Jumat, 17 Februari 2012

[My Opinion] Sinetron Putih Abu-abu hanya menjual nama Blink? :O

Hello blogger,

Kemarin saya melihat traffic statistik blog saya ternyata diramaikan dengan key search Blink-Putih abu abu dan traffic site melonjak tiba-tiba karena itu. It’s okay maka saya berniat membuat postingan baru tentang itu -_-.

Memang sih, ada sinetron yang judulnya Putih abu-abu dan ditayangin setiap hari di SCTV. Pemerannya utamanya ada salah satu anggota Blink yaitu Febby, dan Febby memang karirnya didunia entertaiment bermula dari seni peran bukan olah vocal.

Ini sinopsis Putih abu-abu:


NINA adalah seorang gadis asal Yogyakarta yang baru saja kehilangan Riska, ibunya, untuk selamanya. Pesan terakhir sang bunda, Nina harus menemui seseorang yang bernama Taufik di Jakarta.
Menurut Riska, hanya Taufik yang bisa menolong Nina. Karena Hikmal, om Nina, tidak bisa diandalkan. Sehari-harinya Hikmal menghabiskan waktu dengan mabuk dan berfoya-foya.
Masih dirundung kesedihan, Nina mengikuti amanat ibunya untuk pergi ke Jakarta. Di ibukota, Nina diterima dengan baik oleh Taufik. Sayang, tidak demikian dengan Monica, istri Taufik. Monica sangat tidak menyukai kehadiran Nina di rumah itu. Monica tahu bahwa Nina adalah anak dari Anwar, sahabat Taufik yang dulu pernah memberikan modal usaha untuk Taufik.
Tak cuma di dalam rumah, Nina juga harus berhadapan dengan murid yang membencinya ketika berada di sekolah. Hari-hari Nina semakin terasa berat dengan banyaknya orang yang memusuhinya.

Dari sinopsisnya aja ini sinetron sudah terasa Klise. *piss*. Tapi banyak orang yang mengunggulkan sinetron ini… kenapa? Mungkin karena mengambil Blink sebagai karakter tokoh. Tapi toh, hanya Febby yang sering nongol sedangkan anggota Blink seperti Shilla, Ify, Pricilla dan Sivia seperti figuran begitu, berasa sinetron ini hanya memakai BLINK agar lebih komersil di publik, tapi nyatanya lebih banyak menampilkan adegan lollipop gb yang gak jelas itu. Awalnya, sebelum sinetron ini ditampilkan banyak yang menjagokan sinetron ini. Tapi pas penayangannya ternyata tak sedikit juga yang kecewa akan sinetron ini. Karena banyak kekerasan, dan bertaburan pemeran antagonisnya. Yang saya tidak suka dari sinetron Indonesia ya, itu… bertaburan pemeran antagonisnya, dan bukan mendidik malah mengajarkan yang salah. Masih banyak kan ide-ide kreatif membuat konflik bukan dengan kejahatan-kejahatan? Ataukah ide cerita dan penulis skenarionya yang tidak pernah berkembang? Perlu saya yang menulisnya *eh* *kaborrrrr*… Apalagi ceritanya tentang masa putih abu-abu masih lebih baik apabila sinetron ini menceritakan perjuangan sebagai seorang pelajar tapi tidak mengesampingkan kata-kata ini cintaku bersemi diputih abu-abu, kan lebih baik Nina itu pas nyampe Jakarta berprestasi trus dikirim ikut-ikut lomba dan dilomba itu dia bertemu dengan prince charmingnya, lebih baik menceritakan bagaimana seorang anak menghadapi lika-liku masa SMA, dan cerita indah dibaliknya, daripada kekerasan-kekerasan dalam rumah tangga dan dalam lingkungan sekolah bukan? Nanti bisa jadi cerita ini ngawur kayak sinetron Cerita SMA, dan akhirnya menjadi Cerita Anak Bayi ketika Baim masuk kedalamnya.

Jujur saya Cuma nonton putih abu-abu seri pertamanya langsung ilfeel sama ceritanya, apalagi ada rumor ‘plagiat’ dicerita sinetron ini. Ya, menurutku gimana gak mau dibilang begitu kalau ceritanya Klise kayak gitu :p. Udah deh gak pernah nonton sinetron itu sampe sekarang. Mendingan saya youtube-ing nonton A Walk to Remember huaaaa, meski tak lebih bagus dari novelnya tetap ceritanya menyetuh sayaaaaa… *oke sudah out of topic.

Yang pasti, bukan mau nyari kontroversi atau semacamnya saya Cuma menjejakan pendapat saya disini :p

Sekian,
Sankyu^_^
Fhily.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar