keruangan Cakka… trus Shilla mergokin Cakka sedang memeluk seorang Gadis…”

Zahra yang meminum tehnya tersendak…

“Eh... kenapa kak?”

“Gak apa-apa kok… seorang Gadis?”

“Ia… tapi katanya itu pasiennya…”

“Dan kamu percaya gitu aja?”

“Hm… pecaya kok kak… Aku udah lama pacaran sama Cakka jadi harus saling percaya… Lagi pula Gadis yang ia peluk itu Cuma Gadis yang berumur 17tahunan sepertinya…”

“Hei Shilla… Cinta itu gak memandang umur…”

“Kok kak Zahra berkata seperti itu?” Tiba-tiba wajah Shilla berubah…

Sepertinya tadi Zahra keceplosan… Setelah melihat adegan kemarin Zahra jadi berpikir kalau ada sesuatu yang special antara Cakka dengan Gadis yang bernama Oik itu…

“Oh… gak kok… lupakan… aku Cuma em… anu… belakangan ini kamu jarang main kerumah jadi aku kira kamu dan Cakka punya masalah…”

“Oh… Gitu ya kak… Gak kok… aku gak ada masalah sama Cakka… cuma emang Cakka terlalu akrab dengan pasien-pasiennya gitu…”

“Trus kamu gak cemburu?”

“Ya cemburulah kak… perempuan mana yang gak cemburu… tapi aku tahu kok Cakka kan kerjaannya memang mengharuskan dia dekat dengan pasien-pasiennya…”

Zahra manggut-manggut… Sebenarnya Shilla sangat merasa was-was setelah perkataan Zahra yang barusan tapi dia berusaha biasa saja didepan Zahra…

>>>>>>>>>>>>>>>

Seorang anak kecil masuk kedalam ruangan Cakka… anak kecil itu kira-kira berumur 5 tahun segera duduk dibangku didepan Cakka…

“Selamat siang adik kecil… Siapa namamu?”

“Namaku… Silvi Doktel…”

“Silvi? Nama yang bagus… kesini sama siapa?”

“Sama Mama Doktel..”

“Terus mamanya mana?”

“Silvi… jangan nakal kamu…”Tiba-tiba masuk seorang Wanita…

“Eh.. maaf Dok… anak saya bawel…”

“Gak apa-apa kok namanya juga anak-anak… Gimana?”

“Gini dok… Anak saya belakangan ini ditangan dan kakinya sering timbul bintik-bintik merah…”

“Boleh saya lihat…?” Cakka melihat tangan dan kaki gadis kecil tersebut…

“Oh… ini gak apa-apa… Cuma alergi biasa… mungkin karena lingkungan tempat dia bermain tidak streril jadi dia terkena alergi… saya akan memberikan resep beberapa salep ada aturan pemakaiannya yah…”Kata Cakka sambil menuliskan beberapa nama-nama salep disebuah resep…

“Oh… terima kasih yah Dok…”

“Sama-sama…”

“Saya permisi dulu…”

“Da...da doktel…”Kata anak kecil itu sambil melambaikan tangannya…

“Da...da Silvi…”Cakka melambaikan tangannya…

Ibu dan anak itu keluar dari hendak keluar dari ruangan Cakka...

“Ma.... kalau aku udah besal... aku mau jadi doktel kayak om itu... tlus pengen punya pacal kayak doktel itu... ganteng...”

“Sssst masih kecil kamu...”

Cakka tersenyum geli mendengarkan percakapan Ibu dan anak itu...

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Seorang wanita dengan jas dokter... memperhatikan sekitarnya... kiri dan kanan... Setelah dirasanya cukup aman... Dia membuka pagar besi pembatas yang tinggi itu lalu masuk kepekarangannya dan menuju kesebuah taman ditempat tersebut...
Duduk didekat airmancur sambil termenung...

Tiba-tiba seseorang memegang pundaknya....

Wanita itu dengan segera menoleh kearah orang yang memegang pundaknya itu

^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^

Jumat, 04 Februari 2011

Speak Now or NEVER! -Part 2-

Cakka terbelalak kaget mendapati sosok Gadis yang berada didepannya sekarang...
Gadis itu yang kemarin hampir saja dia tabrak... Sepertinya Gadis itu juga kaget melihat Cakka yang kini didepannya...
Cakka menyuruh Ibu dan Gadis itu duduk... Terlihat Gadis itu masih memperhatikan Cakka...

" Ini anak saya...." Kata Ibu itu...

Cakka menatap kembali Gadis itu... Memang sudah bukan tatapan kosong lagi... Melainkan tatapan heran...

" Oh... Ya... Kalau boleh tahu siapa namamu?"Tanya Cakka

" Oik .. Mas...eh Dokter...." Ucap Gadis itu...

" Hahaha... Gak apa-apa kok kamu manggilnya Mas ... Santai aja..." Kata Cakka kemudian melanjutkan kata-katanya...

" Bu... Boleh saya berbicara berdua dengan anak ibu?" Tanya Cakka

" Ya silahkan... Saya keluar dulu... Permisi..." Kata Ibu itu lalu keluar dari ruangan Cakka...

Setelah Ibu itu keluar Oik mengangkat jari telunjuknya dan menunjuk kearah Cakka meminta penjelasan...

" Gak usah kaget... Aku Cakka... Dokter anak sekaligus psikolog dirumah sakit ini..."Kata Cakka mengulurkan tangannya...
Oik menyambutnya...

" Eh.. Maaf aku gak tahu kalau Mas ini.. Dokter... Maaf yah soal kemarin..." Kata Oik menundukan kepalanya...

" Gak apa-apa kok... Aku malah ingin jadi teman kamu... Bisakah kita bicara sebagai teman bukan sebagai Dokter atau Psikolog dengan pasiennya?" Kata Cakka

Oik terdiam tak menjawab...

" Dok..e... Mas... Boleh tolong jelasin kenapa Mama membawa aku kemari? Aku masih bingung..."

" Mamamu cerita segala sesuatu tentangmu... Kau punya masalah besar? Ceritakanlah..."

Oik menatap canggung kepada Cakka...

" Eh... Jangan canggung anggap aku temanmu... Hmm... Kalau disini kayaknya kamu bakalan canggung... Kita duduk disofa situ saja... Biar kamu lebih leluasa menceritakannya..." Kata Cakka sambil berdiri dan duduk disofa tak jauh dari situ diikuti Oik yang dengan canggung duduk berjarak dengan Cakka...

" Nah sekarang ceritakanlah... Tak baik masalah dipendam sendiri... Harus ada teman berbagi..."Kata Cakka...

Airmata Oik mulai jatuh kembali tapi dia masih didalam diam tak mau mengeluarkan sedikitpun kata...

" Tuh kan.... Semakin kamu menyimpan sendiri maka akan semakin sakit dan tak dapat membuatmu menemukan solusi... Kasian mamamu.. Dia turut sedih apabila keadaanmu seperti ini... Dia tak ingin melihatmu terpuruk seperti ini..."

Tangis Oik semakin menjadi-jadi... Airmatanya sudah tumpah ruah ... Sudah hampir 3minggu hari-harinya Ia lewati dengan menangis-menangis dan menangis... Dia memang bukan sosok yang cengeng tapi entah mengapa dia lelah dan lemah belakangan ini... Sulit menerima situasi makanya dia berubah menjadi Gadis yang cengeng...

Oik masih terisak... Cakka menyapu-nyapu punggung Oik... Untuk sementara waktu dia diam dan tak berbicara... Memberikan kesempatan pada Oik... Mungkin setelah menangis seperti ini Oik mau menceritakan masalahnya... Sehingga Cakka juga bisa menemukan solusi terhadap masalah-masalah yang Oik hadapi... Sepertinya tak hanya 1 masalah... Cakka bisa merasakan berbagai masalah yang ada didalam diri Gadis manis yang bernama Oik yang ada dihadapannya ini...

Tiba-tiba Oik kembali memeluk Cakka dan menangis sejadi-jadinya didalam pelukan Cakka...

"A..h..akh.. Hiks.. Aku..eh..ga.. Kuat .. Mas... Masalah ini he... Terlalu...eh.hiks..a.. Ber..at..." Kata Oik masih didalam pelukan Cakka...

Cakka membelai rambut Gadis itu... Menyapu punggungnya berharap dirinya bisa memberikan sebuah ketenangan kepada Oik... Airmata Oik terus membasahi baju putih Cakka... Namun setiap belaian Cakka mampu membuat sedikit demi sedikit rasa tenang kepada Gadis itu... Perlahan tetapi pasti Ia merasakan sebuah ketenangan yang belum pernah Ia rasakan sebelumnya...

Tanpa mereka sadari sepasang mata mengamati mereka dari balik pintu tersenyum pahit lalu menutup pintu dengan perlahan lalu berlari semakin menjauh dari ruangan itu...

Beberapa menit kemudian Oik melepaskan pelukannya dari Cakka... Ia merasa sudah tenang...

" Maaf mas... Lagi-lagi.... Aku main nyosor aja mas... Jangan anggap aku agresif mas... Aku tak tahu kenapa juga bisa memeluk mas..."Kata Oik tertunduk

" Tak apa-apa... Itulah gunanya teman kan ... Dan sekarang kita berteman yah..." Kata Cakka mengulurkan jari kelikingnya kepada Oik bak anak kecil yang baru mendapatkan teman baru... Oik menautkan jari kelingkingnya pada Cakka lalu tersenyum tipis...

" Ayo... Sekarang kita sudah berteman tak usah ragu ceritakan masalahmu..."

Oik menghela nafas... Mencoba menceritakan masalahnya kepada orang yang baru dia kenal... Baru kali ini... Bahkan teman-temannya disekolah tak mau diceritakan... Entah kenapa dia percaya pada Cakka... Bukan karena Cakka seorang Dokter atau Psikolog... Dari mana rasa percaya itu datang Oik tak tahu...

" Aku punya pacar... Namanya Obiet... Kami pacaran sudah 1 tahun.. Tapi 3 minggu lalu dia mutusin aku... Tanpa aku tahu masalahnya... Setahu aku belakangan ini dia malah lebih romantis dari biasanya... Tapi dia malah mutusin aku... Huh! Aku gak terima... Dan Gak sampai sehari aku dengar dia jadian dengan Gita... Dan mas tahu Gita itu siapa?"

Cakka mengangkat kedua pundaknya...

" Gita itu sahabatku sendiri... Bahkan dia yang menyupport hubungan aku dengan Obiet... bisa dibilang dia adalah mak comblang aku dengan Obiet... Tapi malah dia yang ngerusak hubunganku dengan Obiet... Aku sakit hati banget..." Oik menceritakannya dengan wajah sedih tapi airmatanya sudah tidak keluar... Dia hanya bersandar dengan lemas dikursi sofa...

Cakka mendengarkan cerita Oik...

" Gak cuma disitu... Belum habis kesedihanku karena Obiet dan Gita... Aku dikejutkan dengan kabar bahwa Obiet meninggal dunia karena kecelakaan... Aku shock berat... Obiet telah tiada... Walaupun dia telah menyakiti aku... Tapi tak bisa aku pungkiri kalau rasa sayang itu lebih besar daripada rasa sakit ini..." Ucap Oik... Airmatanya mengalir dipipi tapi dia mendongakan wajahnya keatas berusaha menahan airmatanya agar tak jatuh lebih banyak lagi... Dia juga tak mau Cakka menilainya sebagai Gadis yang cengeng...

" Hanya itu masalahmu?" Tanya Cakka memastikan... Karena Cakka yakin masalah Oik bukan hanya itu...

Oik mengangguk tapi kepalanya seperti biasa tertuduk... Cakka memegang dagu Oik agar menatapnya... Mata Gadis itu berkaca-kaca membuatnya semakin yakin kalau Masalah Oik bukan cuma itu...

" Gak boleh menyimpan masalah Oik... Aku bisa melihat kamu punya masalah selain itu... Tatap mataku katakan kalau memang masalahmu hanya itu..."

Oik menyerah melihat mata Cakka...

" Ya... Masalahku memang tak cuma itu..." Ia menarik nafasnya dalam-dalam sementara Cakka tak mau banyak berkata-kata lagi... Dia hanya menunggu gadis itu menceritakan masalahnya...

" Keluargaku termasuk keluarga yang kurang harmonis... Papa bekerja diluar negeri dan hanya pulang setahun sekali... Mama sibuk dengan pekerjaannya juga... Padahal sebelum kami kaya waktu kami masih hidup dirumah yang sederhana kami sangat sering berkumpul... Dan beberapa hari sebelum kematian Obiet... Aku memergoki mama sedang berpelukan dengan seorang laki-laki dan itu bukan Papa... Mesra sekali... Mama tak tahu kalau aku melihatnya... Aku sakit tega sekali mama berbuat seperti itu mengkhianati papa..." Oik kembali mendongakan wajahnya keatas menahan airmatanya kembali tapi sia-sia... Airmata kelemahan itu kembali mengalir dipipinya...

Cakka mengusap airmata Oik dengan tangannya dan usapan tangan itu mendinginkan hati Oik yang kini telah panas... Ia menutup matanya merasakan benar-benar dingin... Sentuhan apa ini?

Oik tersadar dia segera menetralisir dirinya kembali...

" Maaf... Aku cengeng..."

" Tak apa... Asal bisa membuat hatimu tenang... Sekarang bagaimana perasaanmu setelah menceritakan sebuah masalahmu?"

" Lebih lega... Terima kasih mas..."

" Sama-sama... Sekarang jangan kau pikirkan masalahmu dulu... Aku pasti membantumu agar terlepas dari masalahmu... Dan soal masalah Obiet... Obiet telah pergi biarkan dia pergi dengan tenang... Aku tahu memang sulit tapi maafkan kesalahannya... Dan bawa itu sebagai pelajaran agar kamu bisa menemukan orang yang lebih baik dari Obiet... Aku tak ingin kamu bersedih terus... Apa kegemaranmu?"Tanya Cakka

" Heh? Kegemaranku?" Oik mengernyitkan dahinya Heran dengan pertanyaannya Cakka yang sepertinya OOT (Out Of Topic)

" Iya..."

" Aku suka memasak... Soalnya dengan memasak aku bisa menuangkan segala kreasi.. Apalagi ada hasilnya... Kita bisa menikmati hasilnya..."Kata Oik

" Kau suka memasak? Sama dong..."

" Hah? Mas juga suka memasak?..."

" Bukan kamu kan suka memasak... Aku suka menyantap berarti... Cocok gitu..."

Oik tertawa kecil...

" Mas bisa aja..."

Akhirnya Cakka bisa melihat Oik tertawa walaupun itu tawa yang kecil... Berarti sudah ada kemajuan... Cakka sering menghadapi Gadis-gadis remaja yang labil.. Tapi entah mengapa Oik membuatnya sangat tertarik Untuk membantunya mengatasi masalahnya.. Padahal biasanya Cakka jenuh dengan pasien-pasien yang labil...

" Kapan-kapan kamu bisa dong masakin Mas..."

" Boleh kok... Mas sukanya apa?"

" Aku suka makanan indonesia... Tanpa daging... Aku lebih suka sayur-sayuran dari pada daging... Seperti Gado-Gado, Bubur manado, Sayur asem,dan lain-lain... Soalnya sayuran itu lebih menyehatkan..." Kata Cakka yang mulai lagi dengan teori kedokterannya...

" Sama... Oik juga kurang suka daging...hehehe..."

Cakka dan Oikpun terlibat percakapan santai bak dua orang kawan lama... Berbicara dengan Cakka yang walaupun lebih tua beberapa tahun dari Oik membuat Oik merasa seperti berbicara dengan sahabatnya sendiri bahkan dia sejenak lupa dengan masalah yang menghantuinya belakangan ini...

Cakka melihat jam tangannya sudah menunjukan pukul 11:45... Sebentar lagi dia harus makan siang... Dan jam 1 nanti gilirannya membuka klinik Dokter anak...

" Yasudah Oik... Jangan sedih lagi yah... Kalau sedih datang cari aku saja... Aku siap kapanpun sebagai teman untukmu... Sekarang kita keluar Mamamu pasti khawatir dengan keadaanmu..."

Oik mengangguk dan kemudian Cakka mengantarnya keluar dari ruangannya menemui Mama Oik yang sedari tadi menunggu diluar...

" Bu... Anak ibu tidak apa-apa hanya ada sedikit tekanan... Bila ada waktu saya ingin berbicara juga empat mata dengan ibu... Tapi tidak sekarang karena saya harus istirahat dan membuka praktek Dokter anak sebentar siang..."

" Baiklah Dok... Kalau ada waktu pasti saya kembali... Terima kasih..."

Cakka berlalu dari hadapan Oik dan Mamanya..
Mama Oik heran sekali mendapati Oik sudah tidak dengan tatapan kosong... Tatapannya meski masih tersirat kesedihan tapi ada keceriaan dibaliknya...
Mantra apa yang Cakka gunakan sehingga membuat Oik seperti itu?

>>>>>>>>>>>>>>>

" Dokter..." Panggil seseorang... Cakka menoleh kearah sumber suara tersebut.. Didapatinya seorang perawat...

" Ya..."

" Tadi Dokter Shilla mencari anda..."

" Oh ya? Sekarang Shilla kemana?"

" Sepertinya tadi berlari kearah kantin Dok... Dia kelihatan sedih gitu setelah dari ruangan dokter Cakka..."

" Dia ke ruanganku?"

" Ia Dok... Sudah saya larang karena ada pasien... Tapi tetap saja dia bersikukuh mau keruangan Dokter... Tapi setelah itu malah dia berlari dengan wajah sedih Dok..."

Cakka menepuk Jidatnya... Pasti Shilla melihat adegan Pelukan Dia dan Oik... Shilla tak boleh salah paham...

Cakka segera berlari menuju kantin...

Dicarinya Shilla dikantin tersebut tapi tak Ia temukan... Dia hanya melihat Ify sedang membawa makanan Kepada pembeli-pembelinya...
Cakka menghampiri Ify...

" Ify... Lihat Shilla Gak?" Tanya Cakka

" Mbak Shilla? Tadi dia kesini sih Mas... Tapi Gak lama... Dia cerita sama Ify katanya liat mas Cakka lagi pelukan sama cewek diruangan mas Cakka..."

" Tuh kan benar... Pasti dia salah paham... Kamu tahu gak Fy sekarang dia dimana?" Tanya Cakka

" Emang siapa sih mas cewek itu?"

" Nanti aku ceritakan yang penting dimana Shilla sekarang?"

" Sepertinya nih Mas... Belakangan ini mbak Shilla sering ke taman di rsj sebelah mas... Beberapa kali Ify kan bawa makanan sama dokter-dokter di rsj... Dan Ify beberapa kali liat mbak Shilla disana..."

Cakka mengernyitkan dahinya...
Whaaat?? RSJ? Untuk apa Shilla kesana? Shilla kan bukan dokter Jiwa... Buat apa dia kesana?

" Oke makasih ya Fy... Aku coba kesana..." Kata Cakka

Memegang tangan Ify tanda terima kasih...
Kemudian berlari meninggalkan Ify menuju RSJ...

Sentuhan ini?

RSJ tepat berada dibelakang Klinik umum hanya dibatasi pagar pembatas agar pasien RSJ yang aneh bin ajaib tak keluar dari tempatnya...

Cakka menyusuri koridor RSJ... Disepanjang koridor tampak orang-orang yang ajaib-ajaib.. Ada yang menggonggong seperti anjing, ada yang berjalan bak supermodel diatas catwalk, ada yang tertawa sendiri, Ada yang memeluk-memeluk segala macam boneka...
Sebenarnya Cakka sering kemari karena dia juga dibutuhkan disini... Cuma belakangan ini dia jarang kemari karena Dia juga banyak mendapat pasien untuk urusan Psikologis...

Taman di RSJ terletak disayap kiri RSJ tepat disamping ruangan seorang dokter... Cakka jadi was-was jangan-jangan Shilla sering datang kemari menemui dokter itu...
Dia menemukan Shilla sedang duduk disamping airmancur...

Cakka mendekat...

" Shilla..." Ucap Cakka...

Shilla menoleh kearah Cakka dan tersenyum sinis kearahnya...

" Sudah selesai?"

" Shill..., kamu salah paham... Aku cuma menghibur dia ... Dia pasienku..."

" Aku tahu dia pasienmu... Tapi aku ini manusia yang punya rasa cemburu... Aku lihat kau juga begitu menikmati saat kalian berpelukan..."

" Shilla... Aku mohon mengertilah... Aku cuma menenangkannya karena dia punya masalah besar..."

" Apa kau pernah menenangkanku ketika aku punya masalah? Selama 5 tahun kita pacaran kau tak pernah memeluk menenangkanku seperti itu..."

" Itu karena......."

" Karena apa Cakka?" Ucap Shilla dengan nada meninggi...

" Itu Karena kamu tak pernah terlihat rapuh didepanku... Itu karena kamu tak pernah memperlihatkan masalahmu didepanku... Kau tak pernah menangis walau aku tahu kamu itu sedang sedih itulah sebabnya aku tak menenangkanmu... Karena kau sering mencari ketenanganmu sendiri....Bagaimana aku tahu jika kau sedang punya masalah... Jika aku hanya mempunyai sedikit waktu denganmu?"Kata Cakka...

Shilla terdiam... Memang benar yang diucapkan Cakka... Dia memang selalu menyembunyikan masalahnya didepan Cakka meski dia tahu Cakka pasti mengetahuinya... Dia ingin terlihat sebagai wanita yang tangguh... Tak ingin tergantung kepada Cakka... Apalagi pekerjaan mereka membuat mereka jarang bertemu... Disaat Cakka punya waktu Shilla tak punya... Disaat Shilla punya waktu Cakka tak punya... Dan tanpa Ia sadari Ia merasakan kesepian yang mendalam...
Runtuhlah pertahanan Shilla sebagai wanita tangguh... Kali ini dia menangis... Pertama kalinya Cakka melihat seorang Shilla menangis dihadapannya...

Cakka memeluk Shilla menyandarkan kepala Shilla diatas bahunya... Membelai halus ubun-ubun kepalanya... Sama seperti Caranya menenangkan Oik tadi... Shilla merasakan ketenangan didalam pelukan Cakka 5 tahun pacaran dia baru merasakan pelukan Cakka sekarang... Ternyata dipeluk seorang Cakka sangat membuatnya merasa berbeda begitu hangat dan nyaman... Pantas saja pasien-pasiennya selalu betah berada didalam pelukan Cakka...

" Akhirnya runtuh juga hati kerasmu...." Kata Cakka tersenyum...

Shilla melepaskan pelukan Cakka dengan wajah manyun...

" Sudah... Jelek tahu begitu... Sekarang ayo balik buat apa kau disini...? Mau menjadi ajaib seperti orang-orang disini...?"

" Ih Cakka..... Abis dirumah sakit tamannya ga ada airmancur jadi gak enak..."Kata Shilla

" Benar nih ga ada alasan lain? Atau jangan-jangan kamu mau bertemu Dokter Deva lagi..."

" Cakkaaaaaa.... Negatif thinking deh... Orang bukan mau ketemu Dokter Deva..."

" Kamu juga tadi negatif thinking sama aku... Berarti benar kamu kamu mau ketemu seseorang disini...."

Shilla gelagapan...

" Eh.. Gak kok... Yaudah yuk balik...." Shilla menarik tangan Cakka...

Cakka bisa membaca ada sesuatu yang Shilla sembunyikan tapi dia tak mau mempermasalahkannya... Soalnya sebentar lagi dia harus pergi ke klinik anak... Tak sempat makan siang kalau seperti ini...

>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Jam sudah menunjukan pukul 19:00... Ketika Cakka baru menyelesaikan tugasnya sebagai dokter anak... Belakangan ini banyak anak-anak mengalami Gangguan pernapasan karena udara Jakarta yang terganggu polusi asap kendaraan yang tak sehat untuk dihirup... Banyak juga yang mengalami batuk-batuk karena konsumsi snack yang tidak sehat... Ada berbagai macam penyakit pada anak yang dikarenakan udara, gizi, lingkungan dan lain-lain... Semakin maju dan canggih segala sesuatu didunia ini... Semakin banyak penyakit yang muncul...

Ia memasuki ruangannya... Mau mengambil tas dan kunci mobil sebelum pulang kerumahnya...

Diatas mejanya ada sekotak makanan yang dibungkus... Cakka membukanya... Didalam ada Gado-gado kesukaannya...
Serta secarik kertas disampingnya...

' maaf mas Cakka... Ify lancang masuk keruangan mas... Cuma mau ngasih gado-gado ini buat mas... Ify tahu mas Cakka belum makan dari tadi siang... jadi Ify bawain ini buat mas... Selamat menikmati...

-Ify-'


Cakka tersenyum mengambil Gado-gado tersebut... Membawa tasnya serta mengambil kunci mobilnya... Hendak keluar tapi sepertinya dia lupa akan sesuatu....

Zebra Cake...

Cakka membuka lemari mengambil sekotak Zebra Cake pemberian Shilla... Lalu berjalan keluar mengambil mobilnya dan melaju menuju rumahnya....

>>>>>>>>>>>>>>>>

Oik terdiam ditempat tidurnya pikirannya kembali tidak tenang.... Kali ini dia sudah tidak memikirkan tentang Obiet...
Tadi dia sudah bertekad untuk melupakan Obiet... Yang dipikirannya hanyalah Mama dan Papanya...
Tadi sepulang dari rumah sakit Oik mendengar Mamanya sedang menelepon Papanya dan terjadi pertengkaran yang hebat sekali...
Makanya Ia jadi takut lagi... Dia menjadi sedih kembali....

Tiba-tiba badannya Gemetaran... Keringat dingin mengucur ditubuhnya... Wajahnya pucat pasi.... Dingin....
Oik butuh kehangatan....

Tak beberapa lama kemudian Mamanya masuk kedalamnya... Dan panik melihat Oik seperti itu...

" Oik kamu kenapa nak? Sakit?" Tanya mamanya yang segera mendekat keranjang Oik...

Tak ada Jawaban dari Oik... Tubuhnya semakin bergetar.... Dingin yang Ia rasakan menusuk kulit...

Mama Oik panik segera memeluk Oik... Oik merasa kehangatan memang tapi tetapi tidak untuk ketenangan...

Tak berlama-lama mamanya dengan susah payah mengangkat Oik seperti anak kecil padahal badan Oik dengan mamanya hampir sama... Akhirnya dibantu pembantu-pembantunya Mama Oik berhasil memasukan Oik kedalam mobil...

Dan menyuruh sang supir mengantarkannya kerumah Sakit...

^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^