Tampilkan postingan dengan label cakka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cakka. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Januari 2013

Dulu & Sekarang: Cakka Idola Cilik vs Cakka The Finest Tree

Ahaaa... kembali lagi postingan ini :p
nggak bosen-bosen ya :p emang.

Kemarin ada yang nontong Cakka Nuraga jadi bintang tamu di Idola Cilik 2013?

Kalau nggak nihh saya kasih videonya!




AAAAAAAAAAAAA.... COOL banget kan!

Banyak yang kaget dengan perubahan Cakka. Kalau saya sih kagak :p wong saya mantau setiap harinya (?).  Nggak cuma itu Cakka di puji KUALITAS VOCALNYA musti di caps dan digaris bawahi tuh. Soalnya dulu banyak yang bilang Cakka 'modal tampang doang'. Noh! Mama Ira, Ka Winda, Ka Naga, Ka Rafi semuanya mengakatan kalau Cakka itu JEBOLAN IDOLA CILIK YANG BERKUALITAS!.

Lihatlah perbedaannya haha :D *tetep ganteng kok* /plak

Dan inilah komentar-komentar yang saya kelipingkan (?)

(click the image for view)

(click the image for view)

Banyak kan yang kaget sama Cakka. Katanya tambah ganteng, cakep, kece, suaranya bagus. Pacarnya siapa dulu fhily  C~LUVers! (?)
hahahaha :D sip (y)
Pokoknya terharu senang bangga banget liat Cakka bersama The Finest Tree jadi bintang tamu kemarin :') *terharu* kapan-kapan pokoknya kudu dan wajib undang Cakka dan TFT yah :D
Di jamin ratting makin naik wkwkwkwk :p

Minggu, 13 Januari 2013

Lirik Lagu Selamat Datang - The Finest Tree

This song is very COOL recommended!



Kini tiba masanya
Untuk memulai takdir kita
Perjalanan yang sebenarnya
Kita kayuh bersama

Kau nyalakan lilinnya
Aku yang menjaga sinarnya
Seperti layaknya langkah kita
Percaya Tuhan menjaganya

Reff:

Semua yang aku cari
Ini semua untuk dirimu
Semua yang aku impikan
Ini mimpiku kepadamu
Karena bersamamu
Membuat aku bertahan

Saat terlihat langkah kakimu
Mekar indah senyumanmu disitu
Kuhampiri dan ucapkan
Selamat datang

Kuhampiri dan ucapkan
Kuhampiri dan ucapkan
Kuhampiri dan ucapakan
Selamat datang

Selasa, 18 Desember 2012

Lirik Sampai Waktunya Datang - The Finest Tree


SAMPAI WAKTUNYA DATANG



Maaf maaf maaf
bila kini kau terluka
Aku hanya ingin
Kau memahami apa adanya

Jangan jangan lagi
tangisi hari kemarin
Penguasa cahaya 
Menanti senyuman

Bila pada saatnya nanti
Akhirnya kita bersama

Teruslah engkau bertahan
Sampai waktunya datang
Aku pasti akan 
Menemukanmu

Teruslah engkau berjalan
Sampai waktunya datang
Aku yang berlari
Menemuimu

Percaya akan kedatangan sinarnya
Bersama menanti hingga waktunya tiba

Teruslah engkau bertahan
Sampai waktunya datang
Aku pasti akan 
Menemukanmu

Teruslah engkau berjalan
Sampai waktunya datang
Aku yang berlari
Menemuimu

Na....nana...nananana..nanananana
Na....nana...nananana..nanananana

Sabtu, 08 Desember 2012

Lirik Lupa Bawa Nyali - The Finest Tree

Judul: Lupa Bawa Nyali
Penyanyi: The Finest Tree
Album: The Finest Tree
Label: JagoKluruk Indonesia
Pencipta: Eross Candra (lagu), Cakka Nuraga (rap)


Tiap kali ku melihatmu
sesak napas dan kehilangan arah
Tolong tolong tolong bantulah aku
berdiri tegak dengan dua kakiku

Reff:
Hey Little baby, kau membuat napas ini
lepas dan tak terkendali, tak bernyali
Tolong kembali, kembalikan napas ini
berilah sedikit lagi, harga diri

Pernah kumencoba cool didepanmu
keringat dingin membasahi wajahku
Lalu kau bertanya, apa yang terjadi?
aku bilang, aku lupa bawa nyali

(back to reff)

Ini semua, betapa besar cintaku padamu
Takbisa lagi aku menjelaskan
Yang aku tahu, yang aku tahu
Aku tergila-gila kepadamu

Rap/
Selalu begini, selalu begini
Tiap aku mencoba cool dihadapanmu
Jantung terasa lepas
napas tak terkendali
nervous mendera sekujur tubuhku
Pasti begini, pasti begini
Tiap aku mencoba cool dihadapanmu
kata yang kusiapkan lenyap begitu saja
didepanmu aku seperti tak berarti
Aku selalu lupa bawa nyali

(back to reff)


Selasa, 12 Juni 2012

Cakka & Zahra (Live duet) - Someone Like You & What Makes You Beautiful


Ini.... ada bagian yang bikin envy banget ._. Cakka megang tangannya Zahra, trus Zahra kayak kaget, CL's histeris ._. sesuatu banget yak -_-"
Tapi, Keren kok...
Both doing great!


ini loh ekspresi Zahra waktu dipegang tangannya sama Kka...


Cakka tuh pas bilang:
Baby you light up my world like nobody else,
The way that you flip your hair gets me overwhelmed,
But when you smile at the ground it ain't hard to tell

AAAAAAAAAAAA...

that's all


Trus... ini lagi....


Ini pas Zahra bilang sambil nunjuk Cakka:
You don't know you're beautiful...

Minggu, 13 Mei 2012

Baby Proposal [One Shoot]

Baby Proposal

Prolog

Bruumm... Bruumm... Cakka meramas kuat gas cagiva-nya yang menimbulkan kebisingan di sekitarnya. Asap knalpot membuat polusi udara, namun dia tak peduli. Cagiva itupun melaju menyusuri jalanan dengan kecepatan tinggi, dan semakin tinggi. Dia sangat kesal, amarah di dalam dirinya berada pada titik puncak, darahnya sudah mendidih. Cakka merasa percuma memperjuangkan gadisnya itu, setelah segala upaya dilakukannya meyakinkan kedua orang tuanya terhadap gadisnya itu, dia malah menemukan pemandangan yang tidak mengenakan mata tadi. Gadisnya sedang 'berdua' dengan musuh bebuyutannya. Okay, mungkin kalau hanya berdua, Cakka tak akan semarah ini, tapi... You know-lah.
Cakka menyelip kendaraan secara sembarangan, melewati jalan-jalan dengan kecepatan diatas rata-rata. Bahkan, dia melewati jalan-jalan yang belum pernah di lewatinya. Tiba-tiba seekor kucing hendak menyebrang di sebuah jalan, membuat Cakka refleks membanting stir cagiva-nya. Niat hati ingin menghindar agar tidak menabrak kucing... Tapi...
BRUUUUKKK!!
Cakka malah menabrak seorang wanita...

***

1. The Beginning of Disaster

Ponsel Cakka berdering saat melangkah menyusuri halaman kampusnya. Segera ditengoknya layar ponselnya tersebut. Tertera  “Ayah memanggil” Cakka segera menekan tombol hijau pada ponselnya hendak mengangkat panggilan Ayahnya tersebut.
...Hallo...
...Hallo, Cakka cepat ke rumah sakit sekarang...
...Kenapa Yah? Sivia kritis lagi yah?...
...Bukan, dia sudah siuman, kamu cepat kemari...
...Oke, Cakka segera kesana...
Cakka segera mengakhiri sambungannya dan kembali ke M3 miliknya. Dia segera memacu M3-nya itu menuju sebuah rumah sakit yang letaknya tidak begitu jauh dari kampusnya. Dia bergegas menuju ruang intensif rumah sakit tersebut. Di depan ruang intensif, Bundanya Cakka terlihat sedang menunggunya. Cakka segera menghampiri Bundanya itu.
“Cakka,” sapa Bundanya yang nampaknya khawatir.
“Ada apa Bun?,”
“Gawat Kka...ehm, Sivia, itu wanita yang kamu tabrak, sudah siuman, tapi...,” kata-kata Bunda Cakka menggantung.
“Tapi kenapa Bun?,” tanya Cakka sambil mengerutkan alisnya, dalam hati dia khawatir akan apa yang akan Bundanya sampaikan.
“Tapi...dia mau menuntut kamu,” kata Bundanya semakin terlihat panik.
“APA?!,” mata Cakka terbelalak.
“Kamu tenang dulu Kka,”
“Gimana bisa tenang Bun, masa Cakka mau dituntut sih? Padahal Cakka kan sudah bertanggung jawab membiayai rumah sakitnya, Bunda sama Ayah juga sudah menyelesaikannya dengan keluarga Sivia kan? Trus? Dia tidak bisa seenaknya dong menuntut Cakka,”
“Iya makanya kamu tenang dulu, tadi kita sudah menjelaskan pada Sivia, trus dia berterima kasih, tapi dia tetap mau menuntut kamu kalau kamu tidak menerima satu persyaratannya lagi,”
“Persyaratan apa Bun?,”
“Bunda juga tidak tahu, dia mau bicara langsung sama kamu, ayo masuk,” ajak Bunda Cakka.
Merekapun masuk ke dalam ruang intensif tersebut. Di dalam sudah ada Ayahnya Cakka, beserta seorang gadis seumuran Cakka. Itu Oik, adiknya Sivia, wanita yang di tabrak Cakka. Oik mewakili keluarga Sivia, dan Oik adalah satu-satunya keluarga Sivia. Dua bulan lalu mereka baru kehilangan kedua orang tua mereka dan suami Sivia dalam sebuah kecelakaan, waktu mereka akan menjalankan bisnis di luar kota. Sivia dan Oik waktu itu tidak ikut makanya mereka bisa lolos dari maut. Cakka mendekat ke arah mereka, tampak Sivia masih dengan alat bantu pernapasan. Dia terlihat lemah, tapi dia membuka matanya tanda dia sadar, sesekali mengerjapkan matanya.
“Oik... Lola mana?,” tanya Sivia dengan suara lemah.
“Di rumah kak...aku titip sama Mbok Sanah...aku kan tak mungkin bawa Lola kemari kak, kakak kangen yah sama Lola?,” Sivia mengangguk perlahan bulir air matanya jatuh membasahi pipinya.
Cakka agak bingung dengan yang terjadi di hadapannya. Dia berbisik dan bertanya pada Bundanya.
“Bun... Lola itu siapa sih? Bukannya keluarganya Sivia tertinggal Oik yah?,”
“Tadi Bunda sempat ngobrol sama Oik, ternyata Sivia itu punya anak yang baru berusia tiga bulan, nah Lola itu anaknya,”
“Oh,” Cakka mengangguk-angguk.
“Orang yang nabrak aku sudah datang Ik?,” tanya Sivia.
Oik menatap Cakka, Cakka agak mendekat dengan takut-takut diiringi anggukan Oik.
“Saya , aduh maaf banget, saya tidak sengaja,” sesal Cakka.
Sivia menyunggingkan senyum sinis di sudut bibirnya, “Kamu pikir cukup hanya dengan minta maaf,”
“Saya rela melakukan apa saja yang anda mau, asal jangan depak saya ke penjara, plis jangan laporin saya ke polisi,” kata Cakka hopeless sekaligus takut.
“Kamu yakin? Mau melakukan apa saja?,” tanya Sivia nadanya terdengar melemah.
“Yakin...saya yakin,”
“Baiklah...,” Sivia terdiam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya, “Oik, kamu segera panggil pengacara keluarga kita, Kakak mau mengajukan proposal untuk orang ini,” Sivia menatap Oik kemudian berpaling lagi menatap Cakka, “kamu mau kan kalau saya pakai proposal?,”
Dengan cepat Cakka mengangguk. Tidak ada pilihan lain selain setuju dengan apa yang Sivia katakan. Dia tak ingin masuk penjara. Apa kata dunia nanti? Cakka masih ingin menyelesaikan kuliahnya, Cakka masih ingin menikmati kebebasan hidupnya, Cakka masih ingin berlaku seperti pemuda pada umumnya. Dia tak mau terkekang di dalam penjara!
“Baiklah, nanti kalau sudah selesai proposalnya, kamu kembali lagi kemari,”

***

Sentakan kaki Cakka terdengar menyusuri koridor rumah sakit. Setelah beberapa hari yang lalu, sejak pertemuan Sivia dengan pengacara untuk mengatur proposal, tiba-tiba dia kritis lagi. Tadi Bunda Cakka telepon, bahwa Cakka harus segera ke rumah sakit. Walaupun sebenarnya tadi ada kelas, Cakka memutuskan untuk bolos. Dari nada Bundanya sepertinya dalam keadaan genting.
Tiba di depan ruang intensif, Cakka segera membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Ruangan sepi, yang terdengar hanyalah isak tangis seorang gadis di samping tempat tidur Sivia yang terbujur kaku. Itu tangisan Oik, di samping Oik ada seorang wanita paruh baya yang mengelus-ngelus punggungnya seraya menenangkan Oik sambil menggendong seorang bayi. Cakka terdiam sesaat di depan pintu, mencoba menyerap apa yang terjadi di hadapannya saat ini. Perlahan-lahan terpekik dalam hatinya... ‘ya ampun’. Cakka bergeming di depan pintu, dia masih shock dengan apa yang terjadi. Ayah dan Bunda Cakka yang menyadari kehadiran Cakka segera berdiri dan mendekati Cakka. Ayahnya menepuk bahu Cakka.
“Be a gentleman, kamu harus bertanggung jawab dengan semuanya ini,” kata Ayahnya.
“Tenang sayang, ingat masih ada proposal, Bunda harap apapun yang ada di proposal almarhumah Sivia kamu harus menyanggupinya, Bunda tak mau anak Bunda jadi seorang pengecut,” lanjut Bundanya.
Cakka mencoba menetralisir keterkejutan yang ada pada dirinya. Dia mencoba melangkah mendekati Oik, perlahan....dan perlahan, hingga tiba di samping Oik. Dia menatap Sivia yang sudah terbujur kaku lalu duduk di samping Oik, dan menatap gadis yang ada di sampingnya itu.
“Maaf,” kata itu saja yang bisa meluncur dari mulut Cakka.
Oik memalingkan pandangannya ke arah Cakka dan menatapnya dengan tatapan nanar. Membuat nyali Cakka semakin ciut, dia pasrah dengan apa yang akan di lakukan Oik padanya. Oik bisa menamparnya sesuka hati, bisa memukulnya juga, memakinya juga silahkan. Oik bebas melakukan apa saja padanya. Karena Cakka pikir dia memang seorang pembunuh yang telah membunuh kakaknya. Dia memang kejam. Sebisa mungkin dia membalas tatapan Oik bukan dengan tatapan menantang, melainkan rasa bersalah dari dalam hatinya.
Air mata Oik luruh, dia merasa orang yang paling mengenaskan sedunia. Dua bulan lalu dia kehilangan orang tuanya dan kakak iparnya, dan hari ini dia kehilangan kakak tercintanya. Terkadang sebagai manusia dia merasa bahwa Tuhan itu tidak adil di dalam hidupnya, namun dia tetap yakin bahwa rencana Tuhan itu, beautiful in it’s time. Dia merasa sendiri di dunia ini, setelah kakaknya pergi apa yang harus di lakukannya? Ayah dan Bundanya boleh mewariskan kekayaan yang tak akan habis sampai tujuh turunannya, tapi bukan itu yang dia mau. Dia menyadari, bahwa setelah ini tak akan lagi kehangatan keluarga seperti dulu, saat mereka semua masih ada di dalam dunia ini. Oik menatap lelaki yang ada di sampingnya waktu itu, dalam hatinya dia marah semarah-marahnya pada lelaki di hadapannya itu. Dia ingin menjambak rambut lelaki itu, ingin memakinya, ingin melihat dia hidup mengenaskan di dalam penjara. Tapi, tatapan lelaki itu begitu teduh, namun penuh penyesalan. Kata-kata yang Oik akan luncurkan tertahan di mulutnya. Di luar kendalinya, dia malah meraih lelaki itu dan memeluknya, menaruh kepalanya di pundaknya dan menangis sejadi-jadinya. Oik memang sedang butuh a shoulder to cry on, dia tak mungkin menangis di pundak Mbok Sanah yang sedang menggendong Lola. Lelaki di sampingnya inilah yang mungkin bisa menjadi a shoulder to cry on. Meski lelaki ini adalah pembunuh kakaknya.
Cakka kaget ketika Oik bukan menamparnya, bukan memakinya, ataupun memukulnya tapi malah memeluknya dan menangis di pundaknya. Air mata Oik membasahi kemeja yang Cakka kenakan. Isak tangisnya semakin menjadi. Cakka jadi bingung apa yang harus dilakukan kepada gadis yang sedang memeluknya ini. Dia mencoba mengangkat tangan kanannya dan membelai rambut Oik, lalu tangan kirinya mengusap punggung Oik. Lidahnya kelu untuk mengeluarkan kata-kata. Mungkin, jika dia berbicara akan membuat situasinya semakin parah. Wangi sampo Oik menari-nari di hidung Cakka yang berada begitu dekat dengan rambutnya.
Beberapa menit menangis di pundak Cakka, Oik mengangkat kepalanya dan beristirahat di dada Cakka. Isak tangisnya sudah berhenti tapi dia masih membutuhkan ketenangan. Dan lelaki ini memberinya ketenangan itu. Oik merasakan tangan Cakka berhenti mengusap punggungnya, dan membalas pelukan Oik itu. Oik menutup matanya, menarik napasnya panjang-panjang, sensasi benetton sport terasa di indera penciumannya. Biasanya Oik paling tidak menyukai wangi parfum cowok-cowok yang sampai menyesakkan hidungnya, tapi entah kenapa tidak begitu dengan Cakka.
Cakka menekan dagunya di puncak kepala Oik, sebelum mengeluarkan sebuah kalimat...
“Jangan menangis lagi, maafkan aku,”
Oik membuka matanya kembali, seakan kesadarannya kembali, dia segera menjauhkan diri dari dadanya Cakka dan menghapus sisa-sisa air mata di tepi matanya dan di pipinya.
“Besok setelah pemakaman, kita bertemu di kantor pengacara, ku harap kau tidak lupa dengan proposal yang diajukan kak Sivia tempo hari,”

***

Cakka turun dari SUVnya tepat di halaman sebuah gedung lebih tepatnya di kantor pengacara keluarga Oik. Dia segera memasuki kantor tersebut, dan segera menuju ke ruangan kantor pengacara tersebut. Sesuai permintaan Sivia dahulu, Cakka harus datang ke kantor pengacara sendiri tanpa membawa orang tua. Di tuntun oleh seorang pegawai Cakka masuk ke dalam ruang pengacara tersebut. Di dalam Oik bersama Mbok Sanah yang sedang menggendong lola telah berada di dalam.
Cakka duduk di samping Oik tepat di hadapan sang pengacara. Sang pengacara mengambil sebuah map yang berisi proposal yang di buat Sivia sebelum dia meninggal. Membukanya, dan menatap Cakka dan Oik secara bergantian.
“Kalian siap?, bisa saya mulai membacakannya?,” tanya sang pengacara.
Cakka dan Oik mengangguk secara bersamaan.
“Pada hari ini Senin tanggal tujuh April dua ribu dua belas, berhadapan dengan saya Mario Stevano Aditya Haling, Sarjana Hukum, Magister Hukum, advokat di Jakarta, penghadap bersama saksi-saksi yang akan di sebutkan pada akhir akta ini. Satu, Sivia Azizah lahir di Jakarta pada tanggal empat belas Pebruari seribu sembilan ratus delapan puluh sembilan, Warga Negara Indonesia, Wiraswasta, bertempat tinggal di Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jalan Pegangsaan Timur nomor tujuh puluh dua, Nomor Induk Kependudukan tujuh dua titik tujuh tiga dua enam titik lima empat kosong dua delapan tujuh kosong kosong dua satu, sebagai penghadap atau disebut juga pihak pertama menyatakan dengan ini mengajukan proposal kesepakatan kepada dua, Cakka Kawekas Nuraga, lahir di Bintaro pada tanggal delapan belas Agustus seribu sembilan ratus sembilan puluh dua, Warga Negara Indonesia, pelajar atau mahasiswa, bertempat tinggal di Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jalan Imam Bonjol nomor delapan, Nomor Induk Kependudukan tujuh dua titik tujuh empat dua enam titik delapan belas kosong delapan sembilan dua titik kosong satu dua sembilan atau disebut juga pihak kedua, ada pun uraian proposal yang harus di penuhi oleh pihak kedua yaitu sebagai berikut, satu sehubungan dengan kritisnya dan tidak memungkinkannya pihak pertama, maka pihak pertama menghibahkan anaknya kepada pihak kedua untuk menjaga dan merawatnya selayaknya anaknya sendiri. Dua, apabila terjadi hal-hal yang tidak diingikan kepada pihak pertama atau meninggal maka pihak kedua berkewajiban mengurus, membiayai bahkan mengambil hak asuh atas anak dari pihak pertama dalam hal ini Lola Allison Sindhunata dikarenakan pihak pertama sudah tidak mempunyai keluarga lagi. Tiga, pihak kedua tidak diijinkan untuk memakai jasa baby sitter dalam hal mengurus dan membesarkan Lola. Empat, pihak kedua diharuskan menjamin Lola sama seperti anaknya sendiri. Lima, sepeninggal pihak pertama, pihak kedua harus mengurus dokumen-dokumen yang menyatakan Lola sah menjadi anaknya di mata hukum. Enam, dikarenakan keluarga adik pihak pertama dalam hal ini Oik Cahya Ramadlani tidak ada lagi selain pihak pertama  dan Lola dan apabila pihak pertama sudah tidak ada dan Lola juga akan dialihkan hak asuhnya pada pihak kedua, maka Oik di wajibkan menggantikan pihak pertama sebagai Ibu dari Lola atau dengan kata lain menikah dengan pihak kedua...,”
“APA?!,” Cakka dan Oik sama-sama kaget, mereka melotot sejadi-jadinya lalu secara bersamaan berdiri.
“Sabar dulu Pak Cakka, Bu Oik, proposal ini belum selesai dibacakan, bisa bertanya setelah proposal ini selesai dibacakan,” kata Pengacara menenangkan Cakka dan Oik.
Cakka dan Oik duduk kembali sambil sesekali mencuri pandang dan bergidik ngeri membayangkan yang tadi diucapkan oleh pengacara.
Pengacara pun melanjutkan membaca proposal tersebut, “Tujuh, apabila pihak kedua melanggar atau tidak mau menuruti proposal ini, maka sesuai kesepakatan pihak kedua harus menempuh jalur hukum karena perbuatannya pada pihak pertama, delapan proposal ini juga adalah wasiat terakhir dari pihak pertama apabila nantinya terjadi hal yang tidak diinginkan, demikian proposal ini dibuat dan diresmikan di Jakarta sesuai dengan tanggal yang tertera pada awal proposal dan dengan dihadiri oleh saksi-saksi yakni, Nona Alyssa Saufika Umari yang adalah pegawai kantor advokat beserta Nyonya Khasanah saksi dari pihak pertama, segera setelahnya berturut-turut penghadap, saksi-saksi selanjutnya advokat membubuhkan tanda tangan di atas proposal ini, di langsungkan dengan tanpa suatu perubahan apapun, tertanda penghadap Nyonya Sivia Azizah, saksi satu Nona Alyssa Saufika Umari, saksi dua Nyonya Khasanah, dan advokat saya Mario Stevano Aditya Haling, selesai, ada yang mau bertanya?,” Pengacara itu selesai membacakan proposal yang diajukan Sivia, dan menghadapkan map itu kepada Cakka dan Oik untuk dilihat dan dibaca.
“Pak, kenapa Kak Sivia mewasiatkan saya untuk menikah dengan dia?,” tanya Oik sambil menunjuk Cakka.
“Saya tidak tahu hanya almarhumah yang tahu, yang pasti ini adalah wasiat terakhir sepatutnya dipenuhi oleh anda berdua,” kata Pengacara.
Cakka membaca berulang kali proposal yang ada dihadapannya itu, dia shock berat. Sekarang dia berhadapan dengan dua pilihan yang sangat sulit. Mengabaikan proposal ini yang pasti dia akan masuk penjara dengan rentang waktu yang sangat lama, atau menerima proposal ini menjadi ayah sekaligus mempunyai calon isteri yang ada di sampingnya itu diusianya yang masih muda? Dia belum 20 tahun. Kuliahnya belum selesai dan harus menjadi ayah? Yang benar saja?
Dua-duanya sama-sama akan mengekang kebebasan masa mudanya. Dan dua-duanya tetap akan merusak nama baiknya. Cakka si pembunuh atau Cakka yang punya anak di luar nikah haduh. Dua-duanya sangat membingungkan. Kenapa Sivia memberinya proposal seperti ini? Ini sangat konyol. Tapi dia telah berjanji pada Sivia dan Sivia sudah meninggal, dia berhutang pada Sivia.
“Bagaimana Pak Cakka? Jika setuju silahkan tanda tangan persetujuannya di bawah sini, beserta anda Bu Oik,” kata Pengacara.
“Hah? Dengan saya?,” tanya Oik sambil mengerenyit.
“Ya, soalnya nama anda tercantum di sini,” kata Pengacara.
Cakka dengan ragu mengambil pena dari dalam sakunya. Tangannya terasa kaku hanya untuk menorehkan tinta hitam di atas proposal tersebut. Setidaknya, kalau pembunuh sampai mati dia akan dicap orang-orang sebagai pembunuh, tapi kalau seseorang yang punya anak di luar nikah sekarang sudah agak lazim dan apabila dia menikah dengan Oik nanti cap itupun hilang. Tapi dia tak bisa membayangkan kalau harus menikah dengan Oik, seseorang yang tidak dikenalinya secara pribadi, bahkan tanpa cinta dan diusianya yang masih muda seperti ini. Cakka menarik napasnya sebelum akhirnya menorehkan tanda tangannya di atas materai 6000 pada proposal tersebut.
Pengacara itu menyodorkan proposal itu kepada Oik untuk ditandatangani, Oik meraih pena dan menandatangainya dengan hati-hati, setelah selesai Oik menghela napasnya dalam-dalam. It's gonna be a disaster...


Baca Selengkapnya >>>

Rabu, 25 April 2012

Flirting Message [One Shoot Story]

Flirting Message
“Gue tahu ada sesuatu didalam hati lo yang lo sembunyiin... Hm, lo perlu coba yang satu ini,” Katanya sambil menulis sesuatu diatas origami, kemudian melipat origami tersebut berbentuk bebek-bebekan kertas.
Aku mengerenyitkan dahiku, berusaha meminta penjelasan kepadanya...
Dia segera menyerahkan origami ketelapak tanganku, “Tulislah masalah, keluhan, harapan, cita-cita atau apapun yang sedang berkelebat didalam hati lo diatas origami, terus bentuklah bebek-bebekan kertas dan kita sama-sama lepaskan mereka didanau, biarkan bebek-bebek itu bebas lepas tanda masalah atau keluhan lo bebas lepas, tapi jika itu harapan atau cita-cita yakinlah bebek-bebek itu pergi untuk kembali dan membawamu menggapainya,”
“Kenapa harus bebek? Kenapa nggak perahu seperti Kugy di novel perahu kertas? Kenapa nggak roket seperti film-film? Atau kenapa nggak diterbangkan lewat balon agar mencapai langit dan membawanya kepada Tuhan?,”
“Sebenarnya apapun bentuknya tetap satu tujuan melegakan. Bebek. Hm karena bebek itu adalah salah satu hewan dan hewan itu makhluk hidup, makhluk hidup ciptaan Tuhan, tidak seperti perahu, roket ataupun balon yang hanya merupakan ciptaan manusia, meski kita hanya membuat bebek-bebekan, dan kita ini manusia, akan lebih senang bila kita menjadi follower Tuhan bukan manusia, kau mau coba, Oi’oi?”
Itu... Terakhir kali kita bertemu... Dan hari itu berhasil mengubah segala hipotesisku tentangmu... Yang selama ini salah kusadari...

Prolog

“Oik!,” Bentak sebuah suara. Aku tersentak kaget mendengar suara tersebut. Suara guru fisika ku yang paling killer, bu Cintani. Aku hanya bisa menunduk tanda malu.
“Masa soal segampang ini kamu tak bisa menjawabnya?... Kau tahu ibu sudah mengulang pelajaran ini sebanyak tiga kali pertemuan, masa kamu tidak bisa juga? Makanya kamu jangan sibuk dengan tulisan-tulisan tak jelas yang kamu buat! Perhatikanlah apa yang ibu ajarkan! Ya sudah, kamu berdiri dipojok papan tulis dan Cakka boleh kamu kerjakan soal ini? Biar anak ini melihatnya!,” Kata bu Cintani.
Akupun dengan langkah gontai menuju pojok papan tulis dan berdiri disana. Seorang cowok dengan mata hazel dibalik kacamata minus tebalnya, rambut yang disisir sangat rapi, kerah baju yang dikancing sampai kebagian teratas, celana panjang abu-abu kaki kuda, dan sepatu kets biasa tidak ada bermodel dan tidak bermerk. Dari penampilannya aku yakin kalian semua sepemikiran 'dia ini anak terpintar dikelas' dan dia sangat membuatku kebakaran jenggot. Bagaimana tidak? Okay, aku akui otakku memang standard dan susah untuk menyerap pelajaran apalagi berhubungan dengan angka. Aku juga heran kenapa aku mau-mau saja saat mama dan papa menyuruhku masuk kelas IPA. Yang pasti Cakka, dia adalah bencana bagiku.
Pertama.
Waktu itu aku diberikan soal sama bu Nata, guru bahasa inggris untuk membuat kalimat positive tag-question. Dan memang dasarnya otakku lagi stuck karena baru putus dari pacarku yang seligkuh sama anak SMP. Jadinya, aku tidak bisa menjawabnya. Eh, Cakka langsung nyelonong menjawabnya.
“This is your ruler, is'nt it?”
Dari situ, bu Nata langsung memarahiku habis-habisan, mengangkat Cakka setinggi mungkin, menyuruhku supaya rajin belajar seperti Cakka. Yah, pokoknya sangat-sangat-sangat menjatuhkanku! Huh!
Kedua.
Dia mempermalukanku pada saat pelajaran kesukaanku bahasa indonesia. Padahal dia tahu kan kalau aku hanya bisa menonjol dipelajaran ini.
Saat itu, kita disuruh bu Annisa membacakan cerpen karangan kita didepan kelas. Aku dengan sangat percaya diri maju kedepan kelas dan membacakan cerpen yang kubuat. Setelah selesai membacakannya, saatnya teman-teman berkomentar, bu Annisa menunjuk beberapa teman-teman untuk berkomentar dan sebagian besar menyukai alur, plot dan gaya bahasa yang aku gunakan. Yang terakhir kali berkomentar adalah Cakka.
“Maaf sebelumnya, ceritanya memang bagus, tapi ada satu yang kurang yaitu rasa, nggak tahu kenapa aku nggak ikut menikmatinya, selain itu sependengaranku banyak kesalahan kata dan kaprah, misalnya mengernyit seharusnya mengerenyit, terus kenapa harus tak bergeming? Bukannya bergeming artinya berdiam, cocok kah kalimat berikut 'dia tak bergeming sedikitpun, hanya bisa menghadapi kenyataan pahit didepannya' agak rancu, ya itu sangat menganggu,”
Begitulah, aku sedikit tidak terima! Dan ingin melihat bagaimana karyanya. Siapa tahu lebih parah dariku. Namun, setelah dia membacakannya, aku tak bisa banyak protes. Sungguh! Sastra yang indah. Membuat nilainya lebih tinggi dari nilaiku. Awkward banget.
Tak cuma itu, masih banyak lagi kejadian yang berhubungan dengan pelajaran dan memalukan untukku karena Cakka! Apalagi guru-guruku yang sangat terlihat menyayanginya. Err.
Cakka maju kedepan dan tak sampai lima menit dia sudah menyelesaikan soal fisika yang super duper triple panjang rumusnya. Perasaanku berubah tidak mengenakan. Pasti sebentar lagi...
“Oik! Kamu lihat Cakka,” Kata Bu Cintani. Nah benar kan. “Kamu contoh Cakka, bisa nggak kamu jadi anak yang rajin belajar, peduli sama pelajaran-pelajaran sekolah... Blablabla,” Bu Cintani mulai dengan celotehanya yang membuatku muak dan hanya bisa memainkan bola mataku.


Baca Selengkapnya >>

Minggu, 08 April 2012

Return Back With the Rise [One Shoot]

Return Back With the Rise
Terbit yang kunantikan kembali…



Dengannya aku bisa melihat indahnya mentari yang sedang terbit, dengannya aku tahu ternyata pergolakan mentari itu tak sesederhana yang ku kira, dengannya aku bangkit dan berjuang, dengannya aku bangun dari tidur panjang dan memulai hari baru tanpa perlu tidur kembali, dengannya duka menjadi suka, dan dengannya rindu ini terobati...
Ya... Dia, dia bagaikan bintang timur yang baru terbit dan bagaikan fajar yang tengah merekah dihatiku...

** *
Prolog

Bondi Beach, New South Wales.
Keadaan menjelang pagi itu tampak sunyi dan sepi. Yang terdengar hanyalah deburan ombak seakan mengiringi sang fajar untuk segera bangun dari petidurannya. Sepasang kaki menyusuri pasir putih pantai itu. Matanya menatap lurus kearah langit yang masih berwarna kelabu. Dia mengarahkan kedua tangannya keatas kemudian menghirup udara sejuk pagi itu. Mencari ketenangan akan kegundahan yang ada didalam hatinya. Memanjatkan doa kepada pencipta langit dan bumi.
“Semoga kau tenang di alam sana… terima kasih atas pengorbananmu, akan kujaga selalu setiap hembusan nafas dan degupan jantung ini hanya untukmu,”
Dikeluarkannya sebuah harmonika dari dalam sakunya. Mengingatkannya pada seseorang saat mentari terbit dan saat bintang mulai bersinar. Diapun mulai meniup harmonika itu, sehingga nada indah mengalun. Dia mulai menutup matanya, dirinya mulai terhanyut didalam nada-nada indah itu. Semakin dalam dan lebih dalam lagi. Air matanya mulai mengucur, dadanya seakan sesak. Masa itu, tak akan pernah kembali lagi. Tak akan, semuanya telah berlalu menjadi keping-keping dan puing-puing yang hancur lebur. Karena dirinya sendiri yang menghancurkannya. Dia tak sanggup lagi untuk meniup harmonikanya. Harmonika itu jatuh diatas hamparan pasir putih disusul lututnya kemudian kedua tangannya menggenggam pasir putih. Dia menarik nafasnya dalam-dalam, setiap tarikan nafasnya bayang-bayang masa lalunya selalu menghantuinya. Dia tak sanggup lagi…
“Wish you were here,” Katanya dengan nada lirih.
Diiringi mentari yang menampakan sinarnya dengan malu-malu. Teringat akan dia kembali…

Jumat, 23 Maret 2012

Cakka on CB (23-03-2012)

Avatar Cakka hari ini menggemparkan


Charming, Awesome, Kewl, Kind-hearted, AMAZING!


Tadi kan pas lagi online tapi sibuk dengan post-an cerpen di FB ._. pas buka tweetdeck ngeliat Cakka ngetweet dia on CB... langsung deh tak klik urlnya dan nyambung ke CB. Pas di CB dimarahin (?) CC karena lagi main ternyata :O ... jadinya diulang lagi mainnya. Main kabur begitu (kata bersambung) dimulai dari list OL yang pertama... dan lotaugak seeeh list OL saya dibawah Cakka loh :3 /plak


udah nunggu nih lama-lama akhirnya Cakka bilang fail... udah gak jadi main malah ngabsen... dan *sujud syukur* CAKKA NYEBUT NAMA SAYA DI CEBEEEEE KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAA


selanjutnya Cakka malah gombal-gombalan... dan gombal-gombalannya itu bikin saya ketagihaaaaaannn AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA Cakkaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahh #lebay -_-v


Cakka kan awalnya suruh matiin lampu dikamar... trus #CakkaSaid "Untuk apa? hm, coba kalian bayangin satu-satunya sinar laptop/komputer ini itu adalah sinarku... kenapa? biar kalian tahu seberapa kuat sinar cintaku buat kamu... kamu... kamu ;)"

ADUUUUUUUUUUHHHH CAKKAAA AAAAHHHH


"Kalian tau iPod kan? okay.. aku itu iPod loh.. Karena aku akan selalu ada dengan nyanyian alunan lagu harmoni merdu disaat kalian sepi :p"


"Bulan selalu menderang disaat malam hari karena rembulan purnama lah satu satu nya cahaya/sinar yg begitu kuat di saat malam hari... Begitu juga aku.. aku akan menjadi cahaya/sinar yg kuat disaat kalian terlelap dalam kegelapan. entah kalian sedang kesepian nan sunyi ataupun duka dan sedih :-)"


"Usai Hujan Menderas Pelangi Datang, Matahari Pun Terangi Hari Hari...."AKU=aku akan memilih pelangi dibanding hujan dan mentari.. karena pelangi disaat hujan usai, dan disaat mentari datang... adi dalam kondisi apapun.. senang/sedih aku akan selalu jadi teman kalian yg setia apapun kondisi nya

Aiiihhhh.... saya ketagihan dah u,u

tapi akhirnya Cakka harus off dan mengucapkan...


see u all........... luv u CL's wait ya #TFTbyeeeeeeeeeeee


Sabtu, 17 Maret 2012

Stay Here With the Cloudy [One Shoot]

Stay Here With the Cloudy
Dibalik mendung ada penantian…

(2nd Sequel of Gone With the Wind)

Dibalik tawa renyahnya ternyata ada mendung. Dibalik gembira riangnya ternyata ada mendung. Dibalik senyum hangatnya ternyata ada mendung. Meski mendung menyelimutinya, dia tak lantas hanyut didalam mendung. Dia terus meyakini bahwa suatu saat mentari akan datang menyinarinya sehingga dia tak terus-terusan mendung.
Ya, Dia. Dia yang mengajarkan dan memberitahukan kepadaku bahwa tak selamanya mendung itu kelabu.

***
Prolog

Sengatan mentari tertutup awan, langit seketika berubah menjadi kelabu, hujan hampir saja turun ketika seorang gadis memasuki area sebuah kantor. Gedung kantor itu menjulang tinggi, berdiri kokoh. Tak beberapa lama setelahnya, dia sudah bersama seorang wanita berjalan menyusuri setiap lantai marmer. Hingga tiba disebuah ruangan yang didepannya terpajang sebuah papan bertuliskan Directur. Setelahnya, menyuruhnya untuk masuk kedalam. Dan wanita itu meninggalkannya sendirian.
Ditatapnya, daun pintu ruangan tersebut. Sebelum menyiapkan mental masuk kedalamnya, dia menelan ludahnya. Rasa gugup, takut melebur dalam dirinya. Diapun menarik nafasnya dalam-dalam lalu mencoba membuka pintu ruangan tersebut. Belum sempat disentuhnya, pintu itu sudah bergeser sedikit. Samar-samar dia mendengarkan suara gaduh dari dalam ruangan.
…Hei Fy… please aku gak mau kalau kita putus…
…Aku salah apa sih Fy?...
…Hahaha… apa mungkin ada lelaki lain? Siapa dia? Cari masalah denganku…
…Apa? Bukannya kamu yang egois? Kamu kan yang memutuskan sebelah pihak…
…Please, Fy…
…Hallo… Ify… Ify… Jangan tutup teleponnya…
…Ify… IFYYYYYYYY…
Bruuuuukk---, Kemudian terdengar sebuah benda berbunyi sangat keras, bunyi hantaman sesuatu pada tembok sebelum jatuh berkeping-keping. Sepertinya, lelaki yang ada didalam ruangan itu mencampakan ponselnya.
Seketika wajah gadis itu berubah pucat, dia makin takut untuk masuk kedalam, haruskah dia masuk kedalam menemui ‘calon atasannya’ itu dalam keadaan seperti itu? Tidak mungkin! Tapi bagaimana dengan pekerjaannya? Hari ini jadwal interview, dia tak mau gagal untuk kesekian kalinya. Bagaimana dengan mimpinya? Sementara gadis itu bertengkar dengan batinnya. Tak disangka, pintu terbuka dengan sangat kasarnya. Seseorang dibaliknya keluar, dan kaget mendapati seorang gadis yang tidak dikenalinya berdiri mematung didepan pintu.
“Untuk apa kamu berdiri disitu?,” Tanyanya masih terpengaruh emosi.
“Saya… saya Shilla pak,” Katanya gugup.
“Saya tidak bertanya nama kamu! Kamu tidak mendengarkan pertanyaan saya?! Abeng… Abeng!!!!!!,” Teriaknya.
Seseorang datang, lelaki dengan pakaian necis, sepertinya bawahan lelaki itu.
 “Bawa dia keluar dari kantorku!!!!!,” Usirnya.
“Tapi pak… saya ada jadwal interview dengan bapak disini,” Kata gadis itu.
“Tidak! Kamu tidak diterima dikantor ini… sekarang juga pergiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!!!! Dan bilang juga sama yang lain saya tidak menerima tamu hari ini!,” Katanya dengan emosi yang meluap-luap.

Senin, 05 Maret 2012

Behind the Scene #7

Masih pada ingat cerbung saya yang Behind the Scene? tadi malam saya diteror sama teman-teman CF untuk melanjutkan cerbung tersebut, jadinya setelah vakum beberapa lama saya akhirnya menulis cerbung itu kembaliiii.... yeaaay \m/ monggo dibaca...

***
Don’t ever forget our memories when we were together…
Sebuah kertas dibaca Oik, kemudian dari belakang muncul Cakka sambil menyunggingkan senyum kearahnya. Cakka kemudian duduk disebelahnya.
“Oik jangan pernah lupakan kisah ini yah,” Kata Cakka sambil menatap Oik.
“Kenapa Cakka berkata seperti itu?,” Tanya Oik membalas tatapan Cakka.
“Entahlah, Cakka cuma gak mau aja, suatu saat kita saling melupakan,”
Cakka kemudian mengeluarkan sebuah kamera digital dari dalam ransel yang sedari tadi dibawahnya, “Kita foto yah,” Kata Cakka.
“Untuk apa?,”
“Untuk kenang-kenangan supaya kita selalu ingat akan satu dan lainnya,” Kata Cakka.
Oikpun mengangguk, mereka memperbaiki letak posisi masing-masing dengan beberapa pose. Setelah puas, Cakka mengulurkan tangannya mengajak Oik pergi dari situ.
Kala itu… sepulang sekolah, ditebing kebebasan, tebing yang dinamakan mereka berdua untuk saling mencurahkan isi hati lewat apapun itu, berteriak, menangis, tertawa sepuasnya tanpa ada yang melarang.

Minggu, 04 Maret 2012

Come In With the Rain [One Shoot]

Come In With the Rain
Hujan adalah jawabannya…

(Sequel of Gone With the Wind)

Dia berada dibalik hujan tanpa kuketahui. Dia datang bersama hujan tanpa kusadari. Dia meringkuk dibalik hujan tapi kuabaikan. Dia adalah gerimis yang menenangkan. Dia adalah rinai yang menyejukan. Namun, dia bukan hujan pembawa banjir. Bukanpula hujan pembawa bencana. Dia cukup menjadi rahasia yang terpendam selama bertahun-tahun. Dia cukup membuatku selalu menanti saat-saat datangnya hujan.
Ya, dia Rain. Rain yang tanpa kusadari selalu mengatakan, hujan adalah jawabannya.

***
Prolog

Kala kau termenung dibawah hujan…
Percayalah aku selalu ada didekatmu…
Kala kau tertawa dibawah hujan…
Percayalah aku selalu ada disampingmu…

Tersenyumlah, karena satu senyumanmu.
Adalah surgaku…

-Rain-

Tik… tik… tik… Rintik hujan mulai membasahi sebuah benda berwarna putih yang tertoreh bercak hitam. Gadis kecil yang menikmati kata demi kata untaian puisi yang dibuat oleh seseorang bernama ‘Rain’ itu, menyadari hujan kembali menyapanya. Dilipatnya kertas itu, kemudian mencari tempat perteduhan. Tak jauh dari situ ada sebuah pondok kecil seolah memanggilnya untuk bernaung dibawahnya. Dengan langkah seribu dia menuju pondok kecil itu. Setelah tiba disitu, dia segera duduk dibawahnya.
Lipatan kertas itu kembali dibukanya, namun sayangnya angin datang menerbangkan kertas itu. Terbang menjauh dari tangan gadis kecil yang memegangnya. Gadis itu, hanya menatap pasrah kertas tanpa bisa berbuat banyak. Kertas putih itu terbawa angin dan jatuh tepat dibawah kaki seorang lelaki kecil yang umurnya seumuran dengan gadis kecil itu. Diambilnya, kertas itu kemudian dia mengambil langkah menuju kepondok kecil tempat gadis itu bernaung.
Mata teduhnya menatap gadis kecil itu dan menyerahkan kertas putih itu kepadanya.
“Terima kasih,” Ucap gadis kecil itu dengan matanya yang berbinar dan senyumnya yang polos.
“Sama-sama,” Kata lelaki kecil itu sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam kantongnya. Sebuah lipatan kertas yang mirip dengan tadi. Menyerahkan lipatan kertas itu pada sang gadis kecil, “Bukalah setelah kau tiba dirumah,” Lanjutnya.
Sang gadis kecil itu menatapnya dan mengangguk.
“Kak, ayo sini,” Panggil anak lelaki itu bersama hujan yang mulai mereda kepada lelaki kecil yang usianya lebih tua setahun dari mereka. Lelaki itu berdiri tak jauh dari mereka tersenyum lalu berlari dengan riang kearah mereka berdua.


Baca Selengkapnya>>>