Kamis, 03 November 2011

Marrying Aids




Andai Eri bisa memutar waktu, andai Eri menyanggupi penolakan Ji Hwan untuk ditangani olehnya dan mengabaikan saja kode etik dokter yang mengharuskan untuk sesegera mungkin merawat pasien yang terluka, mungkin Eri nggak perlu tertohok dengan kenyataan bahwa dirinya mengidap penyakit AIDS. Tapi toh hidup terus berjalan, kan? Sekuat apapun usaha Eri menolak, dia tetap tidak bisa menyingkirkan virus HIV itu dari tubuhnya. Dan apa rasanya menerima kenyataan pahit, ditempat yang bukan negara kita, dan nggak bersama orang-orang dekat kita?

Korea Selatan. Negara yang sangat disukai Eri ini malah menghantarkan berita buruk bagi hidupnya. Kembali ke Indonesia dan tetap beraktivitas seperti biasa juga tidak memberi jawaban bagi Eri, hatinya malah diliputi ketakutan akan menyakiti (menulari) orang-orang disekitarnya. Eri tidak membagi masalahnya pada siapapun, tidak juga pada Fre yang selama ini menjadi orang terdekatnya, alih-alih Eri malah pergi lagi ke Seoul dan mendatangi pangkal masalahnya: Ji Hwan. Eri beranggapan hanya Ji Hwan yang layak dekat dengan dia, toh karena Ji Hwan ia terkena AIDS, kan? Petualangan demi petualangan Eri alami di Seoul, ia berusaha untuk berhenti meratapi penyakitnya dan belajar untuk lebih menikmati hari-harinya. Toh kalau memang usia dihidupnya menjadi lebih pendek karena AIDS, ia harus bisa mencecap setiap rasa di sisa hidupnya, kan? Tinggal bersama Ji Hwan juga membuat Eri lebih bisa menilai pemuda yang dikenal angkuh itu, juga mendeteksi sikap kekanakan dibalik kearoganan Ji Hwan .


salah satu kutipan saat Eri menangani Ji Hwan yang tak mau disentuh oleh wanita...

“Bilang padanya aku akan menikahinya” jawab Eri karena sudah nggak sabar pada pasien anehnya itu. Eri pikir bercandanya pasien itu sudah kelewatan, jadi dia meladeni saja supaya operasi berjalan cepat. Hahaha, kocak abis waktu bagian situ. Tapi siapa sangka, itulah awal petaka bagi seorang Eri Andriana.

“Sirro!” Ji Hwan berteriak ngeri saat Eri mau ngoperasi dia.

“Dia bersedia menikahimu, itukan yang kau takutkan?” kata Kwon-woo, temennya Ji Hwan.

“Benar?” tanya Ji Hwan

“Kita akan menikah,” sahut Eri meladeni candaan pasiennya yang mulai keterlaluan.



Tapi itu semua bukan candaan. Jodoh datang padanya terlalu cepat. Begitu Eri sadar, dia udah masuk dalam kehidupan Ji Hwan si arsitek berbakat korea yang sombongnya amit-amit. Diperkenalkan kesana kemari sebagai calon istrinya.
Eri nggak punya pilihan lain, karena dalam tubuhnya ada bagian dari Ji Hwan. Dia dan Ji Hwan senasib, Eri hanya bisa bergantung pada Ji Hwan, bukan lagi pada keluarganya, bukan lagi pada Fre. Dan mereka memutuskan untuk tinggal bersama di Korea yang membuat banyak cewek penggemar Ji Hwan patah hati. Dan diam-diam, perasaan indah mulai tumbuh.


Hubungan yang aneh antara Eri dan Ji Hwan lama-lama menjadi keterbiasaan yang menimbulkan perasaan cinta. Bagi Ji Hwan, Eri adalah calon istrinya, sesuai ikrarnya sendiri untuk menikahi wanita yang 'menyentuh' nya. Bagi Eri, Ji Hwan adalah satu-satunya orang yang boleh ia 'andalkan', karena Eri nggak mau melibatkan  lebih banyak orang dalam masalahnya. Tapi bagi Kwon Woo, sahabat Ji Hwan yang mengetahui rahasia Ji Hwan, hubungan keduanya tidak masuk akal dan harus dihentikan jika memang AIDS adalah satu-satunya alasan dalam percintaan mereka.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar