Jumat, 12 Juli 2013

How sweet that is...

Kalau di lagunya Taylor Swift yang Begin Again ada lirik kayak gini "You pull my chair out and help me in, and you don't know how nice that is, but I do..."
Mungkin kisah saya nggak akan seromantis karakter fiksi yang saya buat sendiri. Gak akan ada yang nembak sambil ngebawain kertas karton yang ditulis sebuah puisi (atau pantun whatever) di atas kap mobil seperti di RED (but I hope one day, my story has beautiful in their own way) hahahaha #justdream. Tapi yang saya sadari sekarang romantis itu gak hanya hal itu. Bisa jadi sebuah hal kecil yang kemudian terasa begitu manis. Kalau lagunya Tay, cuma narik kursi aja bisa terasa manis. How about me?

Belakangan ini lagi alergi sama yang namanya "Falling in love." Karena saya sendiri sadar di usia saya yang sudah menginjak kepala "2". Hal itu bukannya harus dipikirin matang-matang? Gak mau lagi terjebak sama womanizer yang membuat kita terlihat bodoh. Gimana anda "mencintainya" tanpa memandang apapun. Tanpa memandang reputasi, masa lalu, atau bahkan apapun yang orang cap. Udah membela mati-matian dia di depan teman-teman dan lain sebagainya, malah apa yang dibalasnya? #oketinggalkanmasalalu.
Atau terjebak di dalam "Friends with benefit"? Hellowww, masih mau Fhil? Masih? Nggak lagi kan? Seriously, If you wanna do that again, I'll hate you Fhil. Oh-so-cruel. I'm confused.

Tapi bagaimana jika cinta itu tiba-tiba datang pada seseorang yang... err. Pernah nyatain perasaan sama kamu. Habis nyatain perasaan dia pergi gitu aja, tanpa kepastian.

I've been spending the last seven months
Thinking all love ever does is break and burn and end
But on a  Thursday in a boat
I watched it begin again.


Dan sekarang waktu bertemu kembali malah..... membuatmu menyadari kembali bahwa benih itu memang ada.

"You bring my bag and help me up, and you don't know how sweet that is, but I do."

Waktu itu lagi sibuk ngangkat tas, mama kan mau berangkat. Nah do'i juga mau berangkat bareng mama. Jadi setelah penyataan itu kita baru ketemu lagi hari itu. Sebenarnya yang mau berangkat bukan do'i, ada orang lain tapi nggak jadi. Tante malah gantiin jadi do'i yang berangkat.
Waktu saya ngangkat koper sama tasnya mama mau dibawa keatas. Saya ngangkat dua barang sekaligus, untung nggak terlalu berat, jadi bisa. Tapi baru beberapa langkah dia tahan tasnya trus otomatis saya terhenti. Saya lihat tangan siapa yang menahan tas saya ternyata do'i. Tapi nggak keluarin kata-kata apa-apa cuma senyum trus malah bantuin saya bawa tasnya. Kedua kali saya balik, do'i tanya "mau ngapain?" disitu tatap-tatapan mata (padahal sedari tadi saya nggak berani lihat matanya, karena saya tahu kelemahan saya). Trus saya bilang, "ambil koper,". Dia langsung bilang, "kopernya yang mana? nanti aku yang bawain."
Jadinya do'i yang bawa dan koper itu sungguh berat padahal.
Mungkin ini sesuatu yang biasa aja. Tapi.... entah kenapa hati saya tersentuh pas do'i ngelakuin itu. Terasa manis...
Saat saya ngeliat do'i keberatan bawain koper. Juga tas yang seharusnya saya yang membawanya. Itu tuh.... buat saya merasakan sesuatu yang bergetar-getar di dalam hati *ceilah bahasanya*.
Cuma saya nggak mau kejadian kayak dulu terjadi. Waktu saya sudah mulai membuka hati buat dia, tiba-tiba dia menghilang itu rasanya nyesss juga.

Dear God, don't make me fall in love with him, even I know now... I'm falling into.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar