Jumat, 10 Februari 2012

Something Like Fate (One Shoot)

Something Like Fate
“Selama dia bahagia, aku juga akan bahagia. Sesederhana itu.” – Autumn in paris

A
ku menutup sebuah novel indonesia Autumn in Paris yang baru selesai ku baca, seulas senyum terkembang dibibirku, tiba-tiba mataku terasa hangat, dan tanpa sadar sebuah cairan bening mengalir dipipiku. Bukan, ini bukan karena jalan ceritanya itu, melainkan kutipan kata-kata di epilog novel itu. Pembicaraan melalui e-mail antara Fujisawa Tatsuya dan Sebastien Giraudeau. Kata-kata itu sangat menyentuh hatiku, membuat aku harus kembali memutar memori belakang otakku, mengenang sebuah kisah yang sampai saat ini masih terekam jelas diotakku meski telah 3 tahun berlalu.

***

Cakka Kawekas Nuraga, 22 tahun, lumpuh, amnesia. Aku berjalan melangkahkan kakiku menyusuri koridor rumah sakit baru tempatku bekerja, ini pengalaman pertamaku menjadi seorang perawat setelah lulus dari akademi perawatan. Aku harap ini menjadi hari pertama yang menyenangkan. Ah, tadi aku baru saja membaca sebuah kertas yang ada ditanganku, itu data singkat pasien yang akan aku rawat. Sebelumnya, aku sudah berbincang-bincang dengan kepala rumah sakit ini. Dia menceritakan tentang pasien yang akan aku rawat itu. Dia korban kecelakaan mobil sebulan yang lalu. Mobil yang ditumpanginya bersama kedua orang tuanya di tabrak oleh sebuah truk. Akibatnya kedua orang tuanya meninggal, hanya dia yang selamat. Tapi, akibatnya dia hilang ingatan dan lumpuh. Parahnya lagi, dia adalah satu-satunya pewaris tunggal harta kekayaan milik orang tuanya. Jadinya, dia diminta pihak keluarganya untuk dirawat di rumah sakit ini sampai dia benar-benar sembuh dan bisa menjadi ahli waris. Nasib lelaki yang akan kurawat ini benar-benar seperti di sinetron-sinetron, mudah-mudahan saja tak ada peran antagonis seperti pihak keluarga yang dengan sengaja membiarkan dia dirawat disini agar bisa menikmati harta kekayaannya. Lagi-lagi aku mulai berfantasi dengan pikiranku sendiri, sampai sebuah suara mengagetkanku.

“Oik, kau tak apa? Apa kamu nervous?,” Tanya Sivia, seorang teman perawat yang baru kukenal beberapa menit yang lalu. Dia yang akan mengantarkanku ke tempat Cakka, pasienku itu.
Aku menggeleng ragu, Sivia tampak memperhatikan wajahku.

“Santai saja, akupun begitu saat pertama kali menghadapi pasien,” Katanya dengan senyum, sambil mengusap punggungku.

Aku mengangguk membalas senyumannya. Selain berfantasi, sebenarnya kalau boleh jujur aku benar-benar nervous menghadapi pasien pertamaku. Kami terus melangkahkan kaki menyusuri koridor rumah sakit, sampai kami tiba di depan pintu sebuah kamar VIP. Sivia berhenti, aku juga ikut berhenti. Dia membalikan badannya kearahku.

“Kau siap?,” Tanyanya.

Aku menghela nafas panjang, mencoba merelaksasi pikiranku dengan mata terpejam selama beberapa detik kemudian mengangguk.

“Ya, aku siap,” Kataku tegas.

“Baiklah, ini kamarnya, masuklah… kau bisa masuk sendiri kan? Aku masih punya tugas lain, ini daftar tugasmu selama kau jadi perawatnya,” Kata Sivia sambil menyerahkan sebuah map kepadaku. Aku segera mengambilnya.

“Iya, terima kasih,”

“Sama-sama, selamat bertugas,” Katanya menepuk pundakku kemudian berlalu dari hadapanku.

Aku menatap pintu kamar VIP rumah sakit ini, yang ada dihadapanku saat ini. Pintu kayu, catnya berwarna coklat dengan gagang pintu berwarna gold seakan menantangku untuk masuk kedalam. Perlahan akupun memutar gagang pintunya, menggeser, setelah punya sedikit ruang untuk tubuhku menyusup kedalam aku segera membuang langkahku dan menggerakkan tubuhku untuk menyusup melalui ruang kecil itu. Setelah tubuhku berada didalam kamar, aku dengan segera menutup pintunya kembali.
Ku lepaskan pandanganku menyusuri ruang tempat aku berdiri saat ini. Ini tidak terlihat seperti kamar rumah sakit, jika saja ruangan ini tanpa ‘bau khas rumah sakit’ dan ranjang tempat tidur pasien diganti dengan masterbed pasti terlihat seperti suite room hotel-hotel berbintang lima. Akupun melangkah mendekati ranjang, diatas terbaring seorang pria dengan pakaian khas pasien rumah sakit ini. Langkahku semakin dekat dengan ranjang tempat tidur pasienku itu. Ketika tepat berada disamping ranjang, ku tatap wajahnya lekat dan akupun terpekik. Oh My God!! Wajahnya tampak seperti dewa yunani. Alisnya yang membentuk sempurna, kelopak matanya tertutup dengan garis mata yang kentara, hidungnya yang mancung, bibirnya yang berbentuk dan membelah dibagian bawa, wajahnya oval agak berisi. Aku menggigit bibirku, tampang lelaki ini sangat menggoda iman. Ah, jangan sampai aku seperti tokoh Novi dalam novel here, after yang akhirnya jatuh cinta pada pasien gilanya dengan ending kisah yang tragis dimana pasiennya itu malah mati dan membunuh kepala rumah sakit tempatnya bekerja.

“Oke, Oik… berhenti berfantasi lagi, positive thinking please! Kamu disini untuk kerja, jangan selalu membayangkan adegan novel yang sering kamu baca… hupfh,” Aku berbisik pelan seolah menyugesti diriku sendiri mengendalikan detak jantungku yang entah kenapa berdebar kencang. Akupun segera membaca daftar tugas yang harus ku kerjakan selama menjadi perawat lelaki ini.

Sedikit tentang diriku, Namaku Oik Cahya Ramadlani cukup panggil aku Oik. Aku baru saja lulus dari akademi perawatan, dan tugas pertamaku menjadi perawat seorang lelaki bernama Cakka. Karena tugas pertama, jadi aku memang hanya merawat satu pasien dulu. Aku seorang booklovers terutama novel-novel romance. Aku suka karya-karya satra lama seperti Jane Austen (Pride and Prejudice), William Shakespeare (Romeo and Juliet), Vlamdir Nabokov (Lolita) tapi, tetap juga suka dengan karya-karya sastra modern seperti Nicholas Sparks (The Notebook), Stephanie Meyer (Twilight all series) dan masih banyak lagi novel-novel luar yang kusukai. Di indonesia banyak karya juga yang kusukai, banyak meremehkan tulisan penulis-penulis dalam negeri karena ‘katanya’ tidak bermutu. Tapi menurut aku, banyak tulisan anak-anak bangsa tak kalah bagusnya. Yah, memang ada sebagian yang tidak memenuhi standar. Dan faktanya yang meremehkan tulisan-tulisan anak-anak bangsa itu orang indonesia sendiri, tapi tak dapat dipungkiri juga kan mereka ingin menjadi penulis juga. Bukankah karya kalian juga akan menjadi karya anak bangsa?
Aku melihat daftar kerjaanku selama aku menjadi perawatnya. Begitu banyak, mulai dari membawa sarapan untuknya, memastikan dia minum obat teratur, membawanya untuk terapi, memastikan dia beristirahat dengan cukup, menemaninya selama yang dia mau, dan lain sebagainya. Yak, pekerjaan pertama yang sepertinya akan membuat aku  menghabiskan waktu bersama lelaki ini. Hupfh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar