Sabtu, 04 Februari 2012

An Unforgettable Walk - One shoot

An Unforgettable Walk
“Tak akan ku lupakan”

                Oik menatap punggung Cakka, ketika lelaki itu baru saja berlalu dari hadapannya. Perlahan punggung itu semakin menjauh hingga hilang dibelokan koridor sekolah. Kedua sahabatnya, Ify dan Acha hanya bisa menggelengkan kepala. Mereka tak paham dengan sikap Oik.

                “Ik, sampe kapan kamu mau aja dibully sama Cakka? Sadar dong Ik, Cakka sudah sangat keterlaluan sama kamu,” Kata Ify.

                “Iya Ik, kita tahu kamu sayang sama dia, kita tahu Ik, tapi kita heran banget kenapa kamu bisa jatuh hati dengan orang seperti dia?,” Tanya Acha.

                Oik menghembuskan nafasnya, memungut kembali satu per satu buku-bukunya yang berserakan dilantai, karena Cakka.

                “Cinta kan gak butuh alasan, dan cinta itu bukan hal menerima tapi memberi,”

                “Kenapa kamu gak jujur sama Cakka kalau ----,” Kata-kata Ify dipotong Oik.

                “Gak, gak semudah itu, aku mau kalian jaga rahasia ini sampe saatku tiba nanti,”

                Ify dan Acha heran dengan maksud perkataan Oik. Sedangkan, Oik melengos meninggalkan mereka berdua yang kebingungan dengan perkataan Oik tadi.

***

                Suasana laboraturium kimia tampak gaduh, Siswa-siswi yang baru masuk kembali setelah liburan semester ganjil tampak sibuk memakai jas laboraturium, mencari  tempat duduk atau sekedar bercerita satu dengan yang lain. Keadaan berubah sejenak ketika Bu Winda memasuki laboraturium. Semua tampak hening termasuk Oik dan kawan-kawan. Oik yang duduk disebelah Acha menghentikan aktivitasnya sejenak. Cakka masuk beberapa menit setelah Bu Winda dikelas. Dia tampak cuek dan langsung duduk diujung belakang bersama-sama Ray.

                “Baiklah anak-anak ini merupakan hari pertama bagi kita masuk dengan semester genap, dan artinya tak lama lagi kalian kelas senior akan meninggalkan sekolah ini. Bagaimana liburan kalian? Menyenangkan bukan?,” Tanya Bu Winda.

                Kelas gaduh kembali, masing-masing menceritakan pengalaman mereka bersamaan dan entah siapa yang harus didengar.

                “Okay Class, Tenang! Dengarkan ibu. Di hari pertama ini kalian akan duduk sesuai dengan sitting arrangement yang ibu buat secara random, dan ibu akan bacakan,”

                “Owhhh…….,” Kelas nampak kecewa.

                “Dibangku paling depan, Ahmad Fauzi dan Larissa Arif… di bangku setelahnya, Cakka Nuraga dan Oik Cahya, selanjutnya …………………,” Bu Winda membacakan sitting arrangement, setelah membaca siswa-siswi segera duduk ditempat yang ditentukan. Oik berjalan perlahan kearah bangku yang akan dia duduki, disana sudah ada Cakka. Ini seperti mimpi yang indah dia bisa duduk sebangku dengan Cakka. Namun, melihat senyum jahil khas  Cakka itu artinya ini juga sekaligus mimpi yang buruk.

                “Dihari pertama ini, ibu tidak memusingkan kalian dengan reactan, sistem periodik unsur, oksidasi-reduksi dan lain sebagainya, ibu ingin kalian nyaman dikelas ini dan sebagai partner sebangku kalian selama kurang lebih enam bulan kedepan kalian juga harus punya chemistry agar bisa bekerja sama dengan baik. Sekarang, tulis cita-cita kaliaan diselembar kertas, bebas berimajinasi, lalu tukarkan pada teman sebangku kalian nanti teman sebangku kalian akan membacakan apa yang kalian tulis,”

                Siswa-Siswi segera melakukan mandat dari Bu Winda itu, termasuk Cakka dan Oik. Setelah semua selesai, Bu Winda menyuruh Ozy menjadi orang pertama untuk membuka kertas Acha, lalu Acha, Oik, Cakka dan selanjutnya sampai semua siswa dikelas.

                “Acha ingin jadi perawat disebuah rumah sakit, di California,”

                “Ozy ingin jadi pemain bola terkenal seperti Christiano Ronaldo,”

                Tiba giliran Oik membuka dan membacakan apa yang ditulis Cakka, matanya tiba-tiba membulat dan membesar melihat isi kertas tersebut.
 “Get french kiss and making love with you”
                Oik menggigit bibirnya sambil menelan ludah membaca apa yang ditulis Cakka. Haruskah dia membaca tulisan ini?

                “Oik?,” Bu Winda menegur.

                “Eh, iya bu…,” Oik melirik kearah Cakka yang sedang tersenyum nakal kearahnya. Cepat-cepat dia memutar otaknya kemudian menjawab.

                “Cakka, wanna be a chemistry teacher, like you mam,” Kali ini mata Cakka berbalik melotot kearah Oik. Seisi kelas tersentak, dan memandang kearah Cakka dengan rasa tak percaya. Seakan mereka berkata woiii… Cakka yang berandalan tobat woiii… pengen jadi guru kimia…hahahaha…

                Sekarang Cakka melihat isi kertas Oik, membaca dan sekali lagi dia melotot kaget dengan apa yang ditulis Oik.
 “Aku ingin menikah, dan ayah berada disampingku berjalan menuju altar sampai ayahku menyerahkanku kepada calon suamiku”
                Kali ini Cakka yang menelan ludahnya. Ini cita-cita yang paling aneh yang dia pernah baca, tapi sepertinya kata-kata ini dejavu? Cakka menatap Oik dengan tatapan kamu-sadar-gak-dengan-yang-kamu-tulis.

                “ Cakka! Ayo bacakan,” Kata Bu Winda.

                Cakka membuka mulutnya. “Oik want to get married with me,” Seisi kelas tertawa mendengar perkataan Cakka. Bu Winda hanya geleng-geleng kepala. Dia tahu Cakka otak dari semua. Bu Winda lanjut menanyakan kepada yang lainnya sampai lonceng berbunyi dan kelas berakhir semuanya langsung keluar dari laboraturium.

                Cakka Nuraga adalah cowok dengan reputasi paling bobrok disekolah. Dia sangat liar dan berandalan kelas kakap. Entah berapa anak sudah dipukulinya disekolah maupun luar sekolah selama hampir 3 tahun dia bersekolah. Dia sangat suka membully orang-orang yang lemah dan tak berdaya. Dia ditakuti diseluruh sekolah, sangat ditakuti tak ada seorangpun yang berani melawan Cakka. Bahkan, pihak sekolah tak berani mengeluarkannya karena orangtua Cakka adalah donatur terbesar sekolah. Jadi mereka hanya menghukumnya paling tinggi skorsing selama beberapa minggu.
                Oik Cahya adalah gadis yang biasa-biasa saja, dia tidak menonjol seperti Cakka. Dia gadis berponi yang selalu menguncir dua rambutnya. Oik termasuk siswa yang pintar namun tidak sangat pintar. Dia gadis yang setiap hari jadi sasaran empuk Cakka. Namun Oik tak pernah menyimpan dendam pada Cakka. Tapi sebaliknya, Oik jatuh Cinta? Kok bisa? Oik memang jatuh hati pada Cakka bukan karena sifatnya yang berandalan. Namun, Oik beberapa kali memergoki dia –tanpa sepengetahuannya– sedang menolong anak anjing yang terluka, membantu nenek-nenek yang ingin menyeberang dan masih banyak lagi. Ternyata dibalik sifat berandalannya Cakka berbeda dengan anak lelaki pada umumnya. Itu membuat Oik jatuh semakin dalam pada pesona Cakka dan membuat dia yakin bahwa suatu hari Cakka akan berubah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar