Kamis, 11 Oktober 2012

THIS MISTAKE (CERPEN)


This Mistake
It was a mistake and always be a mistake

PROLOG.
OIK memandang banyak manusia yang lalu lalang sambil menyeret koper, dia baru tiba setelah perjalanannya yang melelahkan dari Jakarta menuju Yogyakarta. Jadi di sinilah dia, bandara Adi Sucipto, dengan langkah agak ragu dia menyeret koper keluar dari terminal 4. Hatinya semakin dag-dig-dug tak karuan kala mendengar alerts Blackberry Messenger miliknya. Dengan ragu dia merogoh Blackberry-nya dari dalam sakunya dan segera membuka tanda bintang pada logo BBM itu.

Cakka: Sudah sampai?
Oik: Sudah barusan keluar dari terminal 4
Cakka: Oke sip (y), aku ke sana skrg
Oik: Hm, masih ngenalin aku kan?
Cakka: Masih dong… aku tidak akan ngelupain kamu kok, kamu sendiri jgn2 sudah lupa sama aku?
Oik: Mungkin :p hehehehe
Cakka: Tengok ke kiri…

Ketika Oik mendapat BBM terakhir dari Cakka itu, Oik segera memalingkan pandangannya ke arah kiri. Berdiri lelaki jangkung dengan pakaian rapi, dadanya yang bidang, matanya menatap ke arahnya dengan sayu namun masih menghangatkan seperti dulu, kulitnya putih dan senyum tersungging di bibirnya. Dari jarak seperti itu, Oik bisa mencium bau khasnya. Masih sama seperti dulu. Oik terbuai dengan indera penglihatan dan penciumannya, kembali lagi memuja lelaki itu.
Cakka berjalan mendekat ke arah Oik dan Oik pun jadi salah tingkah. Entah apa yang harus dikatakannya saat ini. Sekedar hai atau bagaimana kabarmu? Itu tidak mungkin.
“Cakka,” akhirnya nama itu saja yang meluncur dari mulut Oik.
“Oik, lama tak bertemu,” kata Cakka ketika tiba di depan Oik dan menatapnya dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, “kamu masih seperti dulu,”
“Kamu juga,” kata Oik.
“Hm, ayo kita tak boleh berlama-lama di sini, banyak yang harus kita kerjakan,” kata Cakka segera mengambil alih koper Oik, membawakannya dan segera menggandeng Oik hendak menuju mobilnya tapi…
Ya Tuhan…sentuhan ini… masih terasa nyaman seperti dulu…
“Tunggu! Lo nggak ngelupain gue kan?,” seseorang yang sedari tadi mengekor di belakang Oik bersuara karena merasa diabaikan.
Oik hampir mengutuki dirinya sendiri hampir melupakan orang yang ada di belakangnya itu. Gara-gara Cakka, semuanya buyar. Dia benar-benar melupakannya. Tatapan gadis berumur 17 tahun berubah nanar ke arah Oik. Kemudian senyum setengah tersungging di sudut kiri bibirnya.
“Ah, sori, Cakka kenalkan… namanya Larissa, panggil saja Acha, dia—,”
“Gue Acha, adiknya Oik,” kata Acha mengulurkan tangannya menyalami Cakka.

***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar